Akurat

Rasio Kredit Stagnan, AFTECH Dorong Sinergi Bank dan Pindar

Esha Tri Wahyuni | 13 Februari 2026, 10:50 WIB
Rasio Kredit Stagnan, AFTECH Dorong Sinergi Bank dan Pindar

AKURAT.CO Upaya mendorong pertumbuhan ekonomi 2026 menghadapi tantangan struktural, rasio kredit Indonesia terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) masih stagnan di level 36,4% pada periode 2024–2025.

Angka ini jauh tertinggal dibandingkan rata-rata negara berpendapatan menengah atas yang mencapai 74,46% dan negara menengah bawah di kisaran 62,72%.

Di tengah kondisi tersebut, Asosiasi Fintech Indonesia (AFTECH) bersama Mandala Consulting meluncurkan white paper bertajuk “Mendorong Perluasan Akses Kredit melalui Kolaborasi Bertanggung Jawab antara Bank dan Pindar” di Jakarta.

Dokumen ini menyoroti kesenjangan akses kredit formal sekaligus memetakan potensi kolaborasi antara perbankan dan platform pinjaman daring (pindar) atau fintech P2P lending.

Baca Juga: Berkenalan dengan Mojang, Panduan untuk Kelola Uang dan Utang di Era Keuangan Digital dari Easycash, AFTECH, dan IARFC

Sekretaris Jenderal AFTECH, Firlie Ganinduto, menilai stagnasi kredit bukan semata persoalan permintaan, melainkan keterbatasan sistem pembiayaan formal dalam menjangkau segmen underbanked.

“Perluasan akses kredit di Indonesia tidak dapat bergantung pada satu kanal pembiayaan saja. Kolaborasi yang bertanggung jawab antara perbankan dan pindar menjadi kunci penting untuk menjangkau masyarakat yang belum terlayani optimal, dengan tetap menjunjung prinsip kehati-hatian,” ujar Firlie dalam keterangan yang diterima di Jakarta, Jumat (13/2/2026).

Bank Jadi Penyandang Dana Utama Fintech

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan peningkatan signifikan peran bank sebagai sumber pendanaan industri pindar. Nilainya melonjak dari Rp4,5 triliun pada 2021 menjadi Rp46,1 triliun pada 2024.

Bahkan, pada Januari 2025, porsi pendanaan dari bank mencapai 71% atau sekitar Rp46,6 triliun, naik drastis dari 15% atau Rp1,5 triliun pada Januari 2021.

Firlie menyebut tren ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan perbankan terhadap model bisnis fintech lending.

“Perkembangan ini menegaskan urgensi kerangka kolaborasi yang lebih terstruktur dan berorientasi jangka panjang,” tambahnya.

48 Persen Penduduk Masih Underbanked

CEO Mandala Consulting, Manggala Putra Santosa, mengungkapkan tantangan utama kredit nasional terletak pada basis populasi yang belum sepenuhnya terintegrasi ke sistem keuangan formal.

Baca Juga: AFTECH Gandeng BSSN Perkuat Keamanan Siber Industri Fintech Nasional

Data World Bank menunjukkan sekitar 48% penduduk dewasa Indonesia masih underbanked. Sementara Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) OJK mencatat inklusi keuangan perbankan baru mencapai sekitar 70% pada 2025. Artinya, sekitar 30% populasi dewasa masih berada di luar sistem formal.

Di sisi lain, penetrasi internet Indonesia sudah mencapai 75%. Kondisi ini menciptakan peluang bagi pindar untuk menjangkau segmen yang belum tersentuh perbankan.

“Ini bukan semata soal kemampuan ekonomi, tetapi keterbatasan sistem penilaian risiko konvensional. Pindar memiliki fleksibilitas dan kecepatan untuk membaca profil risiko melalui data alternatif,” jelas Manggala.

Sepanjang 2019–2024, kanal pindar mencatat pertumbuhan tahunan sekitar 34%, menjadikannya segmen pembiayaan dengan ekspansi tercepat.

Jembatan Menuju Perbankan

Studi Cambridge Center for Alternative Finance (2022) menunjukkan lebih dari 50% peminjam pindar meningkatkan penggunaan rekening tabungan, dan lebih dari 35% mengajukan pinjaman bank setelah melunasi pinjaman di platform fintech.

Survei Mandala mencatat tren serupa: hampir 50% responden mengajukan pinjaman bank setelah menyelesaikan kewajiban di pindar. Sejumlah bank digital memanfaatkan momentum ini melalui strategi cross-selling kartu kredit dan pinjaman konsumtif.

Kepala Departemen P2P Lending AFTECH sekaligus Direktur Utama Easycash, Nucky Poedjiardjo, menekankan pentingnya tata kelola dan kepatuhan agar kolaborasi ini berkelanjutan.

“Platform pindar yang kredibel sudah memiliki kesiapan untuk mengimbangi standar perbankan. Jika tata kelolanya terus diperkuat, sinergi ini dapat menjadi batu loncatan menuju inklusi keuangan yang lebih merata,” ujar Nucky.

Dorong UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi

Direktur Ekonomi Syariah dan BUMN Kementerian PPN/Bappenas, Rosy Wediawaty, menilai optimalisasi berbagai kanal pembiayaan, termasuk kolaborasi konvensional dan inovatif, berperan strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

Riset International Monetary Fund (IMF) menunjukkan penyaluran kredit produktif dapat meningkatkan konsumsi, investasi, dan produktivitas secara signifikan.

Kolaborasi bank dan pindar memang bukan solusi tunggal atas persoalan struktural kredit nasional. Namun, di tengah rasio kredit yang stagnan dan kebutuhan pembiayaan UMKM yang terus meningkat, sinergi ini berpotensi menjadi mesin baru pertumbuhan, dengan catatan tata kelola, manajemen risiko, dan transparansi dijaga secara ketat.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.