AKURAT.CO Bitcoin kembali menjadi sorotan setelah analis pasar sekaligus kepala riset di Fundstrat Global Advisors, Tom Lee, menyampaikan proyeksi ambisius bahwa harga aset kripto terbesar di dunia itu bisa menembus USD200.000 sebelum akhir 2025.
Pandangan ini ia ungkapkan dalam wawancara dengan CNBC’s Squawk Box, dengan menekankan peran kebijakan Federal Reserve (The Fed) sebagai penentu utama arah pergerakan pasar kripto.
Lee menilai, dinamika kebijakan moneter The Fed akan sangat mempengaruhi kinerja Bitcoin maupun aset berisiko lainnya.
Menurutnya, data ketenagakerjaan terbaru di Amerika Serikat yang menunjukkan pelemahan pasar tenaga kerja telah mengubah ekspektasi pelaku pasar obligasi.
Saat ini, pelaku pasar memperkirakan ada kemungkinan tiga kali pemangkasan suku bunga tahun ini, lebih tinggi dibandingkan proyeksi resmi The Fed yang hanya dua kali.
Kebijakan suku bunga rendah biasanya mendorong investor untuk mencari instrumen dengan potensi keuntungan yang lebih besar, termasuk kripto.
“Arah kebijakan The Fed akan menentukan apakah momentum bullish Bitcoin berlanjut atau tidak,” ujar Lee dalam keterangannya, Rabu (10/9/2025).
Sejak lama, pasar finansial diketahui sangat responsif terhadap langkah The Fed, khususnya dalam hal suku bunga.
Ketika biaya pinjaman turun, arus modal cenderung mengalir ke instrumen investasi alternatif seperti saham teknologi, emas, hingga kripto.
Hal ini menjadikan Bitcoin salah satu aset yang paling diuntungkan jika The Fed benar-benar mengambil langkah pelonggaran agresif.
Tren ini juga terbukti di berbagai siklus sebelumnya. Beberapa kali periode penurunan suku bunga beriringan dengan penguatan signifikan di pasar kripto, memperkuat keyakinan bahwa sentimen global akan kembali menguntungkan Bitcoin.
Lee menambahkan, Bitcoin memiliki pola historis yang kuat dalam menunjukkan performa positif pada kuartal keempat setiap tahunnya.
Ia mencontohkan peristiwa pada 1998 dan 2024, di mana siklus pemangkasan suku bunga justru berbarengan dengan reli besar di pasar ekuitas maupun kripto.
Menurutnya, kuartal keempat sering kali menjadi momentum investor untuk masuk kembali ke pasar setelah menanti arah kebijakan moneter yang lebih jelas. Hal ini menciptakan kombinasi sentimen optimis dan peningkatan permintaan, yang menjadi bahan bakar reli harga Bitcoin.
Meski target harga USD200.000 terdengar ambisius, Lee menekankan proyeksi tersebut bukan sekadar spekulasi, melainkan didukung analisis fundamental.
Menurutnya, lingkungan global yang sedang menghadapi ketidakpastian justru bisa menjadi katalis positif bagi aset kripto sebagai instrumen lindung nilai maupun investasi jangka panjang.
Selain faktor kebijakan The Fed, sentimen pasar juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, termasuk potensi resesi di Eropa, tensi geopolitik, serta kebijakan fiskal di negara-negara besar. Semua faktor ini berpotensi mendorong investor untuk mendiversifikasi aset, termasuk ke Bitcoin.
Di luar faktor makroekonomi, perkembangan teknologi juga diyakini akan mendukung kenaikan harga Bitcoin.
Inovasi blockchain, peningkatan adopsi aset digital di sektor keuangan, serta tumbuhnya layanan berbasis kripto menjadi indikator positif bagi prospek jangka panjang.
Seiring dengan semakin banyaknya perusahaan besar yang mengadopsi blockchain, permintaan terhadap Bitcoin diperkirakan terus meningkat. Hal ini bukan hanya dari sisi investasi, melainkan juga sebagai bagian dari ekosistem keuangan digital yang semakin terintegrasi.
Peningkatan kualitas infrastruktur kripto turut memberi optimisme. Ekspansi bursa kripto global, regulasi yang semakin jelas di beberapa yurisdiksi, hingga adopsi pembayaran berbasis digital memperkuat posisi Bitcoin sebagai aset mainstream. Kombinasi ini diyakini mampu menopang pertumbuhan harga di masa depan.
Bagi investor ritel, kehadiran produk-produk baru seperti ETF Bitcoin di pasar tradisional semakin memudahkan akses investasi. Hal ini berkontribusi terhadap peningkatan likuiditas serta memperluas basis investor.
Meski begitu, Lee tetap mengingatkan bahwa volatilitas pasar kripto masih tinggi. Kebijakan mendadak dari regulator, perubahan arah moneter global, maupun perkembangan geopolitik bisa menjadi faktor yang menahan laju harga.
Oleh sebab itu, ia menekankan pentingnya analisis menyeluruh sebelum mengambil keputusan investasi.
Investor disarankan untuk memantau indikator makroekonomi secara rutin, sekaligus mengikuti perkembangan regulasi di berbagai negara. Keseimbangan antara optimisme dan kewaspadaan dinilai kunci dalam mengelola risiko di pasar kripto.
Dengan mempertimbangkan faktor makroekonomi, tren historis, serta perkembangan teknologi, proyeksi Tom Lee tentang Bitcoin yang berpotensi mencapai USD200.000 pada 2025 menjadi pandangan yang menarik.
Meski penuh tantangan, peluang ini tetap terbuka lebar jika kebijakan moneter global mendukung dan adopsi kripto semakin meluas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Contoh Teks Pidato Hari Santri 2026 Singkat dan Lucu, Mudah Dihafal!
- 2Link Twibbon Hari Santri 2026 Gratis, Lengkap dengan Cara Memasangnya
- 3Prediksi Skor Lille vs Galatasaray: Duel Sengit Demi Poin Perdana Liga Champions
- 4Prediksi Skor Aston Villa vs Viking 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan Menang
- 5Siapa Aktivis Greenpeace yang Viral di Bundaran HI? Ini Profil dan Pesan Aksinya
- 620 Link Twibbon Hari Santri Nasional 2026 Gratis untuk Dibagikan ke Media Sosial
- 7Prediksi Skor Sporting CP vs LASK Linz 22 Oktober 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 8Prediksi Skor Bali United vs Garudayaksa 21 Oktober 2026: Serdadu Tridatu Diunggulkan?
- 9KPK Buka Peluang Kembangkan Kasus Korupsi Jalan Sumut ke Pemprov, Bobby Nasution Disorot
- 10Perusahaan Asing Harus Bertanggung Jawab Atas Karhutla, Prabowo: Kita Cabut Izinnya









