Akurat

Pertaruhan Arah Ekonomi AS, Lebih Aman Investasi Bitcoin atau Emas?

Esha Tri Wahyuni | 17 Februari 2026, 20:12 WIB
Pertaruhan Arah Ekonomi AS, Lebih Aman Investasi Bitcoin atau Emas?

AKURAT.CO Perdebatan Bitcoin vs emas kembali memanas seiring meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi, utang pemerintah, dan arah kebijakan moneter Amerika Serikat (AS).

Bagi investor global, termasuk generasi muda yang mulai aktif berinvestasi, diskursus ini bukan lagi sekadar soal diversifikasi portofolio atau strategi lindung nilai (hedging). 

Isu ini berkembang menjadi pertaruhan besar terhadap masa depan ekonomi AS, apakah akan tumbuh lewat reformasi struktural atau justru terjebak dalam ekspansi moneter dan pelemahan mata uang.
 
Dalam konteks ini, narasi Bitcoin sebagai digital gold, emas sebagai safe haven, hingga wacana reformasi The Fed dan regulasi kripto seperti CLARITY Act ikut membentuk sentimen pasar.

Bitcoin vs Emas: Dua Aset, Dua Visi Masa Depan

Perdebatan ini mengemuka setelah pernyataan Chief Market Strategist Wellington-Altus, James E. Thorne, yang menilai Bitcoin dan emas kini merepresentasikan dua pandangan berbeda terhadap arah ekonomi Amerika.
 

Dikutip dari beberapa sumber, Selasa (17/2/2026) menurut  Thorne, emas mencerminkan sikap defensif investor. Lonjakan permintaan emas bukan lagi sekadar respons terhadap inflasi atau volatilitas pasar, melainkan bentuk ketidakpercayaan terhadap efektivitas kebijakan ekonomi AS dalam mengatasi beban utang yang tinggi.

"Investor yang beralih ke emas pada dasarnya bertaruh bahwa pemerintah AS akan terus mengandalkan ekspansi moneter, memperbesar utang, dan membiarkan nilai dolar terdepresiasi sebagai jalan keluar dari tekanan fiskal," ujarnya.

Sebaliknya, ia memposisikan Bitcoin sebagai simbol optimisme terhadap reformasi. Bitcoin dinilai sebagai taruhan atas keberhasilan deregulasi, kejelasan aturan industri kripto, serta potensi AS menjadi pusat kripto global.

Reformasi The Fed dan CLARITY Act Jadi Sorotan

Dalam pandangan pro-Bitcoin, reformasi kebijakan menjadi kunci. Gagasan untuk membenahi peran bank sentral, mengurangi subsidi likuiditas pasif, serta mendorong aliran modal dari instrumen Treasury ke sektor produktif disebut sebagai langkah strategis memperbaiki struktur ekonomi.

Regulasi seperti CLARITY Act juga dipandang krusial untuk memberikan kepastian hukum bagi industri aset digital. Dengan regulasi yang jelas, arus investasi institusional ke Bitcoin diharapkan meningkat dan memperkuat posisinya sebagai aset alternatif jangka panjang.

Dalam skenario ini, pertumbuhan ekonomi berbasis reformasi diyakini mampu menekan beban utang secara riil, bukan sekadar mengikisnya lewat inflasi.

Reli Emas vs Tekanan Harga Bitcoin

Di tengah perdebatan tersebut, pasar menunjukkan dinamika yang kontras. Harga emas justru mencatat reli signifikan saat ketidakpastian makro meningkat. Sebaliknya, Bitcoin mengalami tekanan harga, memicu kembali diskusi mengenai validitas narasi store of value.

Trader kripto Ran Neuner bahkan mengakui mulai mempertanyakan teori lama Bitcoin sebagai safe haven. Ia menilai, setelah persetujuan ETF dan akses institusional terbuka lebar, Bitcoin seharusnya tidak lagi memiliki hambatan struktural untuk tampil sebagai aset lindung nilai.

Namun, dalam periode ketegangan geopolitik, perang tarif, dan instabilitas fiskal, arus dana justru lebih deras mengalir ke emas dibandingkan aset digital.

Safe Haven: Emas Masih Unggul?

Secara historis, emas telah lama dipandang sebagai aset lindung nilai saat krisis. Karakteristiknya yang tangible dan memiliki rekam jejak ribuan tahun membuatnya tetap menjadi pilihan utama ketika volatilitas meningkat.

Sementara itu, Bitcoin masih menghadapi ujian psikologis dan struktural. Partisipasi ritel dinilai belum sekuat siklus sebelumnya, dan spekulasi pasar tidak seintens masa bullish terdahulu.

Meski demikian, hal ini belum tentu menandakan kegagalan tesis investasi Bitcoin. Sebagian analis melihat fase ini sebagai periode konsolidasi sebelum siklus berikutnya.

Bitcoin vs Emas: Mana yang Lebih Relevan untuk Investor Muda?

Bagi investor usia 18–35 tahun, memilih antara Bitcoin dan emas bukan sekadar soal imbal hasil, tetapi juga soal profil risiko dan keyakinan terhadap arah ekonomi global.
Emas cenderung menawarkan stabilitas dan proteksi nilai saat tekanan ekonomi meningkat. Bitcoin, di sisi lain, menawarkan potensi pertumbuhan tinggi dengan volatilitas yang juga signifikan.

Dalam konteks ini, strategi diversifikasi tetap menjadi pendekatan rasional. Mengombinasikan aset defensif dan aset berisiko dapat membantu menjaga keseimbangan portofolio di tengah ketidakpastian.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.