Akurat Logo

Cara Mengubah Energi FOMO Menjadi Semangat Fastabiqul Khairat

Lufaefi | 27 Oktober 2026, 10:00 WIB
Cara Mengubah Energi FOMO Menjadi Semangat Fastabiqul Khairat
FOMO dalam Kehidupan Generasi Z - Istimewa

AKURAT.CO Istilah FOMO atau fear of missing out semakin akrab dengan kehidupan generasi muda. Perasaan takut tertinggal dari orang lain dapat muncul ketika melihat teman mendapatkan pekerjaan baru, membeli sesuatu yang sedang tren, mengikuti perjalanan ke tempat tertentu, atau mencapai prestasi yang belum berhasil diraih. Media sosial membuat perasaan tersebut semakin kuat karena kehidupan orang lain dapat terlihat setiap saat melalui layar ponsel.

FOMO sebenarnya tidak selalu harus berakhir negatif. Jika dikelola dengan tepat, energi dari rasa ingin mengejar ketertinggalan dapat diarahkan menjadi motivasi untuk melakukan sesuatu yang lebih positif. Dalam perspektif Islam, semangat tersebut memiliki kemiripan dengan konsep fastabiqul khairat, yaitu berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan.

Al-Qur'an memberikan dorongan agar manusia tidak hanya menjadi penonton dalam kebaikan. Allah SWT berfirman:

فَاسْتَبِقُوا الْخَيْرَاتِ ۚ أَيْنَ مَا تَكُونُوا يَأْتِ بِكُمُ اللَّهُ جَمِيعًا ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan. Di mana pun kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sungguh, Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Al-Baqarah: 148).

Baca Juga: Pesantren Didorong Jadi Benteng Pelestarian Naskah Islam Nusantara

Ayat tersebut menawarkan cara pandang yang menarik terhadap fenomena FOMO. Jika FOMO membuat seseorang takut tertinggal karena melihat pencapaian orang lain, fastabiqul khairat mengajarkan agar dorongan untuk mengejar itu diarahkan kepada kebaikan. Fokusnya bukan lagi “mengapa saya tidak seperti dia?”, tetapi “kebaikan apa yang bisa saya lakukan hari ini?”

Perbedaannya cukup mendasar. FOMO biasanya lahir dari perbandingan sosial dan keinginan untuk tidak terlihat tertinggal. Sementara fastabiqul khairat berangkat dari kesadaran bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk berbuat baik sesuai kemampuan masing-masing. Karena itu, keberhasilan orang lain tidak harus menjadi sumber kecemasan. Ia justru dapat menjadi inspirasi.

Misalnya, ketika melihat teman aktif melakukan kegiatan sosial, seseorang tidak perlu merasa rendah diri karena belum melakukan hal yang sama. Energi tersebut dapat diubah menjadi dorongan untuk ikut membantu orang lain. Ketika melihat seseorang rajin membaca Al-Qur'an, belajar, menulis, atau mengembangkan kemampuan, rasa “ingin mengejar” dapat diarahkan menjadi motivasi untuk memperbaiki diri.

Islam juga mengingatkan bahwa ukuran keberhasilan tidak semata-mata ditentukan oleh pencapaian yang terlihat. Allah SWT berfirman:

وَفِي ذَٰلِكَ فَلْيَتَنَافَسِ الْمُتَنَافِسُونَ

“Dan dalam hal yang demikian itu hendaknya orang-orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26).

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi