Akurat Logo

Benturan Peradaban di Era Modern dan Cara Islam Menyikapinya

Lufaefi | 9 Juli 2026, 10:00 WIB
Benturan Peradaban di Era Modern dan Cara Islam Menyikapinya
Ilustrasi Cara Islam Mengahadapi Benturan Peradaban (Freepik)

AKURAT.CO Perkembangan teknologi, arus globalisasi, serta semakin terbukanya interaksi antarbangsa membuat perbedaan budaya, agama, dan cara pandang semakin mudah bertemu.

Di satu sisi, kondisi ini membuka peluang lahirnya kerja sama dan saling belajar. Namun di sisi lain, perjumpaan tersebut juga kerap memunculkan gesekan yang oleh sebagian kalangan disebut sebagai benturan peradaban (clash of civilizations).

Istilah ini semakin dikenal setelah ilmuwan politik Samuel P. Huntington mengemukakan bahwa konflik di masa depan tidak lagi didominasi oleh ideologi atau ekonomi, melainkan oleh perbedaan identitas budaya dan peradaban. Meski teori tersebut menuai banyak kritik, kenyataannya berbagai konflik yang mengatasnamakan identitas masih sering terjadi di berbagai belahan dunia.

Islam memandang keberagaman bukan sebagai ancaman yang harus dihapus, melainkan sebagai ketetapan Allah SWT yang memiliki hikmah besar. Al-Qur'an menegaskan bahwa perbedaan merupakan bagian dari sunnatullah agar manusia saling mengenal, bukan saling memusuhi.

Allah SWT berfirman:

يا أيها الناس إنا خلقناكم من ذكر وأنثى وجعلناكم شعوبا وقبائل لتعارفوا إن أكرمكم عند الله أتقاكم

Artinya: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13).

Baca Juga: Hukum Menggunakan Tato untuk Pengobatan Penyakit Menurut Islam

Ayat ini menunjukkan bahwa keberagaman bukan alasan untuk saling merendahkan atau menciptakan permusuhan. Sebaliknya, perbedaan menjadi sarana membangun dialog, kerja sama, dan saling memahami.

Dalam sejarah Islam, Rasulullah SAW telah memberikan teladan hidup berdampingan dengan masyarakat yang berbeda agama dan suku. Ketika berada di Madinah, beliau menyusun Piagam Madinah yang mengatur kehidupan bersama antara kaum Muslim, Yahudi, dan kelompok masyarakat lainnya. Kesepakatan tersebut menunjukkan bahwa Islam mengakui pentingnya kehidupan damai dalam masyarakat yang majemuk.

Rasulullah SAW juga bersabda:

المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده

Artinya: "Seorang Muslim adalah orang yang kaum Muslimin selamat dari lisan dan tangannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa seorang Muslim harus menghadirkan rasa aman melalui ucapan maupun perbuatannya. Nilai tersebut juga menjadi fondasi dalam membangun hubungan yang harmonis dengan sesama manusia.

Di era digital, benturan peradaban tidak hanya terjadi melalui konflik fisik, tetapi juga melalui ruang media sosial. Perbedaan pendapat sering kali berubah menjadi ujaran kebencian, penyebaran hoaks, hingga provokasi yang memperuncing perpecahan. Padahal, Islam mengajarkan agar setiap informasi terlebih dahulu diperiksa sebelum dipercaya dan disebarkan.

Allah SWT berfirman:

يا أيها الذين آمنوا إن جاءكم فاسق بنبإ فتبينوا

Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, apabila datang kepada kalian seorang fasik membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya." (QS. Al-Hujurat: 6)

Prinsip tabayyun menjadi semakin penting di tengah derasnya arus informasi saat ini. Sikap kritis terhadap informasi dapat mencegah lahirnya konflik yang sebenarnya berawal dari kesalahpahaman.

Islam juga mengajarkan keseimbangan antara menjaga identitas keimanan dan menghormati hak orang lain. Seorang Muslim diperintahkan berpegang teguh pada ajaran agamanya tanpa harus merendahkan keyakinan orang lain. Sikap ini tercermin dalam firman Allah SWT:

لكم دينكم ولي دين

Artinya: "Untukmu agamamu dan untukku agamaku." (QS. Al-Kafirun: 6)

Ayat tersebut bukan ajakan untuk menjauh dari masyarakat yang berbeda keyakinan, melainkan penegasan tentang penghormatan terhadap kebebasan beragama sekaligus keteguhan dalam menjalankan akidah.

Baca Juga: Hari Ini Tanggal Berapa Hijriah? Cek Kalender Islam 6 Juli 2026

Di tengah dunia yang semakin terhubung, Islam mendorong umatnya menjadi pembawa rahmat, bukan sumber konflik. Perbedaan budaya, bahasa, maupun tradisi semestinya menjadi kesempatan untuk memperluas wawasan dan memperkuat kerja sama dalam berbagai bidang kemanusiaan.

Karena itu, cara terbaik menyikapi benturan peradaban bukanlah dengan membangun tembok permusuhan, tetapi memperkuat akhlak, memperluas dialog, mengedepankan keadilan, serta menjaga persaudaraan kemanusiaan.

Dengan bekal nilai-nilai tersebut, umat Islam dapat tetap teguh memegang ajaran agamanya sekaligus berkontribusi menciptakan dunia yang damai, saling menghormati, dan penuh kemaslahatan bagi seluruh manusia.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi