Anak Jadi Pelaku Kekerasan, KemenPPPA Dan Kepala Daerah Ini Harus Ditanggulangi!

AKURAT.CO Belakangan ini marak terjadi aksi kekerasan dan kriminalitas di mana anak di bawah umur menjadi pelakunya. Bahkan yang membuat prihatin beberapa aksi kekerasan dan kriminalitas ini korbannya adalah anak-anak juga.
Seperti yang terjadi baru-baru ini, seorang pelajar meninggal akibat disabet pedang di Simpang Pomad, Kota Bogor di mana pelakunya juga pelajar. Situasi ini menjadi peringatan dan persoalan serius karena menandakan saat ini sedang terjadi situasi dan kondisi yang kurang kondusif bagi tumbuh kembang anak-anak.
Anggota DPD RI yang juga Aktivis Perlindungan Anak Fahira Idris mengungkapkan, banyak faktor yang membuat anak menjadi pelaku kekerasan bahkan menjadi pelaku kejahatan atau kriminalitas. Bukan hanya faktor internal, terutama pola asuh keluarga, tetapi juga faktor eksternal yaitu lingkungan pergaulan anak yang menjadikan kekerasan sebagai kulturnya.
Faktor lain yang juga harus mendapat perhatian adalah masih adanya celah yang memungkinkan anak-anak masih bisa mendapatkan dan mengonsumsi miras dan narkoba. Situasi ini signifikan mendorong anak sebagai pelaku kekerasan dan kriminalitas.
Keterbatasan ruang berkreasi untuk menampung energi dan kreativitas anak dan remaja juga bisa menjadi faktor. Semua faktor ini semakin kompleks akibat kemajuan teknologi informasi yang membuat anak-anak begitu mudah menyaksikan berbagai tayangan kekerasan.
“Jadi faktornya (anak menjadi pelaku kekerasan dan kriminalitas) bukan hanya banyak tetapi juga kompleks dan saling terkait," ujar Fahira dalam keterangan tertulisnya, dikutip Jumat (17/3/2023)
Ia menegaskan, maraknya anak jadi pelaku kekerasan dan kriminalitas menjadi persoalan serius yang harus diurai dengan strategi komprehensif dan eksekusi yang tepat.
"Saya meminta kementerian terkait dan para kepala daerah mulai mencermati berbagai kejadian kekerasan dan kriminalitas yang dilakukan anak dan menjadikannya sebagai prioritas untuk segera ditanggulangi,” imbuhnya.
Menurut Fahira, akan menjadi sebuah kerugian besar tidak hanya bagi anak, keluarga, dan masyarakat tetapi juga bagi sebuah bangsa jika ditemukan banyak anak-anak yang terjebak di dalam situasi dan kondisi lingkaran kekerasan baik sebagai pelaku maupun korban. Lingkaran kekerasan yang dialami anak harus segera diputus sehingga di manapun anak-anak berada bisa menikmati tumbuh kembangnya.
“Tantangan besar kita saat ini dan ke depan adalah memutuskan lingkaran kekerasan di mana anak sebagai pelaku dan menjadi korban kekerasan," tuturnya.
Anak yang menjadi pelaku kekerasan dan kriminalitas sudah pasti akan berkonflik dengan hukum sehingga pasti akan berpengaruh terhadap tumbuh kembang dan masa depannya.
Sementara, lanjut dia, anak yang menjadi korban kekerasan juga berpotensi menurunkan kualitas hidupnya akibat dampak kekerasan yang dialaminya bukan hanya fisik tetapi juga jiwa hingga anak dewasa. []
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Moto3 Malaysia: Angkat Topi, Hiroshi Aoyama Terpukau dengan Penampilan Veda Ega Pratama di Sepang
- 2Prediksi Skor Shakhtar vs Sporting CP 4 November 2026: Sama-Sama Incar Kebangkitan
- 3Putusan MA Soal Suket Gibran, Margarito Kamis Ungkap Dampaknya terhadap Jabatan Wapres
- 4Transfer Bank Kena Pajak Digital Mulai 9 November 2026? Ini Faktanya
- 5Prediksi Skor LASK Linz vs Slovan Bratislava 4 November 2026: Tuan Rumah Diunggulkan
- 6Prediksi Pertandingan Galatasaray vs Stuttgart 4 November 2026: Skor, Starting XI, dan Jadwal
- 7Prediksi Skor Atletico Madrid vs Bayern Munchen 4 November 2026: Los Rojiblancos Diunggulkan
- 8Kisi-Kisi dan Contoh Soal Matematika Wajib TKA SMA 2026 Lengkap dengan Kunci Jawaban
- 9Istana: Penyadapan yang Dilakukan Listyo Sigit Mengarah Perbuatan Makar
- 10Prabowo Tunjuk Letjen Ariyo Windutomo Jadi Pelaksana Tugas Kepala Staf Kepresidenan Menggantikan Listyo Sigit



