Menkeu: Rupiah Tahan Tekanan Global, Depresiasi Hanya 0,3%

AKURAT.CO Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan stabilitas nilai tukar rupiah menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia masih terjaga di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Purbaya mengatakan berbagai gejolak global, termasuk konflik geopolitik, sering memicu kekhawatiran pelemahan rupiah. Namun berdasarkan data yang dipantau pemerintah, tekanan terhadap mata uang domestik relatif terbatas.
"Ada yang bilang rupiah hancur, tetapi kalau dilihat betul, itu setiap perang, rupiah itu hanya terdepresiasi sebesar 0,3 persen. Jadi, sebetulnya bagus daya tahan kita," ujar Purbaya dalam sidang kabinet paripurna di Istana Negara, Jakarta, Jumat.
Baca Juga: Menkeu Buka Opsi Defisit APBN 2026 di Atas 3% PDB
Indikator lain yang mencerminkan kepercayaan pasar adalah spread imbal hasil antara Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia dengan obligasi pemerintah Amerika Serikat atau US Treasury.
Menurut data Kementerian Keuangan, selisih yield SBN terhadap US Treasury hanya naik tipis dari sekitar 240 basis poin pada Januari 2025 menjadi sekitar 243 basis poin saat ini.
"Naiknya hanya terbatas hanya 3 basis point. Artinya asing masih percaya ke kita," kata Purbaya.
Stabilitas nilai tukar rupiah menjadi indikator penting dalam menjaga kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik. Secara historis, gejolak global seperti krisis keuangan atau konflik geopolitik sering memicu arus keluar modal dari negara berkembang.
Indonesia beberapa kali mengalami tekanan nilai tukar, termasuk pada periode taper tantrum 2013 dan pandemi global 2020, ketika arus modal asing keluar dari pasar obligasi dan saham.
Stabilnya rupiah dan terkendalinya spread SBN penting bagi stabilitas pembiayaan negara. Jika spread terlalu lebar, biaya pinjaman pemerintah melalui penerbitan obligasi berpotensi meningkat.
Baca Juga: Gandeng Kemenkeu, BGN Perkuat Tata Kelola Anggaran Gizi Nasional Lewat E-Learning dan Aplikasi SPPG
Bagi pelaku pasar, indikator ini juga menjadi sinyal bahwa risiko investasi di Indonesia masih relatif terkendali dibandingkan negara berkembang lain.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 2Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 3Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 4Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026, Tayang Malam Ini!
- 5Ini Profil Hacker yang Bocorkan Data Skandal Pelanggaran Manchester City
- 6Dinyatakan Bersalah di Mayoritas 115 Pelanggaran, Berapa Gelar Man City yang Terancam Dicopot?
- 7Sekjen PBB Guterres Desak Iran Buka Kembali Selat Hormuz, Teheran Ajukan Proposal 7 Hari
- 8Ramalan Shio Minggu Ini 28 September–4 Oktober 2026: Ada yang Makin Sibuk, Ada yang Butuh Me Time
- 9Prabowo Perkuat BPJS Kesehatan, Siapkan Tambahan Anggaran Rp20 Triliun
- 10Kejagung Amankan Mantan Sekjen Kementerian ESDM Tersangka Korupsi Nikel







