Dekan UGM Tekankan Pentingnya Pembaruan Data dalam Kebijakan Satu Peta

AKURAT.CO Indonesia terus mengejar target memiliki data statistik dan informasi geospasial yang akurat, valid, dan terkini melalui Kebijakan Satu Peta (KSP).
Pengelolaan data geospasial yang tidak hanya sekadar peta atau gambar, tetapi juga informasi lengkap tentang kondisi di seluruh wilayah Indonesia bukan perkara mudah. Mengingat peta yang terus berkembang secara dinamis dari waktu ke waktu, membuat pembaruan data menjadi tantangan terbesar KSP.
Dekan Fakultas Geografi Universitas Gadjah Mada (UGM), Danang Sri Hadmoko mengungkapkan Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan besar dalam mengelola data dan informasi geospasial. Sehingga pembaruan data dan informasi dalam KSP menjadi wajib dilakukan secara berkelanjutan.
"Selama 8 tahun progres Kebijakan Satu Peta luar biasa bagus. Ini penting dan mendesak, karena informasi ini harus dimiliki negara untuk menyelenggarakan pemerintahan. Tapi peta itu selalu dinamis, jadi tantangannya harus updating terus menerus," kata Danang dalam dialog Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) dengan tema ‘Satu Peta, Satu Data untuk Satu Indonesia’, Senin (5/8).
Danang menjelaskan peta adalah entitas yang sangat dinamis, yang memerlukan pembaruan data dan informasi secara terus-menerus. Pembaruan data dan informasi ini menjadi salah satu pekerjaan rumah yang mesti diselesaikan oleh kementerian dan lembaga dalam menyokong KSP.
"Ini adalah pekerjaan berkelanjutan yang harus dilakukan oleh kementerian dan lembaga terkait," tambahnya.
Menurutnya, keakurasian data sangat penting, terutama untuk mendukung kegiatan ekonomi dan sosial. Misalnya, peta kerawanan bencana di suatu kota sangat krusial bagi investor dalam menilai risiko investasi mereka.
"Bagaimana iklim usaha di Indonesia bisa terbentuk dengan baik jika peta wilayah belum ada?" ujar Danang.
Ia mengakui masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan, misalnya penyediaan data dasar melalui citra satelit. Saat ini, Indonesia masih bergantung pada data dari sumber lain yang tidak selalu akurat.
"Untuk negara sebesar Indonesia, kita harus punya citra satelit sendiri, baik untuk pencitraan darat maupun wilayah laut," ungkap Danang.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Kalender Jawa 28 Oktober 2026: Watak Weton Rabu Pon, Benarkah Dikenal Pekerja Keras?
- 2Putin Nyatakan Rusia Siap Perang dengan Eropa Meskipun Tidak Menginginkannya
- 34 Link CCTV Jakarta Hari Ini, 28 Oktober 2026: Pantau Situasi Demo di Bundaran HI!
- 4Pemimpin Oposisi Israel Berjanji akan Mengganti Pemerintahan Netanyahu setelah Pemilu
- 5Pentagon Minta Negara NATO Redam Pernyataan Mengancam Rusia, Ada Apa?
- 6Kalender Jawa 29 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Wage Dikenal Punya Cita-Cita Tinggi
- 7Asuransi Astra Serahkan Toyota Veloz Hybrid kepada Dommy Eriko, Pemenang Undian GASPOL 2026
- 8Luhut soal Polemik Ekspor Gas: Ngapain Berkelahi dengan Singapura?
- 9Geledah Kantor PT IPPS, Kejagung Sita Ponsel dan Temukan Akses Ruangan Rahasia
- 10KPK Geledah Kantor Bea Cukai Semarang dan Kanwil Jateng, Sita Uang Tunai






