Mengenal Teknologi Modifikasi Cuaca 'TMC'

AKURAT.CO Kondisi cuaca yang tidak menentu mengakibatkan penundaan jadwal balapan pada ajang WSBK Mandalika sempat menjadi sorotan. Pasalnya, akibat hujan, acara yang berlangsung pada 19-21 November lalu, pada balapan pertamanya sempat diundur.
Sebelumnya, di arena balap motor Internasional World Superbike (WSBK) Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika sudah dilakukan rekayasa cuaca. Namun, karena waktu persiapan yang terlalu sempit membuat hasil rekayasa tersebut belum sesuai dengan apa yang diharapkan.
Rekayasa yang dilakukan di arena Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika menggunakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC). TMC ini biasa digunakan untuk mendapatkan kondisi cuaca dan iklim yang diinginkan. Teknologi ini lebih dikenal sebagai teknologi hujan buatan karena sering digunakan untuk menurunkan hujan buatan.
Di Indonesia TMC banyak digunakan untuk berbagai tujuan. Misalnya, digunakan mengatasi kekeringan dengan menurunkan hujan pada waduk atau bendungan yang kering agar bisa menambah cadangan air. Selain itu, teknologi ini juga sering digunakan untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang sering terjadi di beberapa daerah. Bahkan TMC bisa digunakan untuk meningkatkan dan menekan potensi terjadinya hujan es dan mempercepat hilangnya kabut, serta mengurangi curah hujan.
TMC sendiri pertama kali dilakukan pada tahun 1940, yaitu dengan melakukan uji coba penyemaian awan. Teknik yang digunakan untuk penyemaian awan secara umum dilakukan dengan penambahan inti kondensasi supaya proses hujan dapat dipercepat. Seiring perkembangan waktu, proses penyemaian ini bisa dibalik, sehingga ketika uap air di atmosfer cukup banyak, bisa dihambat agar tidak berkembang menjadi awan hujan.
Di atmosfer, awan dapat terbentuk melalui proses kondensasi dari uap air. Supaya bisa berkondensasi, dibutuhkan adanya inti kondensasi yang berupa butiran garam atau partikel seperti debu. Dalam TMC, inti kondensasi inilah yang ditaburkan di udara. Jika ingin merekayasa cuaca supaya bisa mengurangi hujan pada suatu tempat, maka TMC dilakukan dengan cara mencegat awan yang menuju satu lokasi agar jatuh di tempat lain. TMC kemudian akan membuat awan segera menjadi hujan, supaya hujan tersebut jatuh sebelum sampai di satu tempat.
Dalam menggunakan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC), ada hal-hal yang perlu diperhatikan. Hal ini tentunya menjadi faktor pendukung keberhasilan rekayasa cuaca yang dilakukan. Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan, yaitu:
- Kecepatan angin. Apabila angin terlalu kencang, maka akan membuat awan justru menghilang.
- Arah angin. Hal ini menjadi penentu daerah yang akan mendapat hujan buatan.
- Suhu dan kelembapan udara.
Selain itu, untuk dalam melakukan rekayasa cuaca juga dibutuhkan pengukuran unsur cuaca yang meliputi:
- Jumlah curah hujan, intensitas hujan, distribusi ruang dan waktu curah hujan di permukaan tanah.
- Informasi data radiosonde lokal.
- Karakteristik awan dari foto satelit cuaca.
- Ketinggian dasar dan puncak awan, suhu awan, kadar air dan es di awan.
- Distribusi ukuran tetes hujan di permukaan tanah pada beberapa lokasi.
- Gaung dan reflektivitas radar.
- Karakteristik kepulan pembenihan.
- Hingga jenis, konsentrasi, ukuran dan distribusi spectral partikel es.
Sementara itu, pola cuaca sendiri merupakan sistem yang kompleks. Meskipun, TMC sudah banyak berhasil digunakan untuk merekayasa cuaca, tapi pada kasus-kasus tertentu bisa jadi tidak berpengaruh apa-apa atau gagal.
Hal ini dipengaruhi oleh kondisi meteorologi yang dianggap berperan penting dalam keberhasilan hujan buatan. Kondisi meteorologi sendiri masih belum dapat dikontrol. Selain itu, faktor lainnya yang membuat TMC gagal bisa dipengaruhi oleh keberadaan awan potensial yang minim dan tingkat kelembapan di atmosfer rendah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.





