Kerikil Jumrah Hilang Setelah Dilempar Jemaah Haji: Ke Mana Perginya?

AKURAT.CO Prosesi lempar jumrah menjadi salah satu rangkaian penting dalam ibadah haji yang dilaksanakan di Mina pada hari-hari tasyrik. Di balik ritual tersebut, muncul pertanyaan yang kerap mengundang rasa penasaran jemaah: ke mana perginya jutaan kerikil setelah dilempar?
Dalam pelaksanaan ibadah haji, jemaah melempar tujuh butir kerikil ke tiga titik jumrah, yaitu Jumrah Ula, Wustha, dan Aqabah. Ritual ini dilakukan sebagai simbol perlawanan terhadap godaan setan, meneladani kisah Nabi Ibrahim AS ketika menolak bujukan setan agar tidak menaati perintah Allah SWT.
Kerikil yang digunakan umumnya diambil dari Muzdalifah atau Mina dengan ukuran kecil, lebih besar dari biji adas namun lebih kecil dari kacang. Lempar jumrah dilaksanakan pada tanggal 10 hingga 13 Zulhijah, tergantung pilihan nafar awal atau nafar tsani jemaah.
Baca Juga: Timwas Haji DPR Soroti Keterlambatan Bus dan Distribusi Konsumsi Jemaah di Armuzna
Di kalangan sebagian ulama berkembang penjelasan spiritual mengenai kerikil jumrah. Dalam sejumlah riwayat disebutkan bahwa kerikil yang dilempar oleh jemaah yang hajinya diterima Allah SWT akan “diangkat ke langit” oleh malaikat.
Ibnu Umar pernah berkata:
“Demi Allah, sesungguhnya Allah mengangkat ke langit batu yang dilemparkan ke jumrah oleh mereka yang hajinya diterima oleh Allah SWT.”
Riwayat serupa juga disebut dalam beberapa kitab klasik, termasuk penjelasan yang dinisbatkan kepada Syaikh Abu Nu’man at-Tabrizi, seorang mufti Masjidil Haram pada masanya, yang dikisahkan pernah menyaksikan fenomena batu-batu yang tampak terangkat ke langit.
Meski demikian, secara teknis dan pengelolaan modern, jutaan kerikil tersebut ditangani secara sistematis oleh otoritas Arab Saudi.
Kerikil yang dilempar jemaah akan jatuh ke ruang penampungan di bawah fasilitas Jamarat dengan kedalaman sekitar 15 meter.
Petugas kemudian mengangkut kerikil menggunakan sistem sabuk berjalan sebelum disaring dan dibersihkan dengan semprotan air untuk menghilangkan debu serta kotoran.
Setelah itu, kerikil dipindahkan ke tempat penyimpanan khusus dan sebagian dapat digunakan kembali pada musim haji berikutnya.
Pengelolaan ini dilakukan untuk menjaga kebersihan area Jamarat sekaligus memastikan kelancaran pergerakan jutaan jemaah selama pelaksanaan ibadah haji.
Baca Juga: Jemaah Haji Dilarang Lempar Jumrah Siang Hari, PPIH: Cuaca Mina Sangat Panas
Pemerintah Arab Saudi juga menyediakan pasokan kerikil dalam jumlah besar melalui ratusan titik pengambilan di Muzdalifah dan fasilitas sekitar Jembatan Jamarat.
Pada musim haji 1447 Hijriah, otoritas Arab Saudi bersama PPIH Indonesia turut memperketat pengaturan lempar jumrah akibat suhu ekstrem yang melebihi 45 derajat Celsius.
Jemaah diimbau menghindari aktivitas pada siang hari dan mengikuti arahan petugas demi keselamatan selama berada di Mina.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 2Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 3Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 4Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 5India Diguncang Gelombang Penangkapan, Ribuan Orang Ditahan Jelang Demo Tuntut Ketua KPU Mundur
- 6Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 7Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 8Kesepakatan Diesel Trump-Putin Dicibir Zelensky: Kami Dijadikan Kedok
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini





