Akurat Logo

IHSG Kembali ke Level 6.500, Investor Cermati 3 Hal Ini

Esha Tri Wahyuni | 21 Agustus 2026, 12:34 WIB
IHSG Kembali ke Level 6.500, Investor Cermati 3 Hal Ini
IHSG dibuka menguat berkebalikan dengan tren di regional

AKURAT.CO Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) naik 33,99 poin (0,52%) ke level 6.535,575 pada perdagangan sesi I, Jumat (21/8/2026).

IHSG bergerak variatif dari batas atas di level 6.543 hingga batas bawah pada level 6.500 setelah dibuka pada level 6.501 pagi ini.

Sebelumnya sekitar pukul 09.00 WIB, IHSG berada di level 6.526,30, naik 24,71 poin atau 0,38% dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya di 6.501,59.

Baca Juga: IHSG Sesi I Ambruk 0,6 Persen ke 6.411,196

IHSG dibuka pada level 6.524,07. Indeks sempat bergerak ke level tertinggi 6.531,49 dan terendah 6.522,92 pada awal perdagangan.

Penguatan tersebut terjadi di tengah dominasi saham yang berada di zona hijau. Sebanyak 307 saham menguat, 101 saham melemah, sedangkan 555 saham lainnya stagnan.

Nilai transaksi pada awal perdagangan mencapai Rp307,1 miliar dengan volume 588,6 juta saham. Frekuensi transaksi tercatat sebanyak 47.950 kali.

Penguatan ini melanjutkan reli IHSG pada perdagangan Kamis (20/8/2026). Saat itu, indeks melonjak 107,46 poin atau 1,68% ke level 6.501,59.

Namun, kenaikan IHSG pada Jumat belum serta-merta menghilangkan risiko koreksi. Pasar saham domestik masih menghadapi tekanan dari faktor eksternal sekaligus menunggu sejumlah data ekonomi dalam negeri.

Salah satu perhatian utama investor adalah rilis Neraca Pembayaran Indonesia (NPI) dan transaksi berjalan kuartal II-2026 oleh Bank Indonesia (BI).

Data tersebut akan memberikan gambaran mengenai kondisi sektor eksternal Indonesia, terutama ketika pasar keuangan global masih menghadapi volatilitas akibat perubahan ekspektasi suku bunga Amerika Serikat dan meningkatnya risiko geopolitik.

Pada kuartal I-2026, NPI Indonesia mencatat defisit US$9,1 miliar. Sementara itu, transaksi berjalan mengalami defisit USD4 miliar atau setara 1,1% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Perkembangan transaksi berjalan menjadi penting karena investor juga memperhatikan kemampuan sektor eksternal Indonesia dalam menopang stabilitas rupiah dan arus modal.

Analis MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana memperkirakan ruang kenaikan IHSG dalam jangka pendek masih terbatas.

"Untuk Jumat kami perkirakan IHSG rawan terkoreksi dalam jangka pendek dengan support 6.482 dan resist 6.546, dimana diperkirakan investor mencermati rilis data neraca transaksi berjalan 2Q26," ujar Herditya dalam riset hariannya, Jumat (21/8/2026).

Dengan demikian, level 6.500 menjadi area yang kembali penting untuk diperhatikan investor.

Jika mampu bertahan di atas level tersebut, IHSG memiliki ruang untuk menguji area resistance berikutnya. Sebaliknya, tekanan jual dapat kembali muncul apabila indeks kehilangan momentum penguatan.

Dari pasar global, perhatian investor tertuju pada arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan pada kisaran 3,50%-3,75% dalam rapat 28-29 Juli 2026.

Namun, keputusan tersebut tidak menunjukkan pandangan yang sepenuhnya seragam di internal bank sentral AS.

Risalah rapat yang dirilis pada 19 Agustus menunjukkan tiga anggota The Fed berbeda pendapat dan menginginkan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin. 

Sejumlah pejabat lainnya juga menilai kenaikan suku bunga dapat diperlukan apabila inflasi tetap tinggi.

Kondisi tersebut membuat arah kebijakan The Fed untuk pertemuan berikutnya menjadi salah satu risiko bagi pasar saham global.

"Many" pejabat The Fed menilai suku bunga yang lebih tinggi dapat diperlukan apabila inflasi tidak kembali menuju target 2%. 

Reuters juga melaporkan peluang kenaikan suku bunga pada September masih terbuka, meskipun pasar belum sepenuhnya memperkirakannya sebagai skenario utama.

Bagi pasar negara berkembang seperti Indonesia, ketidakpastian suku bunga AS dapat memengaruhi pergerakan arus modal dan nilai tukar. 

Suku bunga AS yang lebih tinggi berpotensi membuat aset berbasis dolar kembali menarik bagi investor global.

Selain kebijakan The Fed, investor juga menghadapi kenaikan imbal hasil atau yield surat utang pemerintah AS tenor panjang.

Departemen Keuangan AS berupaya menahan tekanan di pasar obligasi melalui peningkatan program pembelian kembali atau buyback US Treasury tenor panjang.

Menteri Keuangan AS Scott Bessent bahkan membuka kemungkinan peningkatan volume pembelian tersebut.

Langkah tersebut sempat menekan yield US Treasury. Namun, investor masih memperhatikan persoalan yang lebih mendasar, termasuk besarnya kebutuhan pembiayaan pemerintah AS, inflasi dan pasokan surat utang.

Kenaikan yield Treasury dapat menjadi sentimen negatif bagi aset berisiko karena meningkatkan imbal hasil instrumen yang relatif lebih aman.

Tekanan eksternal juga datang dari konflik AS-Iran. Ketegangan geopolitik tersebut meningkatkan perhatian pasar terhadap pasokan energi dan kelancaran perdagangan melalui Selat Hormuz.

Risiko tersebut menjadi semakin relevan bagi pasar karena gangguan pasokan energi dapat mendorong kenaikan harga minyak.

Pada akhirnya, kenaikan harga energi dapat memperbesar tekanan inflasi global dan memperumit langkah bank sentral dalam menentukan arah suku bunga.

Selain data eksternal, investor domestik juga akan mencermati perkembangan likuiditas perekonomian Indonesia melalui data uang beredar Juli 2026 yang akan dirilis BI.

Pada Juni 2026, uang beredar luas atau M2 tercatat Rp10.432,8 triliun atau tumbuh 8,7% secara tahunan. Pada periode yang sama, penyaluran kredit tumbuh 12,1%.

Data tersebut menjadi penting karena pertumbuhan likuiditas dan kredit berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi domestik.

Investor akan melihat apakah pertumbuhan kredit tetap terjaga sekaligus menunjukkan berlanjutnya permintaan pembiayaan di sektor riil.

Dengan kombinasi sentimen tersebut, penguatan IHSG pada awal perdagangan Jumat belum dapat dibaca sebagai sinyal bahwa risiko pasar telah sepenuhnya mereda.

Setelah berhasil kembali ke atas 6.500, pasar kini membutuhkan katalis baru untuk mempertahankan momentum. 

Data transaksi berjalan, perkembangan likuiditas domestik, arah kebijakan The Fed, yield US Treasury, serta konflik AS-Iran akan menjadi sejumlah faktor yang menentukan perjalanan IHSG selanjutnya.

Untuk perdagangan Jumat, area 6.482-6.546 menjadi rentang teknikal yang patut dicermati.

Selama IHSG masih mampu bertahan di atas area support, peluang melanjutkan penguatan tetap terbuka. Namun, tekanan dari pasar global dapat membuat indeks kembali bergerak volatil.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.