Dewasa ini kemajuan Infrastruktur kian membuat Papua keluar dari keterisolasian dan mematahkan anggapan bahwa masyarakat melanesia tersebut selalu tertinggal.
Kepala Bappeda Provinsi Papua, Muhammad Musaad menuturkan, menakar Papua yang sekarang tidaklah bisa disamakan dengan Papua yang dulu. Kolaborasi pemerintah pusat bersama pihak swasta yang masif membangun infrastruktur serta sejumlah fasilitas pendukung tak dipungkiri mengikis persepsi miring dan nada minor terkait Papua.
Ia memaparkan, jika pada medio 1969 sampai dengan masa reformasi Papua masih tertinggal dan terbentur sejumlah keterbatasan-keterbatasan, maka sejak tahun 2002 pulau berkepala cendrawasih itu mulai berbenah kearah yang patut diacungi jempol. Pasalnya sejak saat itu Papua mulai mendapat kucuran dana Otonomi Khusus (Otsus).
"Pada tahun 2000 misal, APBD Papua itu hanya Rp900 miliar. Tentunya itu minim, bagaimana mungkin kita bangun Papua yang luas dengan kompleksitas yang ada dengan (APBD) sebesar itu. Nah, baru pada 2002 ada dana otsus yang Rp1,3 triliun. Kemudian ditambah dengan dana APBD kita yang semula Rp900 miliar jadi Rp1 triliun, kita akhirnya dapat dana 2,3 triliun tahun 2002," ujarnya dalam acara diskusi yang digelar IDX Channel bertajuk;. Papua Saat Ini, di Jakarta, Senin(12/11).
Kendati demikian, katanya melanjutkan, kondisi pembangunan Papua saat ini tentu saja tak bisa disamakan dengan daerah lain seperti di Jawa atau Sumatera yang notabene pembangunannya sudah gencar dilakukan jauh sebelum Papua.
"Pembangunan Papua secara sungguh-sungguh itu baru di tahun 2002. Jadi memang kita tak bisa membandingkan Papua dengan daerah lain di Indonesia. Kita harus melihat papua dari perspektif Papua," imbuhnya.
Dampak dari masifnya pembangunan di Papua tak ayal mendongkrak sejumlah lini perekonomian, selain itu secara perlahan namun pasti tingkat kemiskinan di sana pun kian terkikis dari waktu ke waktu.
"Tahun 2000 tingkat kemiskinan 54 persen.
Kemudian 2013 itu sudah diturunkan menjadi 31,51 persen, dan tahun 2018 ini kemiskinan Papua sudah diturunkan 27,62 persen. Jadi sebenarnya sudah lebih dari setengah kita berhasil menurunkan kemiskinan di Papua," papar dia.
Tak hanya itu, angin segar pembangunan juga membawa dampak bagi Indeks Pembangunan Manusia (IPM) di papua. Tercatat, pada tahun 2013, IPM Papua mencapai di angka 56, dan saat ini (2018) kembali meningkat menjadi 59,5.
Selanjutnya, di aspek lain, terkait isolasi transportasi Papua juga sedikit demi sedikit sudah bisa diatasi.
"Tapi karena seperti saya jelaskan tadi, karena kita baru mulai ditahun 2002, masih sekitar 17 tahun, sehingga memang masih membutuhkan energi yang besar untuk pembangunan Papua," kata dia.
Namun demikian, ia tak memungkiri bahwa bila ditilik secara keseluruhan, maka Papua terus mengalami pergerakan dan perubahan yang cukup nyata signifikan. Dan hal ini perlu diketahui oleh khayalak luas agar dapat menjadi pemicu dan memacu percepatan pembangunan di papua selanjutnya.
Pendekatan Spasial Kultural
Musaad menilai, dalam membangun Papua di masa mendatang perlu penanganan khusus yang tak bisa dilakukan hanya dengan satu pendekatan. Hal tersebut lantaran kondisi topografi wilayah di timur Indonesia tersebut yang memang beragam.
"Papua merupakan daerah yang memiliki topografi beragam, ada daerah yang kondisinya di bawah permukaan laut seperti Asmat. Ada daerah-daerah dengan ketinggian lebih dari 2.000 meter di atas permukaan laut. Ada yang berawa-rawa. Jadi memang berbagai macam topografinya, oleh karenanya membangun Papua tak bisa dilakukan hanya dengan satu pendekatan saja," paparnya.
Untuk itulah kenapa sejak tahun 2013, di bawah kepemimpinan Jokowi-JK, pemerintah daerah mulai mengubah metode pembangunan di Papua, bila semula lebih berbasis sektoral dengan satu pendekatan saja, maka saat ini memakai pendekatan yang kerap disebut dengan pendekatan spasial kultural.
"Jadi pendekatan kewilayahan berbasis kultur dan kita membagi Papua dalam lima kawasan adat dalam pembangunan, sehingga di masing-masing kawasan ini akan kelihatan apa masalahnya dan tentunya ditangani dengan cara yang beda," pungkasnya kemudian.[]