Akurat Logo

Rupiah Naik Tipis 3 Poin Ke Rp15.292 Usai Sinyal Kenaikan Fed Rate

M. Rahman | 28 Agustus 2023, 19:40 WIB
Rupiah Naik Tipis 3 Poin Ke Rp15.292 Usai Sinyal Kenaikan Fed Rate

AKURAT.CO - Rupiah ditutup naik 3 poin ke level Rp15.292 pada penutupan perdagangan Senin, 28 Agustus 2023 usai Ketua Fed Jerome Powell membuka kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut.

Pengamat pasar uang dan Direktur PT Laba Forexindo Berjangka, Ibrahim Assuaibi mengatakan rupiah banyak digerakan sentimen eksternal dan internal. 

Dari eksternal, nampak dolar AS melemah dari level tertingginya dalam 12 minggu pada hari Senin karena para pedagang mempertimbangkan jalur moneter AS setelah Ketua The Fed mempertimbangkan pengetatan lebih lanjut.

Dalam pidatonya yang ditunggu-tunggu di Simposium Kebijakan Ekonomi tahunan Jackson Hole, Powell berjanji untuk bertindak dengan hati-hati pada pertemuan mendatang karena ia mencatat kemajuan yang dicapai dalam mengurangi tekanan harga serta risiko dari kekuatan ekonomi AS yang mengejutkan.

"Pasar mengantisipasi kemungkinan 80 persen bahwa Fed akan tetap bertahan di bulan depan, alat CME FedWatch menunjukkan, namun kemungkinan kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin di bulan November kini berada di 48 persen dibandingkan 33 persen pada minggu sebelumnya," kata Ibrahim dikutip Senin (28/8/2023).

Baca Juga: Rupiah Naik 49 Poin Ke Rp15.246 Usai BI Rate Ditahan

Sentimen eksternal rupiah lainnya yakni serangkaian rilis data ekonomi AS yang kuat telah membantu meredakan kekhawatiran akan resesi namun dengan inflasi yang masih di atas target The Fed, beberapa investor khawatir bahwa bank sentral AS akan mempertahankan suku bunga pada tingkat yang lebih tinggi lebih lama. Ketika The Fed menyoroti pentingnya data ekonomi AS yang akan datang, fokus investor minggu ini akan tertuju pada laporan gaji, inflasi inti, dan belanja konsumen.

Selain itu, pemerintah China mengumumkan langkah-langkah baru untuk meningkatkan pasar sahamnya. Tiongkok juga melonggarkan beberapa kebijakan hipotek untuk sektor propertinya yang sedang melemah, yang membantu menumbuhkan optimisme atas pemulihan ekonomi di negara tersebut. Meskipun para analis masih mempertanyakan apakah kebijakan tersebut akan membantu memacu pemulihan ekonomi di negara tersebut.

Faktor Internal Rupiah

Dari sisi internal, sentimen rupiah datang dari Bank Indonesia (BI) yang memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga 2023 akan sedikit melambat jika dibandingkan dengan kuartal kedua 2023. Pertumbuhan ekonomi pada kuartal ketiga 2023 mungkin akan berada antara 5,11% YoY hingga 5,15% YoY. Ini sedikit lebih rendah daripada pertumbuhan ekonomi yang tercapai pada kuartal kedua 2023 sebesar 5,17% YoY.

Hal tersebut diaminin oleh para ekonomi, agar pemerintah Indonesia berhati-hati pada kuartal ketiga 2023, karena  pertumbuhan ekonomi  Indonesia  dikhawatirkan bisa di bawah kuartal kedua 2023 akan jauh lebih berat dikarenakan ekspor yang menurun.

"Meskipun demikian, pertumbuhan ini masih di tingkat yang tinggi. Ini karena tidak ada faktor musiman yang mendukung, seperti perayaan hari raya, seperti yang terjadi pada kuartal kedua 2023. Hal ini juga diperhitungkan dalam konteks ketidakpastian global yang masih signifikan," imbuh Ibrahim.

Selain itu, pertumbuhan ini tetap kuat berdasarkan perkembangan beberapa indikator awal, seperti penjualan eceran, Indeks Manufaktur (PMI), dan harapan pendapatan. Indeks Penjualan Ritel (IPR) pada Juli 2023 mencapai 212,7, tumbuh sebesar 6,3% YoY. Meski begitu, secara bulanan mengalami penurunan sebesar 4,6% mom. Sementara itu, PMI Manufaktur pada Juli 2023 mencapai angka 53,3, naik sebesar 1,52% dibandingkan dengan bulan sebelumnya.

Pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga 2023 ditopang oleh pertumbuhan konsumsi, terutama konsumsi atau belanja pemerintah dan konsumsi rumah tangga. Sementara investasi tumbuh di bawah pertumbuhan ekonomi yakni sekitar 4%, dan ekspor-impor justru terkontraksi.

Melihat perkembangan ini, BI juga meyakini bahwa pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun 2023 akan tetap kuat, meskipun ada kemungkinan sedikit lebih rendah dari tahun sebelumnya, yang diperkirakan berada di kisaran 4,5% YoY hingga 5,3% YoY.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

M
Reporter
M. Rahman
Yosi Winosa