Google Ungkap Upaya Kloning Gemini, Penyerang Kirim 100 Ribu Prompt untuk Bongkar Pola AI

AKURAT.CO Google mengungkap adanya upaya untuk meniru kemampuan model kecerdasan buatan Gemini melalui serangan terstruktur berbasis prompt. Dalam satu kampanye, pelaku tercatat mengirim lebih dari 100.000 pertanyaan ke sistem.
Informasi ini diungkap dalam laporan terbaru Google Threat Intelligence Group yang menyoroti peningkatan aktivitas mencurigakan terhadap model AI canggih. Targetnya bukan membobol server, melainkan memahami cara kerja internal Gemini lewat respons yang dihasilkan.
Metode yang digunakan dikenal sebagai serangan distilasi, yakni teknik menyalin kemampuan model dengan menganalisis output secara masif. Pelaku memanfaatkan akses API resmi dan volume interaksi tinggi untuk mengumpulkan pola jawaban.
Dengan mengubah variasi topik, gaya bahasa dan konteks pertanyaan, penyerang berusaha memetakan struktur respons AI. Tujuannya adalah meniru kemampuan inti Gemini tanpa harus membangun model dari nol.
Google menyatakan praktik tersebut melanggar ketentuan layanan dan termasuk pencurian kekayaan intelektual. Perusahaan menilai upaya ini sebagai ancaman serius terhadap ekosistem pengembangan AI.
Sistem pemantauan internal Google mendeteksi lonjakan aktivitas tidak wajar secara real-time. Akun-akun yang terlibat langsung diblokir untuk mencegah eksploitasi lebih lanjut.
Dikutip dari keterangan resminya, Senin (2/3/2026), Google juga menegaskan tidak ada pelanggaran data pengguna dalam insiden ini. Fokus serangan sepenuhnya pada ekstraksi pola penalaran model, bukan pencurian informasi pribadi.
Perusahaan tidak mengungkap identitas pelaku, namun menyebut sebagian upaya serupa kerap berasal dari entitas swasta maupun peneliti independen. Motifnya diduga untuk memperoleh keunggulan kompetitif di tengah persaingan pengembangan AI.
Selain kasus distilasi, laporan tersebut menyinggung eksperimen penyalahgunaan lain seperti phishing berbasis AI dan pembuatan kode berbahaya melalui API. Hal ini menunjukkan bahwa model bahasa besar kini menjadi target eksploitasi di berbagai lini.
Kasus ini menegaskan bahwa perlindungan model AI semakin krusial di era persaingan teknologi global. Di tengah perlombaan menghadirkan chatbot paling canggih, isu keamanan dan etika menjadi tantangan yang tak kalah penting.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit




