Social E-Commerce Ternyata Jadi Penyebab Utama Konsumsi Berlebihan

AKURAT.CO Overconsumption atau konsumsi berlebihan adalah masalah yang semakin meresahkan.
Penyebab utama dari overconsumption memang beragam. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, perkembangan pesat dari social e-commerce telah menjadi salah satu faktor utama yang bisa meningkatkan overconsumption.
Apalagi di setiap platform media sosial selalu hadir iklan-iklan produk tertentu yang bisa menarik pengguna untuk melakukan pembelian.
Faktor Penyebabnya
Banyak faktor yang menjadikan individu mempunyai perilaku overconsumption.
Berikut adalah beberapa penyebab overconsumption dari social e-commerce:
1. Kemudahan akses
Social e-commerce memungkinkan pengguna untuk dengan mudah menemukan produk dan layanan melalui platform sosial mereka.
Media sosial dan aplikasi e-commerce memberikan fitur-fitur pembelian yang memungkinkan pengguna untuk berbelanja secara impulsif.
Seiring meningkatnya waktu yang dihabiskan di platform sosial, konsumen cenderung terdistraksi oleh iklan dan produk yang ditawarkan, memicu dorongan untuk membeli barang-barang yang sebenarnya tidak mereka butuhkan.
2. Pengaruh endorsement
Selebriti, influencer dan pengguna sosial media sering kali menjadi pihak yang mendukung produk dan layanan melalui endorsement.
Kehadiran mereka di platform media sosial membantu menciptakan tren dan dorongan untuk mengikuti gaya hidup tertentu.
Pengguna yang terpengaruh oleh iklan dan rekomendasi ini seringkali berbelanja berlebihan, terutama untuk produk yang dianggap kekinian pada masanya.
Baca Juga: Bukan E-Commerce, Ini Penyebab Pasar Tanah Abang Tetap Sepi
3. Kompetisi sosial
Social e-commerce juga menciptakan kompetisi sosial di antara pengguna. Pameran barang-barang mewah atau unik di media sosial dapat memicu dorongan untuk menunjukkan status dan gaya hidup yang lebih baik daripada yang sebenarnya.
Hal ini mendorong orang untuk membeli lebih banyak, terutama dalam upaya untuk memenuhi ekspektasi sosial yang tercipta melalui platform tersebut.
4. Pola konsumsi sekali pakai
Kemudahan berbelanja online dan pengiriman cepat sering kali menghasilkan produk yang digunakan sekali atau hanya beberapa kali sebelum dibuang. Ini menciptakan lebih banyak sampah dan memperburuk masalah lingkungan.
Pengguna social e-commerce cenderung membeli barang-barang dengan cepat tanpa mempertimbangkan dampak jangka panjangnya.
Untuk mengatasi overconsumption yang dipicu oleh social e-commerce, dibutuhkan regulasi yang lebih ketat.
Platform-platform sosial dan perusahaan e-commerce perlu mempertimbangkan tanggung jawab sosial mereka dalam mempromosikan konsumsi berkelanjutan.
Selain itu, pendidikan konsumen tentang dampak lingkungan dan sosial dari overconsumption juga diperlukan.
Sebab, social e-commerce telah menjadi salah satu penyebab utama overconsumption di masyarakat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 5Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 6Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat








