Tinggal Serumah dengan Mertua, Begini Saran Islam agar Tidak Timbul Problem Rumah Tangga

AKURAT.CO Tinggal satu rumah dengan mertua menjadi pilihan yang tidak sedikit dijalani pasangan suami istri di Indonesia. Sebagian melakukannya karena alasan ekonomi, membantu orang tua yang telah lanjut usia, atau karena belum memiliki rumah sendiri setelah menikah. Kondisi ini sejatinya tidak dilarang dalam Islam. Bahkan, apabila diniatkan untuk berbakti kepada orang tua, tinggal bersama dapat menjadi ladang pahala.
Namun, kehidupan satu atap dengan mertua juga memiliki tantangan tersendiri. Tidak sedikit persoalan rumah tangga berawal dari kurangnya komunikasi, campur tangan yang berlebihan, hingga hilangnya ruang privasi pasangan. Karena itu, Islam memberikan sejumlah tuntunan agar hubungan antara suami, istri, dan mertua tetap harmonis.
Salah satu hak yang diberikan Islam kepada istri adalah memperoleh tempat tinggal yang layak. Allah SWT berfirman:
أسكنوهن من حيث سكنتم من وجدكم
Artinya: "Tempatkanlah mereka (istri-istrimu) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu." (QS. At-Talaq: 6)
Ayat tersebut menunjukkan bahwa suami berkewajiban menyediakan tempat tinggal yang membuat istri merasa aman, nyaman, dan terjaga kehormatannya.
Baca Juga: Lamine Yamal Enggan Bertato Karena Muslim, Apa Hukum Memakai Tato dalam Islam?
Para ulama menjelaskan bahwa apabila tinggal bersama keluarga besar justru menimbulkan pertengkaran atau mengganggu hak istri, maka suami dianjurkan mengupayakan tempat tinggal yang terpisah sesuai dengan kemampuannya.
Selain itu, Islam juga sangat menjunjung tinggi privasi setiap penghuni rumah. Allah SWT berfirman:
يا أيها الذين آمنوا لا تدخلوا بيوتا غير بيوتكم حتى تستأنسوا وتسلموا على أهلها
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan mengucapkan salam kepada penghuninya." (QS. An-Nur: 27)
Meski tinggal dalam satu bangunan, setiap anggota keluarga tetap perlu menghormati ruang pribadi masing-masing. Kamar pasangan, misalnya, merupakan wilayah privat yang tidak sepatutnya dimasuki tanpa izin. Demikian pula persoalan rumah tangga sebaiknya tidak mudah dicampuri oleh pihak lain kecuali apabila diminta memberikan nasihat.
Dalam kehidupan bersama mertua, komunikasi yang baik menjadi kunci utama. Orang tua tentu memiliki pengalaman hidup yang panjang sehingga nasihat mereka sangat berharga.
Akan tetapi, setelah menikah, suami dan istri memiliki tanggung jawab untuk membangun rumah tangga mereka sendiri. Nasihat hendaknya diberikan dengan cara yang lembut tanpa mendominasi keputusan pasangan.
Rasulullah SAW bersabda:
الدين النصيحة
Artinya: "Agama adalah nasihat." (HR. Muslim)
Hadis tersebut menunjukkan bahwa memberi nasihat merupakan bagian dari ajaran Islam, tetapi penyampaiannya harus dilakukan dengan hikmah dan tidak menimbulkan permusuhan.
Di sisi lain, suami memegang peranan penting ketika muncul persoalan antara istri dan orang tuanya. Ia harus mampu bersikap adil, menjadi penengah, dan tidak membiarkan konflik berlarut-larut. Suami juga tidak boleh mengabaikan hak istri hanya karena ingin menyenangkan orang tua.
Allah SWT berfirman:
وعاشروهن بالمعروف
Artinya: "Pergaulilah mereka (istri-istri kalian) dengan cara yang baik." (QS. An-Nisa': 19)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa memperlakukan istri dengan baik merupakan kewajiban suami. Pada saat yang sama, berbakti kepada orang tua tetap harus dijaga tanpa mengorbankan keadilan dalam rumah tangga.
Apabila akhirnya pasangan memutuskan tinggal terpisah demi menjaga keharmonisan keluarga, keputusan itu bukan berarti mengurangi bakti kepada orang tua. Islam tetap memerintahkan setiap anak untuk menghormati dan berbuat baik kepada ayah dan ibunya.
Allah SWT berfirman:
وبالوالدين إحسانا
Artinya: "Dan berbuat baiklah kepada kedua orang tua." (QS. Al-Baqarah: 83)
Baca Juga: Hari Ini Tanggal Berapa Hijriah? Cek Kalender Islam 6 Juli 2026
Berbakti dapat diwujudkan dengan berbagai cara, seperti rutin mengunjungi orang tua, membantu kebutuhan mereka, merawat ketika sakit, serta selalu mendoakan kebaikan bagi keduanya.
Pada akhirnya, persoalan tinggal serumah atau terpisah dengan mertua bukanlah ukuran keharmonisan sebuah rumah tangga. Yang jauh lebih penting adalah setiap anggota keluarga memahami hak dan kewajibannya, menjaga adab, saling menghormati, serta mengedepankan komunikasi yang sehat.
Dengan demikian, rumah tidak hanya menjadi tempat tinggal, tetapi juga menjadi ruang yang menghadirkan ketenangan, kasih sayang, dan keberkahan bagi seluruh penghuninya.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 2Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 3Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 4Tak Perlu Pansus atau Hak Angket untuk Kasus Ijazah Gibran? Ini Kata Komisi II DPR
- 5Kalender Jawa 10 Oktober 2026: Watak Weton Sabtu Kliwon dan Hari Baiknya
- 6Bertarung di Korea Selatan Hingga Thailand, Klub Indonesia Tunjukkan Daya Saing di Asia
- 7John Herdman Terkejut dengan Standar Ekspektasi, Sebut Suporter Berharap Timnas Indonesia seperti Brasil
- 8Gratis! Pekan Antariksa Dunia 2026 di Indonesia, Cek Lokasi dan Cara Daftarnya
- 9Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan 100 Kampung Nelayan, Target Beroperasi Akhir Tahun
- 10Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara





