Akurat Logo

Misbakhun: Pertumbuhan Kredit Jadi Tolak Ukur Ekspansi Ekonomi

Silvia Nur Fajri | 25 Juni 2024, 19:27 WIB
Misbakhun: Pertumbuhan Kredit Jadi Tolak Ukur Ekspansi Ekonomi

AKURAT.CO Anggota Komisi XI DPR, Mukhamad Misbakhun, menyatakan bahwa pertumbuhan kredit merupakan tolok ukur penting dalam ekspansi ekonomi Indonesia. Menurutnya, daya beli masyarakat dapat diukur dari pertumbuhan kredit, yang menjadi faktor pendorong utama ekonomi nasional.

"Pertumbuhan kredit menjadi tolak ukur ekspansi. Daya beli masyarakat bisa diukur dari sana jadi faktor pendorong antara 52-56 persen ekonomi Indonesia didorong oleh konsumsi rumah tangga kita," ujar Misbakhun dalam Webinar Akurat.co bertajuk Banking Series: Pertumbuhan Kredit di Tengah Ancaman Risiko Global pada Selasa (25/6/2024), yang didukung oleh BNI dan Jamkrindo.

Selanjutnya, Misbakhun menjelaskan bahwa peran perbankan, khususnya sektor UMKM, sangat vital dalam menjaga daya beli masyarakat. Ia menegaskan bahwa UMKM memainkan peran penting dalam stabilitas ekonomi karena mereka membantu mempertahankan daya beli masyarakat.

Baca Juga: OJk Akselerasi Kredit UMKM, Manajemen Risiko Jadi Fokus

"Perbankan terutama sektor UMKM mempunyai peran yang penting dalam menjaga daya beli masyarakat. Dan daya beli masyarakat banyak ditolong oleh perbankan," jelasnya.

Lebih lanjut, Misbakhun menekankan pentingnya menjaga kondisi makroekonomi agar masyarakat memiliki daya beli yang kuat. Ia menambahkan bahwa ketersediaan pekerjaan adalah elemen penting dalam hal ini. "Sehingga inilah mengapa harus jaga kondisi makro ekonominya supaya masyarakat mempunyai kemampuan daya beli," katanya.

"Yang pertama masyarakat harus punya pekerjaan. Pekerjaan tersedia kalau kita mempunyai investasi yang bagus dan investasi yang bagus harus diawali kondisi ekonomi makro yang bagus dan kondusif," imbuhnya.

Dalam pandangannya, ekonomi yang sehat dan kondusif akan menciptakan siklus positif di mana masyarakat bisa mendapatkan pekerjaan yang layak. "Dan semuanya berputar kembali dan kondisi yang bagus membuat masyarakat mendapatkan pekerjaan," kata Misbakhun.

Ia mengingatkan bahwa hanya sedikit negara yang mampu mempertahankan pertumbuhan ekonomi sebesar 5%, dan Indonesia adalah salah satunya. "Sedikit negara yang tumbuh ekonominya 5 persen yaitu Indonesia. Banyak kemudian negara yang gagal membangun ekonominya karena, misalnya, ketika menghadapi krisis Covid-19," paparnya.

Selanjutnya, Misbakhun juga menyoroti kekuatan makroekonomi Indonesia yang tercermin dari pertumbuhan ekonomi yang stabil, inflasi yang rendah, dan pertumbuhan kredit yang sangat ekspansif.

"Jadi betapa makro ekonomi kita begitu kuat, pertumbuhan yang bagus kemudian inflasi yang rendah dan pertumbuhan kredit yang sangat ekspansif dan pertumbuhan perbankan juga di atas 23 persen," ujarnya.

Namun, ia mencatat bahwa transaksi e-commerce masih relatif rendah, sekitar Rp487 triliun, yang menunjukkan masih ada ruang untuk pertumbuhan di sektor ini.

Dengan kondisi ekonomi yang demikian, Misbakhun optimistis bahwa Indonesia memiliki peluang besar untuk menjaga roda ekonominya tetap berputar. Sehingga, Misbakhun menekankan bahwa menjaga stabilitas makroekonomi, mendorong investasi yang baik, dan memperkuat sektor UMKM merupakan langkah-langkah krusial untuk memastikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.

"Jadi, Indonesia untuk menjaga roda ekonominya peluangnya besar dan pertumbuhan ekonomi kita paling besar ditopang oleh konsumsi rumah tangga, yakni kisaran 52-56 persen kontribusinya terhadap pertumbuhan," tukasnya.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.