OJK: Perbankan RI Tetap Stabil di Tengah Ketidakpastian Global

AKURAT.CO Otoritas Jasa Keungan (OJK), mengungkapkan bahwa industri perbankan Indonesia tetap menunjukkan kinerja yang baik meskipun menghadapi tantangan global.
Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Dian Ediana Rae, menyebutkan bahwa kondisi global dapat mempengaruhi ekonomi suatu negara dan sektor jasa keuangan secara luas.
"Tidak dapat kita pungkiri bahwa kondisi yang terjadi pada satu belahan bumi dapat mempengaruhi ekonomi suatu negara dan bahkan berimbas pada sektor jasa keuangan secara global," ujar Dian Disampaikan dalam Webinar Akurat.co bertajuk Banking Series: Pertumbuhan Kredit di Tengah Ancaman Risiko Global, Selasa, (25/6/2024), yang didukung oleh BNI dan Jamkrindo.
Baca Juga: Kredit Perbankan Mei 2024 Tumbuh 12,15 Persen
Hal ini terjadi karena sektor jasa keuangan kini telah menjadi tanpa batas dan terintegrasi. Memasuki pertengahan kuartal kedua 2024, industri perbankan masih dihadapkan pada dinamika geopolitik seperti konflik di Timur Tengah dan perang Rusia-Ukraina.
"Perkembangan industri perbankan masih dipengaruhi oleh tantangan eksternal perekonomian global," jelas Dian.
Kebijakan suku bunga yang tinggi dan disrupsi rantai pasok juga menjadi tantangan tambahan. Meskipun demikian, kinerja perbankan Indonesia pada April 2024 tetap stabil. Dian menyebutkan bahwa kredit meningkat sebesar Rp66 triliun atau 0,91% dibandingkan bulan sebelumnya, dan secara tahunan kredit tumbuh 13,09% menjadi Rp7.310,7 triliun.
"Kredit UMKM juga meningkat sebesar 7,3 persen year-on-year, menjaga posisi di kisaran 20 persen," tambahnya.
Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh positif pada April 2024, dengan pertumbuhan sebesar 0,6% dibandingkan bulan sebelumnya dan 8,21% year-on-year menjadi Rp8.653 triliun. "Giro menjadi kontributor utama dengan pertumbuhan 81% year-on-year," ungkapnya.
Peningkatan intermediasi perbankan juga menjaga tingkat profitabilitas dengan net interest margin (NIM) sebesar 4,56%. Permodalan perbankan berada pada level yang kuat dengan Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 25,99%, memberikan bantalan mitigasi risiko yang solid di tengah ketidakpastian global.
"Rasio likuiditas juga memadai dengan Liquidity Coverage Ratio (LCR) dan rasio pembiayaan kepada pihak ketiga masing-masing sebesar 126,96% dan 28,58%," jelas Dian.
Serta, ia menegaskan bahwa meskipun bank sentral di berbagai negara mempertahankan kebijakan suku bunga tinggi, ketahanan perbankan Indonesia tetap terjaga. "Kondisi tersebut searah dengan kebijakan bank sentral yang mempertahankan suku bunga tinggi," ucap Dian.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 3Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 4Timnas Indonesia U-17 Putri Selangkah Lagi ke Piala Asia 2027, Anya Gabriella Ingatkan Laga Krusial
- 5Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 6India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 7Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 8Jadwal BRI Liga 1 Pekan Ini Lengkap dengan Live Streaming, Ada Persib vs Dewa United
- 9Eratnya Persahabatan Indonesia-Mesir, Prabowo Antarkan Langsung Keberangkatan Presiden El-Sisi
- 10Pertemuan Prabowo dan El-Sisi Hasilkan Empat Kesepakatan Kerja Sama, Mulai Statistik hingga Kelautan









