Kenali Kesaktian Suku Bunga The Fed Terhadap Kondisi Pasar Keuangan Global Termasuk RI

AKURAT.CO Inflasi dan suku bunga bank sentral AS biasanya cenderung bergerak ke arah yang sama. Hal tersebut dikarenakan suku bunga merupakan alat utama yang digunakan bank sentral AS atau The Fed dalam mengelola inflasi dan acuan pertumbuhan ekonomi.
Pertanyaan seperti kapan The Fed bakal menaikkan atau mempertahankan atau bahkan menurunkan suku bunga acuannya sering muncul di benak kita. Lantas bagaimana hubungan sebenarnya antara inflasi AS, suku bunga AS dan BI rate?
Mengutip Investopedia, saat ini Bank Sentral Amerika Serikat (AS) Federal Reserve atau The Fed tengah menargetkan tingkat inflasi rata-rata sebesar 2% sedangkan berdasarkan berbagai sumber inflasi AS saat ini masih mencapai 3,7% (year on year/yoy) pada September 2023.
Baca Juga: Rupiah Ambruk 97 Poin Terimbas Sentimen Inflasi AS Yang Masih Jauh Dari Target The Fed
Sedangkan The Feds menargetkan tingkat inflasi sebesar 2% dari waktu ke waktu dengan menetapkan kisaran suku bunga acuan atau Federal Funds Rate (FFR) dengan suku bunga antar bank pada simpanan semalam.
Suku bunga yang lebih tinggi umumnya merupakan respons kebijakan terhadap kenaikan inflasi, sebaliknya ketika inflasi sedang turun dan pertumbuhan ekonomi melambat, bank sentral mungkin akan menurunkan suku bunga untuk merangsang perekonomiannya.
Pada umumnya, jika inflasi sudah dapat terkendali, maka bank sentral akan menurunkan suku bunganya untuk meningkatkan masyarakat mengajukan pinjaman untuk memperluas baik bisnis maupun kebutuhan darurat yang diharapkan meningkatkan daya beli masyarakat.
Dampak Ke Perekonomian Global
Masalahnya, apapun keputusan The Fed, bahkan baru sekedar sinyal kenaikan (hawkish) bisa mendorong apresiasi atau penguatan dolar AS sehingga mata uang lain seperti rupiah melemah sebagai dampaknya. Sinyal-sinyal yang dikirm The Fed dapat berasal dari pernyataan para gubernurnya.
Logikanya, ketika suku bunga bank sentral AS naik, aliran investasi dunia akan otomatis bergerak ke sana karena status dolar AS dan AS sendiri yang dianggap sebagai safe haven bagi investor (pasti lebih memberikan keuntungan atau imbalan lebih besar di tengah ketidakpastian global).
Sepertinya yang kita ketahui, kurs sendiri sifatnya volatil atau naik turun dan kurs sendiri dapat mempengaruhi perekonomian global. Nilai mata uang negara merupakan tolak ukur atau yang disebut kurs.
Seperti contoh, jika dolar AS semakin tinggi nilainya terhadap mata uang negara lain, maka produk negara lain akan semakin murah bagi masyarakat AS dan barang-barang AS semakin mahal bagi penduduk negara lain dan sebaliknya.
Dalam pertemuan gubernur terkini, The Fed kembali menahan suku bunga acuannya di kisaran 5,25-5,5% untuk mengukur inflasi yang berdampak terhadap perekonomian global.
Keputusan The Fed tersebut mempengaruhi aliran modal internasional yang membuat ketika suku bunga AS naik, maka investor asing cenderung akan memindahkan investasinya ke AS dengan menawarkan imbalan lebih tinggi.
Hal tersebut yang meningkatkan permintaan terhadap dolar AS dan melemahkan nilai tukar mata uang dunia terhadap AS.
Oleh karena itu, The fed berupaya untuk menangani tingkat inflasi yang berkelanjutan dengan menahan suku bunga, dengan isyarat, jika inflasi belum turun secepatnya maka potensi kenaikan suku bunga akan masih berlanjut yang akan berdampak terhadap perekonomian global.
Sementara, untuk mengetahui hal tersebut, The Fed masih menunggu data-data ekonomi seperti lapangan kerja, gaji, termasuk juga pertumbuhan ekonomi. Sehingga Ketua Federal Reserve, Jerome Powell menyampaikan bahwa The Fed belum membuat keputusan terkait suku bunga di masa mendatang atau yang terdekat Desember 2023. Semuanya tergantung dari perkembangan data yang didapat.
Dampak Ke BI Rate
Lalu apa dampaknya ke BI rate? Saat The Fed menaikkan suku bunganya hingga berada di level di atas BI rate, namun BI mengambil jeda terlampau lama dan tidak mengikuti pergerakannya, pasar atau investor akan bereaksi negatif ke pasar keuangan dalam negeri dengan mengambil aksi profit taking berjamaah atau dikenal dengan masive capital outflow.
Pembacaan terhadap suku bunga The Fed menjadi tantangan tersendiri bagi BI, karena mereka harus menerapkan contrationary monetary policy (pengetatan/kenaikan) suku bunga dengan tetap bisa menjaga diferensiasi dengan Fed Rate dan mencegah aliran modal keluar.
Menilik BI rate saat ini yang berada di 6% dan Fed Rate yang berada di kisaran 5,25%-5,50%, masih ada spread yang cukup terkecuali jika The Fed menaikkan lagi suku bunganya satu lagi.
Menteri Keuangan di Era Presiden SBY, M. Chatib Basri, dalam akun Instagramnya @chatibbasri pernah memperingatkan Posisi suku bunga Fed Fund Rate (FFR) dan Bank Indonesia (BI) Rate yang berpotensi setara pada level 5,75% berisiko menimbulkan gejolak di pasar uang domestik.
Dia meyakini The Fed akan menaikkan Fed Fund Rate (FFR) 1 kali lagi tahun ini. Jika FFR meningkat dan sama dengan suku bunga BI, maka risiko arus dana keluar bisa terjadi.
Dalam posisi ini, BI akan sangat dilematis. Menurut Chatib, the impossible trinity mengajarkan bahwa jika BI ingin memiliki independen monetary policy, maka nilai tukar bergerak mengikuti pasar dan modal bergerak bebas.
Dia menekankan BI tak mungkin sepenuhnya mengadopsi floating exchange rate. Pasalnya, ungkap Chatib, depresiasi yang terlalu tajam dapat membuat exchange rate overshoot & ada trauma krisis 1998. Sebaliknya BI juga tidak bisa menaikkan suku bunga acuan tinggi sekali karena akan memukul pertumbuhan ekonomi.
BI ingin menjaga rupiah, opsi BI adalah menaikkan bunga mengikuti FFR untuk menjaga paritas bunga, atau intervensi di FX market ataupun kombinasi keduanya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Kalender Jawa 16 Oktober 2026: Weton Jumat Legi Disebut Punya Karakter Unik
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK










