Akurat

Teknologi Informasi Di Persimpangan Ideologi Dunia: Dimanakah Kemanusiaan?

Irma Fauzia | 15 Desember 2022, 19:04 WIB
Teknologi Informasi Di Persimpangan Ideologi Dunia: Dimanakah Kemanusiaan?

AKURAT.CO Menjelang tahun 2022 berakhir, industri teknologi informasi (TI) dikejutkan oleh manuver Elon Musk, dan Donald Trump, yang keduanya merupakan pengusaha terkenal, dan Trump adalah mantan Presiden Amerika Serikat. Ini terkait media sosial Twitter. 

Kemudian, tokoh baru Sam Bankman-Fried (SBF) yang banyak digadang media Amerika sebagai ‘next Warren Buffet’ juga membuat manuver terkait cryptocurrency. Kemudian, killer robot drone, yang merupakan aplikasi kecerdasan buatan (AI) sudah diterapkan di beberapa palagan di dunia. Mengapa Musk, Trump, SBF, dan killer robot menarik untuk didiskusikan, dan apa implikasinya bagi kemanusiaan mari kita kaji bersama. 

Menurut Michelle Nguyen dari Northwestern University, Twitter adalah media sosial yang sangat ‘political’.  Di Twitter-lah, terjadilah berbagai propagasi isu panas yang berpuncak pada plot kudeta 6 Januari 2021 di gedung capitol, Amerika Serikat. Karena Presiden Amerika Serikat Trump saat itu diduga ikut memanasi situasi, Direksi Twitter memutuskan untuk mensuspend akun Twitternya. Langkah ini juga diikuti oleh media sosial lain seperti Facebook dan Instagram. 

Namun, Donald Trump tetap memiliki pengaruh di industri TI, dengan mendirikan media sosial baru, yaitu Truth Social. Namun berbeda dengan Twitter, Truth Social sangat segmented dan lebih banyak didominasi oleh segmen ideologi tertentu, yaitu far-right. Melihat bahwa Donald Trump memiliki pengaruh atau impact yang signifikan di Twitter, dan untuk merebut market media sosial konservatif yang dikuasai oleh Truth Social, akhirnya Elon Musk mengembalikan akun Twitter mantan Presiden Amerika tersebut, segera setelah take over Twitter diselesaikan. 

Akan tetapi, sampai sekarang, Donald Trump belum mentwit apapun lagi. Kemudian, beberapa akun twitter tokoh far-right seperti Andrew Anglin dan Tim Gionet direvive kembali oleh Elon Musk. Sebelumnya, seakan mendukung posisi diplomatik Rusia, Elon Musk di akun Twitternya secara terbuka menganjurkan supaya sebaiknya Ukraina menjadi negara netral. Tindakan Elon Musk untuk mendekati kelompok far-right ini adalah fenomena yang menarik dicermati, mengingat track record mereka kebelakang, terutama dalam sejarah dunia. 

Menurut Berry Kraig, Kolumnis di surat kabar online ‘ Forward Kentucky’, Ideologi Far-right sebenarnya adalah fasisme yang berganti baju, supaya menjadi lebih ‘kekinian’. Sebagai konteks, ideologi yang dilahirkan oleh Benito Mussolini, dan dibesarkan oleh Adolf Hitler dan Hideko Tojo ini bertanggung jawab atas tewasnya 50-60 juta umat manusia selama perang dunia kedua. Kraig juga merujuk novel distopia populer ‘It Can’t Happen Here’, yang bercerita tentang kemunculan ‘Hitler versi Amerika’. 

Walaupun ini novel lawas, tapi juga dapat menggambarkan dengan baik seperti apa far-right di Amerika sekarang ini. Namun, jika dikaji lebih lanjut, pertimbangan utama Musk mendekati tokoh far-right sama sekali bukan karena faktor ideologi. Pertimbangan utama Musk jelas adalah bisnis. Musk sadar bahwa medsos mendapatkan profit dari semakin besarnya engagement akun-akun yang ada, termasuk twitwar antara berbagai pendukung ideologi yang ada. Musk mencoba memanfaatkan kecenderungan manusia untuk berkumpul di spektrum ideologi yang sama, untuk di monetize demi profit. 

Bagi Twitter, pertarungan antara pendukung ‘kiri’ dan ‘kanan’ adalah opportunity untuk profit taking sebanyak mungkin dengan berikan servis eksklusif seperti akun verified berbayar, dan tentu saja iklan. TI menjadi instrumen politik-bisnis dari Elon Musk itu sendiri.

Ideologi Elon Musk sebenarnya hanya satu, yaitu profit. Bukan ‘kanan’, apalagi fasisme/far-right. Sehingga dia terbuka dengan pihak manapun Tak heran ketika delegasi Indonesia yang dipimpin Pak Luhut Binsar Panjaitan berkunjung ke Pabrik Tesla di Texas, Musk menerima dengan baik dan tangan terbuka. Sangat berbeda dengan white-supremacist yang membenci Bangsa-bangsa Asia, Musk bukanlah seorang rasis sama sekali. Namun, tentu saja intervensi bisnis-politik pada TI tidak hanya media sosial. Cryptocurrency, sebuah platform finansial baru yang berbasis block-chain, juga dieksploitasi untuk kepentingan yang sama. 

Selain media sosial, cryptocurrency seperti Bitcoin dan Ethereum, menjadi ‘next big thing’ juga di dunia TI karena menjadi salah satu instrumen penting untuk trading.  Namun, juga terdapat ‘Ada’ yang lebih banyak digunakan untuk research, bukan trading. Cryptocurrency adalah perkembangan TI termutakhir. Namun, tidak berbeda dengan media sosial, akhirnya dalam konteks tertentu, Cryptocurrency menjadi instrumen bisnis-politik juga, dan mengabdi untuk kepentingan kelompok tertentu. SBF, CEO FTX yang bergerak dalam trading crypto, menjadi bangkrut dalam waktu singkat. Miliaran uang nasabahnya hangus karena spekulasi crypto. 

SBF sendiri sudah ditangkap di Bahama. Situasi menjadi rumit, karena FTX diketahui adalah salah satu donatur partai Demokrat sewaktu midterm election Amerika kemarin. Ditangkapnya SBF adalah kemunduran signifikan bagi pendukung demokrat yang cenderung liberal, dan sebagian media massa mainstream di Amerika mencoba mencuci-tangan. Padahal sebelumnya media-media tersebut memuji SBF setinggi langit, sebagai ‘next Warren Buffet’. 

Namun, kasus SBF mengakibatkan seluruh situs web dan akun media sosial yang didominasi far-right seperti reddit, menyudutkan cryptocurrency sebagai ‘tak bernilai dan tak berguna’. Bahkan mereka berani menyerukan untuk kembali menggunakan logam mulia seperti emas dan perak. Far-right juga menyudutkan SBF sebagai secara moral ‘dekaden’, karena menganjurkan polyamori, atau berganti-ganti pasangan. Terlihat disini bahwa para pendukung ideologi liberalisme pada akhirnya dimanfaatkan oleh pialang hitam seperti SBF, untuk mendapatkan profit dengan segala cara. Cryptocurrency, sebuah teknologi yang jelas sangat bermanfaat bagi kemanusiaan, jadi ikut diseret-seret pentolan far-right dengan kejatuhan SBF. Padahal masih jauh lebih banyak pialang crypto yang jujur, profesional, dan beretika.  

Sebelumnya, penulis sudah membahas aplikasi killer robot di media ini pada tulisan lain. Namun, perkembangan teknologi ini semakin memprihatinkan. Pada medan perang di Ukraina, pihak Ukraina berhasil menembak jatuh drone buatan Iran, yang berfungsi sebagai killer robot. 

Sementara itu, ilmuwan nuklir Iran Mohsen Fakhrizadeh diketahui dibunuh intelijen Israel dengan menggunakan ‘Killer robot’. Perkembangan teknologi otomatisasi di medan perang ini semakin memprihatinkan, dan menjadikan TI sebagai instrumen perang yang sangat diperhitungkan. Perkembangan ini menyebabkan rasa kemanusiaan kita terganggu, karena mortalitas di medan perang dapat terjadi hanya dengan ‘finger click’, bahkan secara otomatis dengan ‘killer robot’. 

Kondisi kebangkitan fasisme dan terdesaknya liberalisme ini ditangkap dengan sangat baik oleh perusahaan seperti Twitter. ‘Perang eksistensi’ antara ideologi bagi mereka hanyalah sekadar data-data engagement, dan diklaster dengan pembelajaran mesin. Untuk kemudian mereka pelajari polanya. Sehingga bisa menjual servis eksklusif bagi mereka, segera setelah polanya terbaca (pattern matching). 

Demikian juga oleh bandar hitam crypto seperti SBF. Berkedok filantropi, untuk ‘kemanusiaan dan membantu sesama’, SBF mengumpulkan miliaran dollar dana dengan skema ponzi, dan menghabiskannya di bursa spekulasi Crypto dalam sekejap mata. ‘Killer robot’ juga menjadi bisnis yang menggiurkan, karena demandnya sangat tinggi di daerah konflik seperti Ukraina. Namun, episteme seperti ini bukannya tak bermasalah. Mempropagasi kebencian terus menerus untuk kepentingan politik-bisnis seperti ini dapat berakibat fatal. Dan kulminasi kebencian fatal tersebut pernah terjadi. 

Perang dunia pertama dan kedua adalah momen dimana propagasi politik-bisnis kebencian yang mengadu domba negara-negara imperialis mencapai puncaknya. Penerapan teknologi tanpa etika, menghasilkan senjata kimia yang digunakan pada perang dunia pertama, dan senjata nuklir yang digunakan pada perang dunia yang terakhir. 

Sangat ironis, karena baik senjata kimia maupun nuklir dikembangkan dari teori fisika-kimia yang pada akhirnya pengembangnya mendapatkan hadiah nobel. Killer robot, walaupun belum secara resmi diklasifikasikan senjata pemusnah massal, diduga sudah mulai digunakan di berbagai palagan di dunia ini, termasuk di Nagorno-Karabakh (Armenia-Azerbaijan), dan tentu saja di Ukraina. 

Perang adalah instrumen politik-bisnis paling brutal, dan killer robot sudah mulai terlibat disana. Kita sudah mempelajari sebelumnya, bahwa dinamika media sosial seperti Twitter menjadi salah satu penyebab utama tersebarnya ide revolusi ‘arab spring’ ke seluruh dunia arab di tahun 2011 lalu. Revolusi tersebut akhirnya berpuncak di perang saudara Suriah, yang melahirkan kelompok teroris ISIS. Ini satu hal yang harus dicermati dengan baik, supaya bencana seperti di Suriah jangan pernah terjadi lagi. 

Kemudian, raibnya miliaran dollar modal FTX yang tentu saja diduga diketahui oleh SBF, juga menjadikan cryptocurrency menjadi sama dengan fiat money, yaitu juga bisa menjadi instrumen pencucian uang. Dalam ranah pencucian uang, semakin sulit diketahui asal-usul uang tersebut. Apalagi di crypto, yang tata kelolanya sangat terdesentralisasi. Disini, ‘netralitas’ teknologi, TI dalam hal ini, dipertanyakan. Sebab teknologi seperti media sosial, crypto, dan ‘killer robot’ sudah sangat jelas dimanfaatkan untuk melawan kemanusiaan itu sendiri. Bagaimana kita harus menyikapi hal ini?

Menurut Immanuel Kant, filsuf Jerman, perdamaian abadi antara bangsa adalah sesuatu yang harus dijunjung tinggi. Kant lebih lanjut menganjurkan supaya bangsa-bangsa di dunia bersekutu dan membentuk suatu liga atau perserikatan, untuk menjaga perdamaian dunia dan bekerja sama demi kemanusiaan itu sendiri. 

Dari reruntuhan perang dunia, visi Kant terwujud dengan lahirnya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).  Sampai sekarang, PBB berusaha untuk konsisten bekerja atas nama kemanusiaan. Seperti inisiatif badan kesehatan dunia (WHO) untuk mengkoordinasikan pengembangan vaksin COVID-19, dan upaya dewan keamanan PBB untuk menghentikan proliferasi senjata pemusnah masal. 

Sayangnya, sampai sekarang PBB belum mencapai konsensus untuk regulasi ‘killer robot’. Inisiatif WHO dalam mengatasi pandemi COVID-19 juga diserang habis oleh far-right di media sosial. Namun, ada sedikit harapan untuk kemanusiaan, karena SBF akhirnya ditangkap setelah sekian lama tak tersentuh hukum.  

Di sini, sesuai dengan semangat Kantian, adalah sangat penting TI dikembangkan supaya semua bangsa saling bekerja sama untuk kemanusiaan. 

Jadi mengembangkan visi ‘TI untuk kemanusiaan, untuk semua orang’. Bukan TI untuk kepentingan pihak atau kelompok tertentu. Prinsip kemanusiaan ini yang juga dipegang teguh oleh Henry Dunant, pendiri Palang Merah. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

I
Reporter
Irma Fauzia
A