Akurat Logo

Rupiah Naik 32 Poin Ke Rp15.260 Jelang Rilis Sejumlah Data Ekonomi Utama

M. Rahman | 29 Agustus 2023, 16:35 WIB
Rupiah Naik 32 Poin Ke Rp15.260 Jelang Rilis Sejumlah Data Ekonomi Utama

AKURAT.CO - Rupiah naik 32 poin ke level Rp15.260 pada penutupan perdagangan Selasa, 29 Agustus 2023 jelang rilis serangkaian data ekonomi utama minggu ini.

Pengamat pasar uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah banyak digerakan sentimen eksternal dan internal. Dari eksternal, sentimen rupiah besaral dari sejumlah data yang dijadwalkan rilis pekan ini.

Misalnya, data kepercayaan konsumen AS akan dirilis pada hari Selasa, sementara revisi produk domestik bruto kuartal kedua akan dirilis pada hari Rabu. Pembacaan pengeluaran konsumsi pribadi, ukuran inflasi pilihan Federal Reserve, akan dirilis pada hari Kamis, sementara data nonfarm payrolls bulan Agustus akan ditutup pada minggu ini.

Baca Juga: Rupiah Naik Tipis 3 Poin Ke Rp15.292 Usai Sinyal Kenaikan Fed Rate

"Tanda-tanda ketahanan perekonomian AS, khususnya terkait inflasi dan lapangan kerja, akan memberikan dorongan lebih besar bagi The Fed untuk terus menaikkan suku bunga. Meski begitu, dolar tetap berada di atas 2 persenpada bulan ini dan mulai mencatatkan kenaikan selama enam minggu berturut-turut karena ketahanan data ekonomi AS mendukung ekspektasi bahwa suku bunga akan tetap lebih tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama," kata Ibrahim dikutip Selasa (29/8/2023).

Ditambahkan, pertemuan The Fed selanjutnya akan dilakukan pada bulan September, dan meskipun diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunga pada saat itu, ekspektasi bahwa bank sentral AS akan menaikkan suku bunga pada bulan November semakin meningkat.

Selain itu, Presiden Bank Sentral Eropa Christine Lagarde pada hari Jumat menyerukan suku bunga yang lebih tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama untuk mencapai tujuan utama bank sentral yaitu membawa inflasi kembali ke target 2%.

"Rilis inflasi zona euro pada bulan Agustus akan dirilis pada akhir minggu ini, dan angka tahunan diperkirakan akan menunjukkan penurunan kecil menjadi 5,1 persen dari 5,3 persen pada bulan Juli, masih jauh di atas target bank sentral sebesar 2 persen," imbuh Ibrahim.

Sentimen Internal Rupiah

Dari internal, sentimen rupiah datang dari rencana Indonesia bergabung dengan BRICS. Indonesia dinilai tidak boleh terburu-buru bergabung dengan BRICS. Pasalnya BRICS, grup yang mencakup Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan itu, masih belum jelas memberikan manfaat ekonomi bagi Indonesia.

Dari 5 negara yang tergabung di dalam BRICS, hanya India dan China yang mengalami pertumbuhan ekonomi yang kuat selama 2010-2022. Adapun Rusia, Brasil dan Afrika Selatan selama ini tidak mengalami pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi.

Baca Juga: BRICS Sepakat Tangkal Proteksionisme 'Paman Sam'

Jika dibandingkan dengan ekonomi Indonesia, maka jauh di atas ketiga negara tersebut.  Sedangkan dari sisi perdagangan BRICS belum begitu baik, karena hanya menyumbang 11,4% dari perdagangan kolektif global anggotanya di era pra-pandemi, dan jumlah itu meningkat sedikit menjadi 11,9% pada periode pasca-pandemi. 

"Kemudian BRICS merupakan Bank Pembangunan Baru (NDB) yang layak diapresiasi.  Pasalnya, NDB adalah lembaga keuangan BRICS yang telah menyetujui pembiayaan US$32 miliar atau Rp487,8 triliun sejak mulai beroperasi pada 2015, dengan sebagian besar uang digunakan untuk proyek berkelanjutan dan sebagian besar pembiayaan BRICS berasal dari China," kata Ibrahim.

Sebagai informasi, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menghadiri KTT BRICS ke-15 di Johannesburg, Afrika Selatan pada pekan lalu dan mengatakan bahwa Indonesia belum mengajukan proposal untuk menjadi anggota BRICS. "Kami ingin membuat perhitungan yang diperlukan terlebih dahulu. Kami tidak ingin terburu-buru," kata Jokowi.

Berdasarkan data pemerintah, menunjukkan perdagangan Indonesia-China mencapai USD133,6 miliar atau Rp2.036 triliun pada 2022. Perdagangan bilateral Indonesia dengan India mencapai USD32,7 miliar atau Rp498 triliun tahun lalu.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa