Akurat

Harga Melonjak tapi Pendapatan Mandek, Begini Strateginya Agar Mampu Bertahan di Tengah Krisis

Hefriday | 22 Juni 2025, 17:40 WIB
Harga Melonjak tapi Pendapatan Mandek, Begini Strateginya Agar Mampu Bertahan di Tengah Krisis

AKURAT.CO Era tekanan ekonomi yang kian berat, masyarakat Indonesia dihadapkan pada dilema serius yakni pendapatan tetap, sementara harga kebutuhan pokok terus melonjak. Harga beras yang hari ini dijual seharga Rp12 ribu per kilogram, bisa saja naik menjadi Rp15 ribu dalam hitungan minggu.

Belum lagi tagihan listrik, sewa rumah, dan kebutuhan harian lainnya yang ikut naik. Situasi ini membuat banyak keluarga harus memutar otak agar tetap bisa bertahan.

Dikutip dari beberapa sumber, Minggu (22/6/2025), fenomena ini tak lepas dari berbagai faktor, salah satunya adalah ketergantungan Indonesia terhadap impor bahan pangan serta terganggunya rantai pasok global. Selain itu, cuaca ekstrem, mahalnya biaya distribusi, hingga spekulasi pasar turut memperburuk kondisi. Alhasil, daya beli masyarakat terus tergerus, dan banyak rumah tangga harus mengencangkan ikat pinggang.

Baca Juga: Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi 8 Persen, Pemerintah Siapkan 3 Strategi Ini

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi year-on-year (y-on-y) pada Januari 2025 tercatat sebesar 0,76%, dengan harga pangan sebagai kontributor utama. Sementara pendapatan sebagian besar masyarakat tidak mengalami kenaikan yang signifikan, tekanan ekonomi menjadi semakin nyata, khususnya bagi kelas menengah ke bawah.

Banyak keluarga mulai mengurangi konsumsi, mencari penghasilan tambahan, atau bahkan berutang untuk memenuhi kebutuhan pokok. Penurunan daya beli berdampak langsung pada sektor riil, terutama usaha kecil yang mengalami penurunan omset drastis. Meski begitu, sejarah mencatat bahwa dalam setiap krisis selalu ada ruang untuk bertahan asal dilakukan dengan strategi yang tepat.

Langkah pertama untuk bertahan dalam situasi seperti ini adalah mengelola keuangan secara lebih disiplin dan realistis. Metode anggaran 50/30/20 bisa menjadi titik awal yang baik, di mana 50% pendapatan dialokasikan untuk kebutuhan pokok, 30% untuk keinginan, dan 20% untuk tabungan serta investasi. Jika pendapatan menurun, pengeluaran untuk keinginan harus dikurangi, dan dana darurat harus diprioritaskan.

Baca Juga: Misbakhun: Kebijakan Cukai Tinggi Bisa Tekan Daya Beli dan Penerimaan Negara

Strategi lainnya adalah dengan meminimalkan pengeluaran yang tidak perlu. Memasak di rumah lebih hemat dibanding makan di luar, menggunakan transportasi bersama bisa menekan biaya, dan efisiensi dalam penggunaan listrik serta air dapat menurunkan tagihan. Sementara itu, membangun dana darurat juga menjadi kunci penting, dengan target mencakup minimal 3–6 bulan pengeluaran rumah tangga.

Selain penghematan, cara paling efektif untuk bertahan adalah dengan mencari sumber pendapatan tambahan. Di tengah krisis, beberapa sektor usaha kecil justru tetap bertahan, bahkan berkembang.

Misalnya, usaha makanan dan minuman rumahan. Frozen food, catering hemat, dan camilan sehat tetap dicari karena masyarakat tetap membutuhkan makanan dengan harga terjangkau dan kualitas baik.

Selain itu, usaha yang berkaitan dengan kebutuhan pokok seperti toko sembako kecil, minuman herbal, atau bisnis air minum isi ulang tetap berputar karena dibutuhkan setiap hari. Bahkan menanam sayur atau memelihara ternak skala rumahan bisa menjadi alternatif menarik.

Era digital juga membuka peluang usaha jasa freelance. Dengan modal laptop dan internet, banyak pekerjaan bisa dilakukan dari rumah, seperti desain grafis, admin media sosial, penulis konten, hingga jasa transkrip.

Sementara itu, sistem dropship atau reseller memungkinkan siapa saja untuk berjualan tanpa perlu modal besar, cukup dengan memasarkan produk orang lain dan mendapatkan komisi.

Tidak kalah penting, sektor jasa rumah tangga seperti service barang elektronik, laundry kiloan, atau cuci motor panggilan juga tetap dibutuhkan. Di masa sulit, orang lebih memilih memperbaiki barang lama daripada membeli yang baru.

Krisis memang berat, namun bukan akhir dari segalanya. Dengan strategi pengelolaan keuangan yang ketat dan memilih sektor usaha yang tetap relevan, masyarakat dapat bertahan dan bahkan berkembang di tengah badai ekonomi.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

H
Reporter
Hefriday
Andi Syafriadi