Sektor Konsumer Tertekan Inflasi dan Kenaikan Bahan Baku, Perbankan Lebih Menarik

AKURAT.CO Stockbit melihat prospek harga saham beberapa emiten consumer staples berpotensi tertekan dalam jangka pendek.
Lead Investment Analyst at Stockbit, Edi Chandren menilai tekanan tersebut berasal dari dua hal: kenaikan harga beberapa bahan baku utama — seperti CPO, gula, gandum, dan kemasan — yang berpotensi menggerus margin emiten; serta inflasi akibat El Nino yang berpotensi menekan daya beli masyarakat.
Harga CPO, gula, dan gandum masing–masing telah menguat sekitar +8%, +19%, dan +16% dalam 1 bulan terakhir. Sementara itu, harga minyak global — yang menjadi basis harga kemasan plastik — juga bertahan di level tinggi di atas USD90/barrel.
Baca Juga: IHSG Kembali ke Level 6.500, Investor Cermati 3 Hal Ini
"Meski komposisi penggunaan bahan baku tersebut berbeda–beda untuk tiap emiten, secara keseluruhan kenaikan harga bahan baku menjadi sentimen negatif bagi emiten–emiten konsumer," ujar Edi dikutip Selasa (1/9/2026).
Di sisi lain, tekanan inflasi diperkirakan akan meningkat hingga akhir tahun seiring menguatnya intensitas El Nino, yang pada gilirannya dapat menekan daya beli dan membatasi ruang bagi emiten konsumer untuk meneruskan kenaikan harga bahan baku kepada konsumen.
"Meski kami memperkirakan pemerintah akan mengambil langkah untuk melindungi daya beli melalui penambahan jumlah bantuan, faktor inflasi ini menambah ketidakpastian bagi sektor konsumer," imbuhnya.
Mengacu pada estimasi konsensus untuk beberapa emiten konsumer, Stockbit melihat adanya risiko tidak tercapainya proyeksi laba bersih (earnings miss), terutama dari sisi margin laba kotor (lihat tabel).
Secara umum, proyeksi margin laba kotor konsensus masih mengimplikasikan margin yang lebih tinggi pada 2H26 dibandingkan 1H26, kecuali untuk Mayora Indah (MYOR).
Sementara itu, Indofood Sukses Makmur (INDF) memiliki segmen CPO dan tepung terigu (Bogasari), sehingga sedikit memberikan natural hedging.
Prospek saham sektor konsumer staple 3-6 ke depan agak melandai versi Stockbit
Perbankan Lebih Menarik
Dalam jangka pendek sekitar 3–6 bulan ke depan, Stockbit menilai sektor perbankan menawarkan prospek yang relatif lebih baik.
Hal ini seiring dengan kondisi likuiditas yang tidak seketat yang dikhawatirkan; mulai menguatnya momentum pertumbuhan kredit; serta tren kualitas aset yang terjaga.
"Di antara big 4 banks, preferensi kami jatuh pada Bank Negara Indonesia (BBNI) dan Bank Rakyat Indonesia (BBRI)," ujar Edi.
BBNI — telah membuat pencadangan yang konservatif selama 1H26 (+42% YoY), sehingga memiliki upside laba bersih dari sisi pencadangan yang lebih rendah pada 2H26.
Sementara BBRI — mulai optimisnya manajemen untuk kembali menumbuhkan segmen mikro dapat menjadi sentimen positif bagi BBRI, setelah mengalami de–rating valuasi yang paling signifikan di antara bank Himbara
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Prancis Terbuka: Ganda Putra Indonesia Menggila, Leo/Daniel dan Raymond/Joaquin Melesat ke Perempat Final
- 2Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 3Megawati Hangestri Dapat Julukan Baru dari Media Korea, Apa Artinya?
- 4Netanyahu: AS Akan Hentikan Bantuan Militer ke Israel, Tinggal Menunggu Waktu
- 5Prediksi Skor Napoli vs Roma 24 Oktober 2026: Derby del Sole Diprediksi Sengit
- 6Pemecatan Michael Carrick Mulai Disuarakan, Ada 'Monster' Sulit Dijinakkan di Tubuh MU?
- 750 Contoh Ucapan Hari Santri 2026 Terbaru, Singkat dan Penuh Makna
- 8Hasil dan Klasemen Liga Champions: Como Tenggelamkan MU, Real Madrid Merangsek ke 3 Besar
- 9KPK Sita BMW Milik Richard Erlangga dalam Korupsi BNPB, Total Ada Empat Mobil
- 10KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot







