OJK Dorong Penguatan DRC Lewat Inovasi Audit Internal dan Tata Kelola
Hefriday | 4 September 2025, 14:58 WIB

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan komitmennya untuk memperkuat ekosistem Digital Risk Center (DRC) sebagai bagian dari upaya menjaga integritas dan stabilitas sektor jasa keuangan.
Hal ini disampaikan oleh Ketua Dewan Audit OJK, Sophia Wattimena, dirinya juga menjelaskan, OJK terus mendorong konsep freelance model dalam penguatan DRC. Model ini diharapkan dapat mengakomodasi perubahan cepat di sektor keuangan digital sekaligus memperkuat sinergi antar-lembaga.
“Dalam RGS ini kami mendorong penguatan ekosistem DRC, di antaranya melalui pendekatan freelance model yang sering kami dengungkan,” ujarnya dalam Konferensi Pers yang dilakukan secara daring, Kamis (4/9/2025).
Menurut Sophia, ada tiga pilar utama yang menjadi fokus penguatan ekosistem tersebut. Pertama, memperkuat tata kelola yang berlandaskan etika, integritas, transparansi, dan akuntabilitas. Hal ini diyakini sebagai pondasi kepercayaan publik terhadap sektor jasa keuangan.
Menurut Sophia, ada tiga pilar utama yang menjadi fokus penguatan ekosistem tersebut. Pertama, memperkuat tata kelola yang berlandaskan etika, integritas, transparansi, dan akuntabilitas. Hal ini diyakini sebagai pondasi kepercayaan publik terhadap sektor jasa keuangan.
Baca Juga: Departemen Audit OJK Fokus Berantas Korupsi dan Perkuat Tata Kelola
Kedua, meningkatkan kapasitas dan efektivitas pengendalian internal serta manajemen risiko. Ia menegaskan, penguatan sistem pengawasan internal bukan hanya untuk kepatuhan, melainkan juga sebagai mekanisme perlindungan terhadap potensi risiko yang semakin kompleks di era digitalisasi.
“Selain memperkuat tata kelola, kami juga ingin meningkatkan kapasitas dan efektivitas pengendalian internal serta manajemen risiko,” tegas Sophia.
Pilar ketiga adalah mendorong transformasi fungsi audit internal. Sophia menyebutkan, audit internal di lembaga keuangan tidak lagi cukup hanya berfokus pada kepatuhan (compliance-based), melainkan harus berperan sebagai penasihat strategis (strategic advisor).
Kedua, meningkatkan kapasitas dan efektivitas pengendalian internal serta manajemen risiko. Ia menegaskan, penguatan sistem pengawasan internal bukan hanya untuk kepatuhan, melainkan juga sebagai mekanisme perlindungan terhadap potensi risiko yang semakin kompleks di era digitalisasi.
“Selain memperkuat tata kelola, kami juga ingin meningkatkan kapasitas dan efektivitas pengendalian internal serta manajemen risiko,” tegas Sophia.
Pilar ketiga adalah mendorong transformasi fungsi audit internal. Sophia menyebutkan, audit internal di lembaga keuangan tidak lagi cukup hanya berfokus pada kepatuhan (compliance-based), melainkan harus berperan sebagai penasihat strategis (strategic advisor).
“Audit internal itu tidak hanya compliance-based, tetapi juga menjadi strategic advisor yang bisa mendorong inovasi,” ujarnya.
Dengan peran baru tersebut, audit internal diharapkan mampu membantu organisasi beradaptasi dengan cepat, mengambil keputusan berbasis data, serta mendukung target pertumbuhan berkelanjutan.
Dengan peran baru tersebut, audit internal diharapkan mampu membantu organisasi beradaptasi dengan cepat, mengambil keputusan berbasis data, serta mendukung target pertumbuhan berkelanjutan.
Sophia menilai, transformasi ini akan menjadikan lembaga jasa keuangan lebih agile dan inovatif. “Fungsi audit internal juga harus mewujudkan organisasi yang lebih agile, adaptif, dan tentunya mendukung target-target pertumbuhan serta kesetaraan,” tambahnya.
Lebih lanjut, Sophia menegaskan bahwa penguatan DRC bukan hanya soal kepatuhan regulasi, melainkan juga strategi jangka panjang dalam menjaga kepercayaan investor dan stabilitas sistem keuangan.
Lebih lanjut, Sophia menegaskan bahwa penguatan DRC bukan hanya soal kepatuhan regulasi, melainkan juga strategi jangka panjang dalam menjaga kepercayaan investor dan stabilitas sistem keuangan.
"Dengan tata kelola yang kuat, lembaga jasa keuangan akan lebih siap menghadapi tantangan global seperti volatilitas pasar, perubahan teknologi, dan risiko geopolitik" tukasnya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tolak Bertahan di KTM Demi Ducati, Pedro Acosta: Saya Ingin Kalahkan Marc Marquez dengan Senjata yang Sama!
- 2Seharusnya Denny Indrayana Paham Penjelasan Jokowi Soal Ijazah Gibran, Kecuali Ada Dorongan Politik
- 3Kalender Jawa 25 September 2026: Benarkah Jumat Kliwon Hari Baik untuk Menikah?
- 4Live Streaming Timnas Indonesia vs Singapura Malam Ini, Cek Jam Tayang dan Linknya
- 5Prediksi Indonesia vs Malaysia di FIFA ASEAN Cup 2026: Susunan Pemain dan Skor!
- 6Indonesia vs Singapura Hari Ini Jam Berapa? Cek Jadwal FIFA ASEAN Cup 2026!
- 7Prediksi Skor Indonesia vs Singapura Hari Ini 25 September 2026, Cek Susunan Pemain!
- 8Klik Link Live Streaming Indonesia vs Malaysia FIFA ASEAN Cup 2026 Malam Ini
- 9KPK Pantau Temuan Fasilitas Mewah di Lapas Cibinong
- 10Kunjungi Pindad, Ketua MPR Dorong Penguatan Industri Pertahanan Nasional









