Imbas Serangan Israel dan AS ke Iran: Harga Emas Tembus USD5.280 per Troyounce, Rupiah Menuju Rp17.000 per Dolar AS

AKURAT.CO Harga emas dunia kembali menjadi sorotan setelah putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat membatalkan kebijakan tarif resiprokal Presiden Donald Trump, disusul penetapan tarif global baru 15% selama 150 hari.
Di saat bersamaan, konflik Timur Tengah akibat serangan Israel ke Teheran pada Maret 2026 kembali memperburuk sentimen global. Kombinasi perang dagang AS, eskalasi geopolitik Israel-Iran, serta spekulasi penurunan suku bunga The Fed mendorong investor beralih ke aset safe haven.
Sehingga memberikan dampak terhadap harga emas dunia melonjak tajam, rupiah tertekan, dan pasar keuangan domestik bersiap menghadapi volatilitas tinggi.
Baca Juga: Kedubes Iran di Jakarta Kecam Serangan AS dan Israel ke Teheran
Putusan MA AS dan Tarif 15 Persen Trump
Putusan Mahkamah Agung AS dengan voting 6-3 menyatakan Presiden tidak memiliki kewenangan memberlakukan tarif global berbasis Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA) 1977.
Namun, Gedung Putih segera merespons dengan menetapkan tarif baru 15% menggunakan Pasal 122 Undang-Undang Perdagangan 1974.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menegaskan, langkah akan ini menjaga ketidakpastian perdagangan global tetap tinggi. Indonesia yang sebelumnya terkena tarif resiprokal 19% kini mengikuti tarif global 15%. “Kan global tarif 15 persen, maka yang berlaku adalah global tarif yang 15 persen," tegas Airlangga.
Dirinya memastikan Agreement on Reciprocal Trade (ART) belum efektif karena masih menunggu 90 hari dan proses ratifikasi. ART mencakup 1.819 pos tarif dengan fasilitas bea masuk hingga 0% untuk komoditas seperti sawit, kopi, kakao, karet, semikonduktor, hingga tekstil. Kepastian hukum ini krusial bagi pelaku ekspor Indonesia di tengah ancaman penggunaan Pasal 301 dan Pasal 232 oleh AS.
Konflik Israel-Iran Picu Safe Haven Rally
Pengamat Komoditas dan Mata Uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, ketegangan geopolitik meningkat setelah laporan serangan Israel ke Teheran memicu ledakan besar dan kekhawatiran pasar global.
Menurutnya, secara historis, eskalasi konflik Timur Tengah selalu mendorong kenaikan harga emas sebagai aset lindung nilai.
“Bahwa hari ini telah terjadi serangan mendadak dari Israel ke Teheran yang membuat ledakan cukup besar. Saya akan membuat rilis untuk emas dunia, logam mulia, kemudian rupiah dan IHSG,” ujar Ibrahim di Jakarta, Sabtu (28/2/2026).
Harga Emas Dunia Naik Tajam
Lebih lanjut Ibrahim menyebut harga emas dunia pada penutupan Sabtu pagi berada di USD5.280 per troy ounce. “Di hari Sabtu pagi itu ditutup di level USD5.280 per troy ounce. Mengalami kenaikan yang cukup tajam,” ujarnya.
Harga logam mulia dalam negeri tercatat Rp3.085.000 per gram. Koreksi tipis masih mungkin terjadi pada emas ke USD5.260 per troy ounce dan lpgam mulia ke Rp3.045.000 per gram.
Namun dalam jangka satu pekan, ia memproyeksikan reli lanjutan. Bahkan, hingga akhir pekan depan, emas dunia berpotensi menyentuh USD5.500 per troy ounce dan logam mulia Rp3.400.000 per gram.
“Ada kemungkinan besar bahwa di minggu depan harga emas itu akan melonjak. Resisten pertama di USD5.365 per troy ounce. Logam mulia kemungkinan besar di Rp3.150.000,” jelasnya.
Emas pun, lanjut Ibrahim, berpotensi melonjak ke USD6.000 per troyounce pada Maret 2026 atau besok. "Emas dunia di bulan Maret 2026 diperkirakan tembus USD6.000 per troyounce," tuturnya.
4 Faktor Penggerak Lonjakan Harga Emas
Ibrahim mengatakan, ada setidaknya 4 faktor yang menjadi penyebab melonjaknya harga emas.
1. Geopolitik Timur Tengah
Ibrahim menilai konflik Israel-Iran berpotensi memicu babak baru ketegangan regional.
“Timur Tengah membara dan ini kemungkinan besar memantik negara-negara sekutunya seperti Tiongkok dan Rusia yang mendukung Iran,” katanya.
2. Perang Dagang AS
Dirinya juga menegaskan kebijakan tarif 10% hingga 15% tetap menambah tekanan pasar.
“Mahkamah Agung mengatakan perang dagang itu ilegal, tetapi Trump tetap menerapkan biaya impor 10% lalu 15%,” ujarnya.
3. Kebijakan Suku Bunga The Fed
“Ada kemungkinan besar sampai bulan Juni Bank Sentral Amerika akan menurunkan suku bunga,” kata Ibrahim.
Penurunan suku bunga biasanya melemahkan dolar AS dan meningkatkan daya tarik emas.
4. Supply dan Demand Global
Ibrahim juga menambahkan bank sentral global mulai mengalihkan cadangan devisa ke emas.
“Sekitar 80 perusahaan tambang emas menghadapi potensi penurunan cadangan bahan baku,” ujarnya.
BI Diminta Siaga
Tekanan global berpotensi merembet ke nilai tukar rupiah. Bank Indonesia diminta untuk tetap siaga dengan kemungkinan terjadinya hal tersebut.
“Dalam minggu besok rupiah kemungkinan bisa saja menuju level Rp17.000. Ini yang harus bisa diantisipasi oleh Bank Indonesia,” tegas Ibrahim.
Pelemahan rupiah dapat meningkatkan tekanan impor dan inflasi, terutama jika harga minyak mentah ikut melonjak akibat konflik Timur Tengah.
Dampak ke IHSG dan Strategi Investor
Meski proyeksi IHSG belum dirinci, pola historis menunjukkan eskalasi geopolitik memicu aksi risk-off di pasar saham negara berkembang.
Investor global cenderung memindahkan dana ke aset aman seperti emas dan dolar AS. Dengan kombinasi perang dagang, konflik geopolitik, serta potensi penurunan suku bunga AS, volatilitas diperkirakan meningkat dalam jangka pendek.
Bagi investor umum, periode ini menuntut disiplin manajemen risiko, diversifikasi aset, dan mencermati kebijakan moneter Bank Indonesia.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini









