Akurat

Survei Sun Life Asia Ungkap Mayoritas Usaha Keluarga Belum Siap Hadapi Alih Generasi

Oktaviani | 28 November 2025, 19:55 WIB
Survei Sun Life Asia Ungkap Mayoritas Usaha Keluarga Belum Siap Hadapi Alih Generasi

AKURAT.CO Survei terbaru Sun Life Asia menunjukkan bahwa keberlanjutan usaha keluarga di Asia berada pada titik kritis.

Meski sebagian besar pemilik usaha berniat menyiapkan pengaturan warisan, hanya 27 persen responden yang sudah memiliki rencana penerus usaha yang lengkap.

Artinya, hampir tiga perempat usaha keluarga masih belum siap menghadapi alih generasi.

Usaha keluarga tetap menjadi fondasi ekonomi Asia. Sebanyak 85 persen perusahaan di Asia Pasifik dimiliki keluarga, dan kawasan ini menempati 18 persen dari 500 perusahaan keluarga terbesar di dunia.

Kondisi tersebut menegaskan pentingnya perencanaan penerus usaha bagi keberlanjutan nilai dan kekayaan lintas generasi.

Chief Marketing Officer Sun Life Indonesia, Maika Randini, mengatakan peralihan kekayaan skala besar tengah terjadi di Asia dan membutuhkan persiapan matang.

“Peralihan kekayaan lintas generasi dalam skala besar sudah berlangsung, sehingga penting bagi para pemilik usaha untuk mempersiapkan masa depan dan menjaga warisan mereka,” ujarnya, Jumat (28/11/2025).

Baca Juga: Studi Sun Life: Keamanan Finansial Jadi Prioritas Utama dalam Perencanaan Warisan

Rencana Penerus Usaha Masih Minim

Meski 94 persen keluarga pemilik usaha berencana menyiapkan pengaturan warisan menyeluruh, hanya 27 persen yang telah memiliki rencana penerus usaha yang terstruktur.

Sebanyak 25 persen baru memiliki sebagian rencana, 24 persen masih menyusunnya, dan 19 persen belum memiliki rencana apa pun.

Indonesia menjadi negara dengan proporsi tertinggi pemilik rencana lengkap (39 persen), sedangkan Vietnam mencatat angka terendah (14 persen).

Di Hong Kong persentasenya hanya 20 persen, sementara Singapura mencapai 28 persen.

Komunikasi antargenerasi juga menjadi persoalan. Hanya 44 persen penerus keluarga yang terlibat bisnis mengaku mendapat penjelasan komprehensif soal warisan dari generasi sebelumnya.

Pada keluarga yang penerusnya tidak terlibat bisnis, angkanya turun menjadi 27 persen.

Mayoritas keluarga membahas warisan melalui rapat formal (57 persen), percakapan formal satu lawan satu (52 persen), dan diskusi informal (43 persen).

Bentuk ideal yang mereka inginkan tetap rapat keluarga formal dan dokumentasi tertulis seperti surat wasiat.

Perlindungan dan Pertumbuhan Kekayaan Jadi Prioritas

Sebanyak 69 persen responden menempatkan perlindungan finansial keluarga sebagai prioritas utama dalam membangun warisan.

Prioritas lain meliputi kejelasan rencana warisan untuk menghindari konflik (54 persen) dan memastikan kekayaan cukup untuk diwariskan (51 persen).

Baca Juga: Sun Life Indonesia Rayakan 30 Tahun dengan Bright Talk dan Peluncuran Sun Proteksi Heritage 100

Sebagian besar keluarga (68 persen) ingin warisan diinvestasikan untuk pertumbuhan jangka panjang melalui aset keuangan, asuransi, atau bisnis keluarga.

Maika menilai kondisi ini menunjukkan banyak keluarga belum benar-benar siap menghadapi risiko di masa depan.

“Banyak keluarga belum siap, meski memahami pentingnya rencana penerus usaha yang terstruktur,” katanya.

Jurang Generasi Semakin Lebar

Perbedaan nilai dan minat antar generasi menjadi salah satu pemicu rendahnya minat penerus melanjutkan bisnis keluarga.

Hanya 40 persen pemilik usaha yakin generasi berikutnya bersedia mengambil alih. Pada penerus yang tidak terlibat operasional, minat itu bahkan hanya 31 persen.

Separuh penerus yang enggan melanjutkan usaha menyebut keinginan untuk mandiri sebagai alasan utama.

Alasan lain adalah ketakutan terhadap tanggung jawab (42 persen), kurang minat (28 persen), dan perbedaan nilai atau visi (27 persen).

“Usaha keluarga di Asia berada pada titik krusial akibat perbedaan generasi yang semakin lebar,” kata Maika.

“Pemilik usaha perlu memperkuat rencana penerus dan membuka dialog tentang masa depan.”

Konsultasi Profesional Semakin Dibutuhkan

Kurang dari setengah pemilik usaha pernah mencari nasihat perencanaan keuangan.

Dari mereka yang sudah atau berencana melakukannya, 61 persen menempatkan keahlian profesional sebagai faktor utama dalam memilih konsultan.

Mereka juga menilai penting kemampuan merancang kebutuhan lintas generasi dan pendekatan yang personal.

Baca Juga: Sun Life Indonesia luncurkan Sun Proteksi Heritage 100

Sebanyak 36 persen memilih konsultan individu, 23 persen memilih layanan family office komprehensif, dan 32 persen memilih kombinasi keduanya.

Maika menegaskan bahwa pendekatan profesional yang tepat dapat membantu mencegah konflik dan menjaga warisan keluarga.

“Nasihat yang proaktif dapat membantu pemilik usaha mencapai tujuan penerus usaha, mencegah konflik, dan menjaga warisan keluarga,” tutupnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.