OpenAI Siapkan Perangkat Berbasis ChatGPT, Ini 5 Hal yang Jadi Pertimbangan

AKURAT.CO OpenAI dikabarkan sedang mengembangkan perangkat keras berbasis ChatGPT. CEO OpenAI, Sam Altman, menyatakan bahwa perusahaannya akan bekerja sama dengan berbagai pihak untuk merevolusi interaksi manusia dengan komputer. Ia meyakini bahwa suara akan menjadi antarmuka utama di masa depan.
"AI memerlukan perubahan mendasar dalam cara kita berinteraksi dengan komputer. Suara akan menjadi media antarmuka pengguna," ujarnya, dikutip dari TechRadar, Jumat (7/2/2025).
Kabarnya, OpenAI bekerja sama dengan mantan desainer Apple, Jony Ive, dalam pengembangan perangkat ini. Jika benar, maka ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan agar perangkat ini sukses di pasaran.
1. Desain premium
Jony Ive dikenal sebagai sosok di balik desain ikonik produk Apple, seperti iPhone dan MacBook. Dengan keterlibatannya dalam proyek ini, ada harapan bahwa perangkat ChatGPT akan memiliki tampilan elegan dan ergonomis.
Meskipun belum ada detail spesifik mengenai bentuknya, kemungkinan besar perangkat ini akan membawa sentuhan estetika khas Ive yang telah terbukti sukses di pasar teknologi.
2. Fungsi yang jelas dan berguna
Produk AI sebelumnya, seperti Rabbit R1 dan Humane AI Pin, dinilai kurang efektif karena fitur-fiturnya bisa diakses langsung dari ponsel.
Agar tidak mengalami nasib serupa, perangkat ChatGPT perlu menjadi pendamping smartphone, bukan penggantinya.
Konsepnya bisa menyerupai Apple Watch atau Samsung Galaxy Watch, yang berfungsi sebagai perpanjangan dari perangkat utama.
Jika OpenAI menciptakan perangkat wearable, misalnya dalam bentuk pin atau gelang yang terhubung ke smartphone, maka fungsinya bisa lebih optimal.
Pengguna bisa merekam suara langsung dari perangkat dan mengakses hasilnya di ponsel. Dalam skenario ini, layar mungkin tidak diperlukan karena interaksi utama tetap melalui smartphone.
3. Bebas dari biaya berlangganan
Salah satu kelemahan Humane AI Pin adalah selain harganya yang mahal, pengguna juga dikenakan biaya langganan.
Saat ini, ChatGPT memiliki opsi gratis hingga berbayar dengan tarif mencapai $200 (sekitar Rp3,2 jutaan) per bulan untuk versi pro.
Jika OpenAI ingin menarik lebih banyak pengguna, mereka perlu mempertimbangkan skema harga yang lebih terjangkau.
Misalnya dengan mengintegrasikan layanan ChatGPT Plus seharga $20 (sekitar Rp325 ribuan) per bulan atau menyediakan opsi pembelian satu kali tanpa biaya tambahan.
4. Menjaga privasi pengguna
Privasi menjadi tantangan utama dalam pengembangan perangkat wearable berbasis AI.
Beberapa produk, seperti kacamata pintar Meta Ray-Ban, menuai kritik karena memiliki kamera bawaan yang bisa berpotensi melanggar privasi.
Jika perangkat OpenAI nantinya memiliki fitur kamera atau mikrofon, perusahaan perlu memastikan sistem keamanannya. Pengguna dan orang di sekitarnya harus merasa aman tanpa takut data mereka disalahgunakan.
Tanpa pendekatan privasi yang tepat, perangkat ini bisa menimbulkan kekhawatiran daripada manfaat.
5. Harga yang kompetitif
Selain biaya langganan, harga awal perangkat juga harus realistis. Humane AI Pin dijual seharga $699 (sekitar Rp11,3 jutaan), yang dinilai terlalu mahal untuk fungsionalitasnya.
Jika OpenAI ingin sukses, mereka harus menawarkan harga yang lebih bersaing, terutama jika produk ini akan bersaing di segmen wearable seperti jam tangan atau cincin pintar.
Untuk menarik lebih banyak pengguna dan membangun kategori produk baru, OpenAI perlu berpikir jangka panjang.
Menentukan harga yang masuk akal bisa menjadi langkah awal agar perangkat ini bisa diterima di pasar secara luas.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini








