AKURAT.CO Harga Bitcoin (BTC) belakangan ini mengalami fluktuasi yang membuat para investor merasa campur aduk. Nilai Bitcoin telah turun selama dua minggu terakhir karena beberapa investor menjualnya setelah peluncuran ETF Bitcoin awal bulan ini.
Harga Bitcoin terakhir kali mencapai USD38.900, turun 20,6% dari level tertinggi sekitar USD49.000 yang terjadi pada 11 Januari setelah SEC menyetujui ETF Bitcoin.
Kerugian ini telah menghapus sebagian dari kenaikan besar yang terjadi akhir tahun lalu, saat banyak yang berharap peluncuran ETF akan menarik lebih banyak investor ke Bitcoin.
Baca Juga: Sepekan ETF Bitcoin Disetujui, Kripto Ditaksir Masih Berpeluang Menghijau
Trader Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menganggap harga Bitcoin saat ini sangat penting di USD40.000, dan banyak yang khawatir bahwa pasar bearish akan berlanjut hingga halving pada bulan April.
"Penjualan besar-besaran oleh FTX melalui Grayscale dan kondisi pasar kripto yang belum positif telah mempengaruhi harga Bitcoin. Terdapat juga rumor bahwa FTX sedang menjual GBTC senilai USD900 juta, yang mungkin menjadi penyebab penurunan harga," jelasnya dikutip Kamis (25/1/2024).
Selain itu, pada akhir bulan ini, Bitcoin akan menghadapi volatilitas kondisi makroekonomi karena data ekonomi Amerika akan dipublikasikan. Data ini mencakup PDB kuartalan dan data inflasi Personal consumption expenditures (PCE).
Jika kedua data ini positif, Dolar AS mungkin akan menguat secara sementara, mempengaruhi pergerakan Bitcoin.
Ketidakpastian terkait data ekonomi ini juga membuat sulit untuk memprediksi pemulihan harga Bitcoin dalam waktu dekat. Ada kemungkinan harga Bitcoin akan tetap berada di sekitar USD40.000 hingga Februari 2024.
"Sehingga untuk saat ini belum ada kepastian terkait pemulihan karena masih banyaknya ketidakpastian di pasar. Kemungkinan besar tujuan saat ini berada pada USD36.000 jika kondisi pasar masih terus memburuk menjelang Februari nanti," jabar Fyqieh.
Saat ini, arah pergerakan harga Bitcoin sangat bergantung pada penutupan grafik mingguan yang sedang berlangsung. Grafik tersebut telah menunjukkan bahwa harga Bitcoin telah menembus batas bawah konsolidasinya yang kuat di sekitar USD40.000, menunjukkan kemungkinan volatilitas lebih lanjut di bawah angka tersebut, bahkan berpotensi turun hingga ke USD36.000.
Kejelasan mengenai tren harga ini diperkirakan akan muncul minggu depan, terutama setelah pengumuman kebijakan suku bunga dari The Fed di akhir Januari.
Jika terdapat berita positif dan harga BTC berhasil kembali di atas USD40.000, maka ada peluang bagi Bitcoin untuk memulihkan posisinya dan kembali bergerak naik dalam kisaran konsolidasinya antara USD40.000 dan USD44.000.
Para trader dan investor cenderung menunggu situasi menjadi lebih pasti karena saat ini Bitcoin berada dalam kondisi yang sangat tidak stabil dengan volume transaksi yang menurun.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 6Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 7Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 8Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 9Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang
- 10Survei PPI: Mayoritas Publik Puas dengan Kinerja Pemerintah dan Presiden Prabowo










