Pentingnya Mengetahui Modus-modus Pelaku Kejahatan Siber, Ini Diantaranya

AKURAT.CO - Dalam rangka kampanye Gerakan Nasional Literasi Digital di Indonesia, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) bersama dengan Gerakan Nasional Literasi Digital (GNLD) Siberkreasi menyelenggarakan webinar Literasi Digital #MakinCakapDigital 2023 untuk Pendidikan di wilayah DKI Jakarta, Banten dan Sekitarnya pada Rabu (20/9/2023).
Sejak kehadiran internet, masyarakat secara otomatis juga menjadi bagian dari warga digital yang berinteraksi maupun berkomunikasi menggunakan media digital.
Meski demikian, tidak ada perbedaan signifikan dari keberadaan di ruang nyata dengan ruang digital karena sama-sama harus memerhatikan aspek tata kesopanan serta keamanan digital.
Dengan perkembangan pesat teknologi, pengguna internet pun demikian masif menjadi keseharian setiap orang, dimana hal ini memengaruhi jumlah pemakainya.
Baca Juga: Waspada Modus Kejahatan Siber di Indonesia yang Meningkat Berkali Lipat
Sayangnya, kenaikan jumlah pengguna belum berbanding lurus dengan kemampuan literasi digital masyarakat Indonesia. Survei Badan Pusat Statistik (BPS) 2018 menyebutkan bahwa dari tiga subindeks, Indeks Pembangunan Teknologi Informasi dan Komunikasi (IP-TIK) Indonesia, subindeks keahlian yang memiliki skor paling rendah menurut data yang dirilis 2019.
Perlunya menguasai keahlian digital tak hanya tentang keterampilan menggunakan perangkat hardware maupun software, tapi juga pengetahuan tentang keamanan digital agar terhindar dari peretasan akun hingga penipuan digital.
"Rekayasa sosial atau social engineering sering dilakukan pelaku phising untuk mengelabui korban," ungkap Engineer DKIS Kota Cirebon, Aries Saeffulah saat menjadi nara sumber kegiatan literasi digital #makincakapdigital 2023 untuk segmen pendidikan di DKI Jakarta, Banten dan sekitarnya, Rabu (20/9/2023).
Ia menyambung, bahwa pengguna media digital harus mengetahui modus-modus pelaku kejahatan siber. Seperti dengan meminta kode OTP, password, berpura-pura menjadi instansi tertentu, serta meminta identitas yang merupakan nyawa bagi warga digital karena bisa disalahgunakan.
Secara fundamental, untuk warga digital harus mengamankan dirinya dengan berbagai cara. Mulai dari menyaring kebenaran informasi yang ada sebelum menyebarkannya, menggunakan password yang kuat, tidak menggunakan wifi publik karena ada kemungkinan data di perangkat bisa diretas, serta fitur 2 faktor autentifikasi agar akun tidak mudah dijebol.
Selain itu, setiap aktivitas di internet juga akan meninggalkan jejak digital. Inilah alasan pemahaman akan literasi digital perlu terus disampaikan agar menghindari risiko dari penyebaran data pribadi yang memungkinkan akun bank dibobol atau data pribadi disalahgunakan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Tidak Semua Pengabdian Berujung Bintang, Hormat untuk Kolonel Edward Sitorus
- 2Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 3Dua Jenderal TNI AD Dinilai Memenuhi Syarat Jadi Calon Panglima TNI, Siapa Saja?
- 4Tudingan Ijazah Palsu Dirinya dan Gibran Terus Bergulir, Jokowi: Berpotensi Pengalihan Isu
- 5Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK
- 6Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 7Cara Cek Desil Online Oktober 2026 Pakai NIK KTP, Ini Link Resminya
- 8Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 9Dua Tahun Dipimpin Prabowo: Harga Pupuk Turun 20 Persen, Kesejahteraan Petani Meningkat
- 10Boyamin Duga Nusron Wahid ke Malaysia Usai Menghindari Panggilan KPK








