Akurat Logo

Pembiayaan Samir di Bali-Nusra Melonjak 66 Persen, Tembus Rp85 Miliar

Idham Nur Indrajaya | 25 Agustus 2026, 11:25 WIB
Pembiayaan Samir di Bali-Nusra Melonjak 66 Persen, Tembus Rp85 Miliar
Pembiayaan Samir di Bali-Nusra tumbuh 66% menjadi Rp85 miliar lebih hingga Juli 2026, dengan 17 ribu+ peminjam. - dok. Samir

AKURAT.CO Pertumbuhan pembiayaan digital tidak lagi hanya bertumpu pada Pulau Jawa. Bali dan Nusa Tenggara mulai menunjukkan posisi yang semakin penting dalam ekspansi pembiayaan fintech, salah satunya terlihat dari kinerja PT Sahabat Mikro Fintek (Samir). Pada Januari hingga Juli 2026, pembiayaan Samir di Bali dan Nusa Tenggara mencapai lebih dari Rp85 miliar, melonjak 66% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut membawa Bali dan Nusa Tenggara masuk lima besar wilayah dengan penyaluran pembiayaan Samir secara nasional. Pada saat yang sama, jumlah peminjam di wilayah tersebut telah menembus lebih dari 17 ribu orang.

Ringkasan

Berdasarkan keterangan Direktur Utama Samir Handy Juniandri, penyaluran pembiayaan di Bali dan Nusa Tenggara mencapai lebih dari Rp85 miliar selama Januari-Juli 2026. Jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya, nilainya tumbuh 66%.

Angka tersebut penting karena pertumbuhan tidak hanya terlihat dari nominal pembiayaan, tetapi juga dari semakin besarnya basis peminjam. Hingga periode tersebut, jumlah peminjam Samir di Bali dan Nusa Tenggara telah mencapai lebih dari 17 ribu orang.

“Menurut data, untuk penyaluran pembiayaan secara nasional, Bali & Nusa Tenggara memperlihatkan tren pertumbuhan yang terus positif di mana saat ini sudah berhasil berada di posisi lima besar,” kata Handy melalui catatan tertulis yang diterima AKURAT.CO, dikutip Selasa, 25 Agustus 2026.

Forum yang diselenggarakan Asosiasi Fintech Pendanaan Bersama Indonesia (AFPI) pada 20-21 Agustus 2026 tersebut menjadi tempat Samir menyampaikan perkembangan bisnisnya sekaligus berdiskusi dengan pelaku industri, regulator, lembaga keuangan, investor, pelaku usaha, dan pemangku kepentingan lainnya.

Pertumbuhan 66% juga memberikan gambaran bahwa Bali dan Nusa Tenggara bukan sekadar wilayah tambahan dalam ekspansi Samir. Kawasan tersebut mulai menjadi salah satu sumber pertumbuhan yang diperhitungkan dalam penyaluran pembiayaan perusahaan.

Baca Juga: Aduan Fintech di Jogja Melonjak, OJK dan Samir Gencarkan Edukasi Bahaya Pinjol Ilegal

Baca Juga: 70 Persen UMKM Tak Punya Akses Pembiayaan, Samir dan Privy di BFN Dorong Pelaku Usaha Muda Lebih Melek Finansial Lewat Identitas Digital

Apa Arti Bali-Nusra Masuk Lima Besar Penyaluran Samir?

Masuknya Bali dan Nusa Tenggara ke lima besar penyaluran pembiayaan Samir menunjukkan bahwa ekspansi fintech lending ke luar Jawa mulai memiliki arti strategis.

Selama ini, pembicaraan mengenai pertumbuhan perusahaan teknologi keuangan sering kali berpusat pada skala nasional. Padahal, angka nasional dapat menyembunyikan perubahan penting di tingkat daerah. Pertumbuhan Bali dan Nusa Tenggara memperlihatkan bahwa ekspansi geografis juga dapat menjadi sumber pertumbuhan pembiayaan.

Hal tersebut sejalan dengan strategi Samir yang menyebut perluasan pembiayaan ke luar Pulau Jawa sebagai salah satu arah pengembangan bisnis.

Dengan lebih dari 17 ribu peminjam di Bali dan Nusa Tenggara, pertumbuhan tersebut juga tidak semata-mata berarti bertambahnya nilai pembiayaan. Basis pengguna layanan ikut meluas.

“Pertumbuhan ini juga sejalan dengan terus bertambahnya jumlah peminjam dari masyarakat maupun para pelaku UMKM di Bali & Nusa Tenggara yang telah menembus hingga lebih dari 17 ribu peminjam dan menegaskan tingkat kepercayaan terhadap layanan pindar Samir ikut meningkat,” ujar Handy.

Pernyataan tersebut menunjukkan dua perkembangan yang berjalan bersamaan, yakni peningkatan nominal penyaluran dan pertumbuhan jumlah peminjam.

Keduanya perlu dibedakan. Penyaluran menggambarkan skala pembiayaan yang mengalir, sedangkan jumlah peminjam menunjukkan seberapa luas basis masyarakat yang menggunakan layanan tersebut.

Seberapa Besar Skala Pembiayaan Samir Secara Nasional?

Pertumbuhan di Bali dan Nusa Tenggara merupakan bagian dari ekspansi Samir secara nasional. Pada Januari-Juli 2026, perusahaan mencatat penyaluran pembiayaan lebih dari Rp2,6 triliun kepada sekitar 600 ribu peminjam di seluruh Indonesia.

Secara kumulatif, total pembiayaan yang telah disalurkan Samir mencapai Rp7,6 triliun kepada lebih dari 1,9 juta peminjam.

Perbedaan periode tersebut penting diperhatikan. Angka Rp2,6 triliun merupakan penyaluran dalam periode Januari-Juli 2026, sedangkan Rp7,6 triliun merupakan akumulasi pembiayaan sejak Samir menjalankan bisnisnya.

Dari perspektif bisnis, data tersebut memberikan konteks terhadap posisi Bali dan Nusa Tenggara. Penyaluran lebih dari Rp85 miliar memang hanya merupakan bagian dari total nasional, tetapi pertumbuhan 66% menunjukkan bahwa wilayah tersebut berkembang lebih cepat dibandingkan capaian tahun sebelumnya.

Artinya, pentingnya Bali dan Nusa Tenggara bagi Samir bukan hanya ditentukan oleh nominal absolut, tetapi juga oleh laju pertumbuhan dan peningkatan jumlah peminjam.

Mengapa Ekspansi Pembiayaan ke Luar Jawa Menjadi Penting?

Perluasan pembiayaan ke luar Jawa memiliki dua dimensi sekaligus. Dari sisi bisnis, perusahaan fintech mendapatkan ruang untuk memperluas basis pengguna dan wilayah penyaluran. Dari sisi inklusi keuangan, ekspansi tersebut berpotensi memperluas akses pembiayaan digital kepada masyarakat dan pelaku usaha di berbagai daerah.

Dalam konteks Samir, Bali dan Nusa Tenggara memberikan contoh konkret mengenai bagaimana strategi tersebut mulai menghasilkan pertumbuhan.

Namun, ekspansi wilayah tidak cukup hanya diukur dari seberapa banyak pembiayaan yang disalurkan. Perusahaan juga perlu memastikan bahwa pertumbuhan tersebut diikuti dengan kualitas portofolio, tata kelola, dan pengelolaan risiko yang memadai.

Handy menekankan bahwa pertumbuhan pembiayaan harus berjalan bersama dengan penguatan tata kelola perusahaan.

“Sebagai platform yang sudah berizin dan diawasi oleh OJK, Samir memandang bahwa pertumbuhan pembiayaan harus berjalan beriringan dengan penguatan tata kelola perusahaan yang baik, tetap menjaga kualitas pembiayaan dan manajemen mitigasi risiko yang disiplin,” jelas Handy.

Pernyataan tersebut menjadi penting ketika angka pertumbuhan pembiayaan digunakan untuk menilai perkembangan bisnis fintech. Pertumbuhan nominal yang tinggi memang menunjukkan ekspansi, tetapi belum dengan sendirinya menggambarkan kualitas pembiayaan.

Tiga Bank Jadi Institutional Lender Samir

Ekspansi Samir juga didukung oleh keberadaan institutional lender. Hingga saat ini, perusahaan mencatat memiliki 11 institutional lender, tiga di antaranya berasal dari sektor perbankan.

Ketiga bank tersebut adalah PT Bank Neo Commerce Tbk, PT Super Bank Indonesia Tbk, dan PT Bank Sahabat Sampoerna.

Keterlibatan bank sebagai institutional lender memperlihatkan adanya hubungan pendanaan antara industri perbankan dan platform fintech lending. Dalam ekosistem tersebut, fintech tidak selalu harus dipandang sebagai pengganti bank.

Fintech dapat menjalankan fungsi pelengkap dengan memanfaatkan teknologi untuk menjangkau segmen pembiayaan yang belum memperoleh akses secara optimal.

Bagi Samir, keberadaan institutional lender juga menjadi bagian dari strategi memperkuat kapasitas pembiayaan. Namun, keberadaan bank sebagai lender tidak boleh diterjemahkan secara otomatis sebagai jaminan bahwa seluruh pembiayaan bebas risiko.

Justru semakin besar skala pendanaan, semakin penting kemampuan perusahaan dalam menjaga kualitas penyaluran dan menerapkan mitigasi risiko.

Seperti Apa Arti Pertumbuhan 66%?

Untuk memahami angka 66%, bayangkan sebuah wilayah menerima pembiayaan sebesar Rp100 pada satu periode. Jika penyalurannya kemudian tumbuh 66%, nilainya secara sederhana menjadi Rp166 pada periode berikutnya.

Ilustrasi tersebut bukan angka aktual Samir, tetapi membantu menjelaskan besarnya pertumbuhan yang dimaksud.

Dalam kasus Bali dan Nusa Tenggara, pertumbuhan 66% berarti nilai penyaluran pada Januari-Juli 2026 meningkat secara signifikan dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Ketika angka tersebut muncul bersamaan dengan jumlah peminjam yang telah mencapai lebih dari 17 ribu orang, pertumbuhan regional tersebut menjadi lebih bermakna.

Pertanyaannya kemudian bukan hanya berapa besar pembiayaan yang berhasil disalurkan, tetapi apakah ekspansi tersebut dapat dipertahankan secara sehat.

Apa Dampaknya bagi UMKM?

Bagi pelaku UMKM, bertambahnya kanal pembiayaan digital dapat membuka alternatif ketika membutuhkan modal untuk menjalankan atau mengembangkan usaha. Namun, akses pembiayaan juga perlu diikuti kemampuan pelaku usaha dalam menghitung kebutuhan modal dan kemampuan membayar kembali.

Bagi industri fintech, pertumbuhan Bali dan Nusa Tenggara memberikan peluang sekaligus tantangan. Peluangnya adalah semakin luasnya pasar pembiayaan di luar Jawa. Tantangannya adalah memastikan pertumbuhan tidak hanya mengejar volume penyaluran.

Bagi industri keuangan secara lebih luas, perkembangan tersebut menunjukkan semakin terhubungnya fintech dengan lembaga keuangan konvensional. Perbankan dan fintech dapat berada dalam satu ekosistem pendanaan dengan fungsi yang berbeda.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan ekspansi bukan hanya seberapa cepat angka penyaluran meningkat. Kualitas pembiayaan, tata kelola, dan kemampuan mengelola risiko akan menentukan apakah pertumbuhan tersebut dapat bertahan dalam jangka panjang.

Baca Juga: Pembiayaan Pindar Samir Melonjak 84 Persen, Apa yang Mendorong Pertumbuhan Ini?

Baca Juga: Samir Salurkan Rp1,5 Triliun dalam 4 Bulan, Capai 50 Persen dari Total Penyaluran di 2025

FAQ

Berapa pertumbuhan pembiayaan Samir di Bali dan Nusa Tenggara?

Pembiayaan Samir di Bali dan Nusa Tenggara tumbuh 66% pada Januari-Juli 2026 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Nilai penyalurannya mencapai lebih dari Rp85 miliar dan membawa kawasan tersebut masuk lima besar wilayah penyaluran Samir secara nasional.

Berapa jumlah peminjam Samir di Bali dan Nusa Tenggara?

Jumlah peminjam Samir di Bali dan Nusa Tenggara telah mencapai lebih dari 17 ribu orang hingga Juli 2026. Pertumbuhan jumlah peminjam tersebut berjalan seiring dengan meningkatnya penyaluran pembiayaan di kawasan tersebut.

Berapa total pembiayaan Samir hingga Juli 2026?

Samir menyalurkan pembiayaan lebih dari Rp2,6 triliun kepada sekitar 600 ribu peminjam sepanjang Januari-Juli 2026. Secara kumulatif, total pembiayaan yang telah disalurkan mencapai Rp7,6 triliun kepada lebih dari 1,9 juta peminjam.

Mengapa Bali dan Nusa Tenggara penting bagi Samir?

Bali dan Nusa Tenggara menjadi penting karena penyaluran pembiayaan di kawasan tersebut tumbuh 66% dan telah masuk lima besar secara nasional. Pertumbuhan ini juga menjadi bagian dari strategi Samir untuk memperluas pembiayaan ke luar Pulau Jawa.

Siapa saja institutional lender Samir dari sektor perbankan?

Samir saat ini memiliki 11 institutional lender. Tiga di antaranya berasal dari sektor perbankan, yaitu PT Bank Neo Commerce Tbk, PT Super Bank Indonesia Tbk, dan PT Bank Sahabat Sampoerna.

Apa arti pertumbuhan fintech lending bagi UMKM?

Pertumbuhan fintech lending berpotensi memperluas alternatif akses pembiayaan bagi UMKM dan masyarakat. Namun, pertumbuhan penyaluran perlu berjalan bersama pengelolaan risiko dan kemampuan peminjam dalam memenuhi kewajiban pembiayaan.

Apakah pertumbuhan pembiayaan saja cukup untuk mengukur kinerja fintech?

Tidak. Pertumbuhan pembiayaan menunjukkan ekspansi bisnis, tetapi tidak secara otomatis menggambarkan kualitas portofolio. Kualitas pembiayaan, tata kelola, dan manajemen risiko juga penting untuk menilai keberlanjutan pertumbuhan fintech lending.

Pertumbuhan 66% di Bali dan Nusa Tenggara pada akhirnya memperlihatkan satu hal penting: sumber pertumbuhan fintech lending Indonesia tidak harus selalu datang dari pasar yang sama. Ekspansi ke luar Jawa mulai memberikan ruang baru, tetapi ruang tersebut harus diisi dengan pembiayaan yang tumbuh secara terukur dan bertanggung jawab.

Bagi Samir, Bali dan Nusa Tenggara kini bukan sekadar wilayah penyaluran. Dengan masuknya kawasan tersebut ke lima besar dan jumlah peminjam yang telah melampaui 17 ribu orang, perkembangan regional tersebut menjadi bagian penting dari cerita ekspansi pembiayaan digital perusahaan.

Pantau terus perkembangan industri fintech dan pembiayaan digital di Indonesia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.