Nvidia Investasi Rp7,6 Triliun di Israel, Apa Dampaknya pada Konflik Gaza?

AKURAT.CO Nvidia, perusahaan pembuat chip terkemuka dunia, baru-baru ini mengumumkan investasi senilai $500 juta (sekitar Rp7,6 triliun) untuk membangun pusat penelitian dan pengembangan kecerdasan buatan (AI) di dekat Haifa, Israel.
Sejak awal konflik, serangan militer Israel di Gaza telah menewaskan hampir 47.000 orang, sebagian besar adalah wanita, anak-anak dan lansia.
Di balik konflik ini, perusahaan teknologi seperti Nvidia, Intel, Google dan Microsoft memainkan peran besar dalam memperkuat kemampuan militer Israel melalui investasi di sektor teknologi.
Kolaborasi semacam ini dinilai dapat memperpanjang konflik dan penderitaan di wilayah Gaza. Fasilitas baru Nvidia akan menjadi salah satu pusat data terbesar di Israel, dengan laboratorium seluas 10.000 meter persegi yang dilengkapi infrastruktur AI canggih dan chip Blackwell terbaru.
Teknologi ini mendukung pengembangan sistem pengawasan dan analitik prediktif, yang berpotensi meningkatkan kemampuan Israel dalam melacak dan menargetkan individu di wilayah padat penduduk seperti Gaza dan Tepi Barat.
Chip AI Nvidia memiliki potensi penggunaan ganda, untuk keperluan sipil maupun militer. Kemampuan pengenalan wajah, analitik data real-time, hingga drone pengawasan canggih dapat memperkuat kontrol militer Israel, yang kerap mendapat kritik dari komunitas internasional.
Nvidia sebelumnya juga telah mengembangkan superkomputer Israel-1, sistem AI generatif paling kuat di Israel yang mampu memproses data dalam jumlah besar untuk aplikasi militer.
Sejak mengakuisisi Mellanox Technologies pada 2020 senilai $7 miliar (sekitar Rp106,4 triliun), Nvidia telah memperluas operasinya di Israel dengan lebih dari 4.500 karyawan, atau sekitar 15 persen dari tenaga kerja globalnya.
Perusahaan ini juga telah mendukung lebih dari 800 startup lokal, termasuk yang mengembangkan teknologi militer. Pada 2023, Nvidia menyumbangkan $15 juta (sekitar Rp228 miliar) ke organisasi nirlaba Israel dan internasional.
Sumbangan ini mencatatkan rekor sebagai penggalangan dana kemanusiaan terbesar dalam sejarah perusahaan. Investasi Nvidia mendapat kritik dari Mahmoud Al-Nawajaa, Koordinator Gerakan Boikot, Divestasi dan Sanksi (BDS), yang mempertimbangkan kampanye boikot terhadap perusahaan tersebut.
Sementara itu, Alaa Sabry, ilmuwan komputer yang berbasis di Norwegia, menilai bahwa kolaborasi perusahaan teknologi AS dengan Israel memperkuat dominasi geopolitik Amerika dan mendukung praktik apartheid serta kolonialisme.
"Hubungan AS-Israel digambarkan sebagai salah satu apartheid, penaklukan kolonial dan genosida, didukung oleh kecakapan teknologi Amerika," ujarnya, dikutip dari Trtworld.com, Minggu (19/1/2025).
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini


Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 4Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 5Bangkai Kapal Tertua di Dunia Berusia 4.700 Tahun Ditemukan di Turki, Apa Saja yang Terungkap?
- 6Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 7Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 8Trump Sudah Berhati-Hati Terlibat Perang, Netanyahu Berupaya Memicu Kembali Konfrontasi dengan Iran
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK






