Akurat Logo

Belajar dari 10 Pemain Timnas: Seni Bertahan dan Menolak Menyerah Saat Dihantam Ujian Hidup

Lufaefi | 30 September 2026, 20:05 WIB
Belajar dari 10 Pemain Timnas: Seni Bertahan dan Menolak Menyerah Saat Dihantam Ujian Hidup
Seni bertahan hidup - Istimewa

AKURAT.CO Menjadi pemain Timnas Indonesia bukan hanya tentang mengenakan jersey merah putih dan bermain di hadapan puluhan ribu suporter. Di balik pertandingan yang disaksikan jutaan orang, ada proses panjang berupa latihan, persaingan, kegagalan, cedera, kritik, pergantian klub, hingga tuntutan untuk terus membuktikan diri.

Pada 2026, sejumlah nama seperti Rizky Ridho, Marselino Ferdinan, Thom Haye, Egy Maulana Vikri, Ragnar Oratmangoen, Ivar Jenner, Maarten Paes, Justin Hubner, Dony Tri Pamungkas, dan Nadeo Argawinata kembali menjadi bagian dari perjalanan Timnas Indonesia dalam berbagai agenda.

Kisah mereka dapat dibaca lebih luas. Bukan hanya tentang sepak bola, tetapi tentang bagaimana seseorang menghadapi tekanan dan tetap berusaha ketika hidup tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Islam sendiri tidak menjanjikan bahwa perjalanan hidup seorang manusia akan selalu mudah. Justru, Al-Qur'an mengingatkan bahwa kehidupan merupakan bagian dari proses ujian.

Allah SWT berfirman:

أَحَسِبَ النَّاسُ أَن يُتْرَكُوا أَن يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, ‘Kami telah beriman,’ sedangkan mereka tidak diuji?” (QS Al-'Ankabut: 2).

Dari sinilah kita dapat belajar bahwa menghadapi ujian bukan tanda bahwa kehidupan telah gagal. Ujian merupakan bagian dari perjalanan manusia.

Pertama, belajar dari Rizky Ridho tentang bertumbuh melalui proses.

Rizky Ridho merupakan salah satu pemain yang terus mendapat tempat dalam skuad Garuda. Namanya tercantum dalam skuad Indonesia pada sejumlah agenda 2026. Ia juga tercatat menjalani pendidikan tinggi sambil menekuni karier sepak bola.

Pelajarannya sederhana: seseorang tidak harus memilih antara berkembang dan berhenti.

Dalam kehidupan, proses sering kali berjalan perlahan. Ada masa ketika hasil belum terlihat, tetapi seseorang tetap harus menjalankan tanggung jawabnya.

Allah SWT berfirman:

وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.” (QS An-Najm: 39).

Kedua, belajar dari Marselino Ferdinan tentang keberanian menghadapi tekanan.

Baca Juga: Viral Pelaku Kekerasan di Jalan Minta Maaf, Bagaimana Hukum Islam Memandang Pelaku Khilaf?

Marselino menjadi salah satu nama muda yang terus mendapat perhatian dalam perjalanan Timnas Indonesia. Ia juga tercatat sebagai mahasiswa dan pernah mendapatkan beasiswa atas prestasinya bersama Timnas.

Menjadi pemain muda di level nasional berarti harus menghadapi ekspektasi yang besar. Namun, tekanan tidak selalu harus dihindari.

Dalam kehidupan, ada saatnya seseorang harus berani mengambil tanggung jawab meskipun dirinya belum merasa sempurna.

Keberanian bukan berarti tidak memiliki rasa takut. Keberanian adalah tetap bergerak meskipun tekanan ada di depan mata.

Ketiga, belajar dari Thom Haye tentang pentingnya kerja sama.

Thom Haye menjadi bagian dari skuad Indonesia pada sejumlah agenda 2026. Dalam sebuah kesempatan sebelumnya, ia menyoroti pentingnya kekuatan tim ketika satu pemain tidak dapat bermain dan pemain lain harus siap menggantikannya.

Pelajaran ini sangat relevan dengan kehidupan.

Tidak semua masalah harus diselesaikan sendirian.

Ada saatnya seseorang membutuhkan keluarga, sahabat, guru, pasangan, komunitas, atau orang yang dipercaya.

Islam juga mengajarkan pentingnya saling membantu dalam kebaikan.

وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan ketakwaan.” (QS Al-Ma'idah: 2).

Keempat, belajar dari Egy Maulana Vikri tentang menjaga kesempatan.

Egy merupakan salah satu nama yang tetap muncul dalam perjalanan skuad Garuda. Ia tercantum dalam skuad Indonesia untuk Piala AFF 2026 dan juga masuk dalam pemanggilan FIFA ASEAN Cup 2026.

Karier seorang pemain tidak selalu berada dalam satu titik. Ada masa mendapatkan kesempatan bermain, ada masa harus menunggu.

Kehidupan pun demikian.

Kadang seseorang berada di depan. Kadang harus menunggu giliran. Yang penting adalah tetap mempersiapkan diri ketika kesempatan datang.

Sebab kesempatan yang datang kepada seseorang sering kali membutuhkan kesiapan untuk mengubahnya menjadi hasil.

Kelima, belajar dari Ragnar Oratmangoen tentang perjalanan yang tidak selalu lurus.

Ragnar juga menjadi bagian dari skuad Indonesia dalam agenda 2026. Ia tercantum dalam daftar pemain Garuda pada Piala AFF dan FIFA ASEAN Cup.

Perjalanan hidup pun tidak selalu lurus.

Ada orang yang mencapai tujuan melalui jalan yang cepat. Ada pula yang harus berputar lebih jauh.

Karena itu, jangan terlalu cepat membandingkan perjalanan diri sendiri dengan perjalanan orang lain.

Halaman:
Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi