TLKM Spin Off Bisnis Wholesale Fiber Connectivity Senilai Rp35,7 Triliun ke Anak Usaha

AKURAT.CO PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) berencana melepas bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity atau spin off ke anak usahanya, PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF).
Adapun nilai bisnis dan aset Wholesale Fiber Connectivity yang akan dipisahkan adalah sebesar Rp35,7 triliun, dimana atas pemisahan tersebut, TIF akan menerbitkan 357.872.580 saham baru kepada perseroan dengan nilai konversi per saham baru sebesar Rp100.
Usai transaksi, komposisi kepemilikan saham TLKM di TIF menjadi 99,9999997% setara 377.112.580 saham (semula 99,999% setara 19.240.000 saham) dan kepemilikan PT Multimedia Nusantara di TIF menjadi 0,0000003% (semula 0,001%).
Dalam prospektusnya, manajemen TLKM menjelaskan alasan di balik aksi korporasi ini. Seperti diketahui, TLKM menjalankan strategi penguatan fundamental bisnis melalui empat pilar utama: Integrated B2C Services, B2B ICT Services, New Play, dan Digital Infrastructure.
Baca Juga: Adu Kinerja Keuangan Kuartal I-2025 TLKM, ISAT dan EXCL, Siapa Paling Moncer?
Rencana spin off ini menjadi bagian penting dari pilar Digital Infrastructure untuk meningkatkan fokus bisnis, membangun model usaha yang berkelanjutan dan resilien terhadap perubahan pasar, serta memaksimalkan value unlock Telkom Group.
Alasan Spin Off
Rencana transaksi merupakan langkah strategis yang sejalan dengan tren global di industri telekomunikasi, dimana sejumlah operator besar telah membentuk entitas infrastruktur tersendiri untuk meningkatkan transparansi, efisiensi, serta penciptaan nilai jangka panjang.
Benchmark global menunjukkan bahwa operator terkemuka seperti Telstra (Australia), Telecom Italia (TIM) dan CETIN (Czech Republic) berhasil meningkatkan efisiensi operasional, memperkuat valuasi, serta mengembangkan kemitraan strategis melalui inisiatif serupa.
Bukti internasional juga menunjukkan bahwa pemisahan (carve-out) aset serat optik dari perusahaan telekomunikasi terintegrasi dapat menghasilkan peningkatan nilai yang signifikan, sebagaimana terlihat pada pengalaman sejumlah operator global seperti Telenor, Telefónica, TIM, dan KPN.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa pemisahan bisnis fiber memungkinkan operator untuk mengoptimalkan nilai intrinsik aset infrastruktur, menarik investor strategis, serta mendukung pertumbuhan berkelanjutan dalam ekosistem konektivitas digital.
Transformasi ini juga memungkinkan mereka untuk lebih fokus pada pengembangan Wholesale Connectivity Fiber sekaligus memperkuat daya saing di pasar global.
"Bagi kami, langkah serupa ini tidak hanya memperkuat posisi sebagai penyedia infrastruktur utama di Indonesia, tetapi juga menghadirkan layanan generasi terbaru yang lebih kompetitif, meningkatkan pengalaman pelanggan, serta mempercepat pemerataan digitalisasi secara nasional," tulis manajemen.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini










