Huawei Watch GT 6 Pro Punya Fitur Cek Risiko Diabetes, Saingi Apple dan Samsung

AKURAT.CO Huawei menghadirkan terobosan baru di pasar wearable lewat fitur pemantauan risiko diabetes pada Huawei Watch GT 6 Pro. Ini membuatnya selangkah lebih cepat dibanding Apple dan Samsung yang juga tengah mengembangkan teknologi serupa.
Fitur tersebut diperkenalkan melalui pembaruan resmi dalam ajang World Health Expo 2026 di Dubai. Meski begitu, teknologi ini belum dirancang untuk menggantikan metode cek gula darah konvensional seperti tes tusuk jari atau continuous glucose monitor (CGM).
Secara teknis, Huawei Watch GT 6 Pro tidak menampilkan angka kadar gula darah dalam satuan mmol/L atau mg/dL. Perangkat ini tidak dirancang untuk memberikan hasil pengukuran glukosa secara langsung seperti alat medis.
Sebagai gantinya, jam tangan memanfaatkan sensor photoplethysmography (PPG) untuk membaca perubahan volume darah. Data tersebut dikombinasikan dengan sejumlah parameter lain yang dikumpulkan selama tiga hingga 14 hari sebelum dianalisis di aplikasi khusus.
Baca Juga: HUAWEI FreeClip 2 Resmi Hadir di Indonesia Mulai Januari 2026
Pendekatan ini membuat fiturnya lebih berfungsi sebagai alat skrining awal, bukan diagnosis klinis. Pengguna hanya mendapatkan estimasi potensi risiko, bukan data medis yang bisa langsung dijadikan dasar terapi.
Saat ini fitur risiko diabetes masih eksklusif di Watch GT 6 Pro, meski Huawei disebut tengah menyiapkannya untuk perangkat lain. Di sisi lain, Apple dan Samsung juga mengembangkan sensor glukosa non-invasif, sehingga persaingan wearable kesehatan diperkirakan makin ketat.
Namun ada sejumlah keterbatasan yang perlu dicermati. Watch GT 6 Pro belum dipasarkan di Amerika Serikat, sehingga akses globalnya masih terbatas, sebagaimana dikutip dari Huawei Central, Selasa (17/2/2026).
Selain itu, akurasi teknologi ini masih menunggu pengujian independen yang membandingkannya dengan perangkat medis standar seperti CGM invasif. Tanpa validasi klinis terbuka, klaim performa masih perlu dipandang secara hati-hati.
Jika keakuratannya terbukti konsisten, teknologi ini bisa menjadi terobosan besar dalam pemantauan kesehatan berbasis wearable. Dampaknya tidak hanya pada pengguna, tetapi juga pada arah pengembangan perangkat pintar ke depan.
Fitur risiko diabetes non-invasif dapat menjadi nilai pembeda yang kuat di pasar smartwatch. Inovasi ini juga berpotensi menggeser fungsi jam tangan pintar dari sekadar pelacak kebugaran menjadi alat skrining kesehatan preventif yang lebih menyeluruh.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Update Medali Asian Games 2026 Hari Ini: Indonesia Raih 20 Medali, Cek Klasemennya!
- 2Dua Land Cruiser Disebut Bawa Rp480 Miliar ke Muktamar NU, Gus Lilur Kaitkan Rp180 Miliar dengan Nusron
- 3Jubir KPK: Kepala Kantor BPN Mojokerto adalah Istri dari Dirjen Kementerian ATR/BPN Lampri
- 4Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Nations League 25 September 2026
- 5Prediksi Italia vs Belgia 26 September 2026: Skor, H2H, Starting XI, dan Semua Prediksi
- 6Prediksi Skor Serbia vs Yunani di UEFA Nations League 2026-27: Starting XI, H2H, dan Semua Prediksi
- 7Presiden Suriah Bercanda dengan Trump: Kenapa Tak Beri New Jersey ke Israel?
- 8Prediksi Skor Belanda vs Jerman 25 September 2026: Debut Xavi dan Klopp
- 9Prabowo Undang Pakar dan Akademisi ke Istana, Diskusi Pengelolaan Gambut hingga Pencegahan Karhutla
- 10Aliran Dana Rp3,5 Miliar Waskita Karya ke Mantan Ketum Hipmi Akbar Himawan Sudah Masuk Gelar Perkara KPK




