Akurat Logo

Bolehkah Ngefans Kepada Pemain Sepak Bola? Ini Hukumnya dalam Islam

Lufaefi | 1 Juli 2026, 06:59 WIB
Bolehkah Ngefans Kepada Pemain Sepak Bola? Ini Hukumnya dalam Islam
Ilustrasi Pemain Sepak Bola (AI)

AKURAT.CO Dunia sepak bola tidak hanya melahirkan klub besar dan pertandingan seru, tetapi juga menciptakan figur-figur yang dikagumi jutaan orang. Ada yang mengoleksi jersey, mengikuti semua pertandingan, menghafal statistik, bahkan menjadikan pemain favorit sebagai inspirasi hidup.

Fenomena ini dikenal dengan istilah “fandom” atau budaya mengidolakan tokoh. Lalu muncul pertanyaan yang cukup menarik: bolehkah ngefans kepada pemain bola menurut Islam?

Pertanyaan ini penting karena Islam tidak hanya mengatur ibadah ritual, tetapi juga mengatur bagaimana seseorang membangun rasa cinta, kekaguman, dan loyalitas kepada sesuatu.

Secara umum, mengagumi pemain bola bukanlah sesuatu yang otomatis haram. Menghargai kemampuan, disiplin, kerja keras, sportivitas, dan prestasi seseorang termasuk perkara yang dibolehkan.

Dalam Islam, mengapresiasi kelebihan orang lain bahkan dapat menjadi motivasi untuk berbuat baik.

Rasulullah SAW pernah menunjukkan penghargaan kepada orang-orang yang memiliki keahlian tertentu. Dalam hadis disebutkan:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ

“Sesungguhnya Allah menyukai apabila salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya secara profesional dan sungguh-sungguh.”
(HR. Al-Baihaqi)

Baca Juga: Hukum Meninggalkan Shalat Karena Sedang Nonton Bola

Dari sini, mengagumi kerja keras, latihan, kedisiplinan, atau pencapaian atlet bukanlah sesuatu yang bermasalah.

Namun, Islam memberikan batas yang jelas: jangan sampai kekaguman berubah menjadi pengkultusan.

Al-Qur’an mengingatkan:

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ

“Dan di antara manusia ada yang menjadikan selain Allah sebagai tandingan-tandingan, mereka mencintainya sebagaimana mencintai Allah.”
(QS. Al-Baqarah: 165)

Ayat ini memang berbicara dalam konteks yang lebih besar tentang kecintaan yang menyaingi posisi Allah. Tetapi para ulama menjelaskan bahwa ayat tersebut juga menjadi peringatan agar manusia tidak memberikan loyalitas dan kecintaan secara berlebihan kepada makhluk.

Dalam konteks sepak bola, seseorang boleh menyukai pemain tertentu, tetapi tidak sampai menjadikannya pusat identitas hidup.

Ada perbedaan besar antara “mengagumi” dan “mengidolakan secara berlebihan”.

Mengagumi berarti menghargai prestasi.

Mengidolakan secara berlebihan berarti menempatkan seseorang di posisi yang tidak proporsional.

Misalnya rela meninggalkan salat demi menonton pemain favorit, marah berlebihan ketika idolanya dikritik, menghabiskan uang secara tidak terkendali, atau meniru semua gaya hidupnya tanpa mempertimbangkan nilai agama.

Rasulullah SAW pernah memberikan peringatan:

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتِ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ

“Janganlah kalian berlebihan memujiku sebagaimana orang Nasrani berlebihan memuji Isa putra Maryam.”
(HR. Bukhari)

Jika kepada Nabi saja umat diminta untuk tidak berlebihan dalam pengagungan, maka kepada tokoh publik tentu prinsip itu lebih relevan lagi.

Imam Al-Ghazali dalam pembahasan tentang cinta dan keterikatan menjelaskan bahwa hati manusia memiliki kapasitas terbatas; apa yang paling banyak menguasai hati akan memengaruhi orientasi hidup seseorang.

Karena itu Islam tidak melarang rasa suka, tetapi mengarahkan agar rasa suka tetap berada di bawah nilai-nilai utama.

Menariknya, Islam juga mengenal konsep keteladanan.

Allah berfirman:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ

“Sungguh telah ada pada diri Rasulullah teladan yang baik bagi kalian.”
(QS. Al-Ahzab: 21)

Ayat ini bukan berarti umat Islam tidak boleh memiliki figur lain selain Nabi, tetapi mengingatkan bahwa teladan tertinggi tetap berada pada nilai kenabian.

Artinya, seseorang boleh belajar disiplin dari pemain bola, belajar kerja keras dari atlet, belajar konsistensi dari pelatih, tetapi ukuran benar dan salah tetap kembali kepada agama.

Dalam kaidah fikih dikenal prinsip:

المُبَاحُ يَنْقَلِبُ حَرَامًا بِالسَّبَبِ

“Sesuatu yang asalnya boleh dapat berubah menjadi haram karena sebab tertentu.”

Baca Juga: Hukum Begadang untuk Nonton Bola menurut Pandangan Islam: Boleh atau Justru Makruh?

Ngefans kepada pemain bola termasuk aktivitas yang hukum asalnya boleh. Tetapi hukumnya bisa berubah jika menyebabkan fanatisme berlebihan, pemborosan, membuka aurat, meninggalkan kewajiban, atau meniru hal-hal yang bertentangan dengan syariat.

Karena itu, hukum ngefans kepada pemain bola dalam Islam adalah boleh selama dalam batas wajar.

Boleh mengagumi permainannya.

Boleh mendukung klubnya.

Boleh memakai jerseynya.

Boleh menikmati pertandingan.

Tetapi jangan sampai tahu seluruh statistik idolanya, sementara lupa berapa rakaat salat yang baru dikerjakan. Jangan sampai hafal jadwal liga dunia, tetapi tidak hafal jadwal kewajiban kepada Tuhannya.

Karena pada akhirnya, dalam Islam yang dilarang bukan rasa kagumnya, melainkan ketika rasa kagum itu mengambil tempat yang seharusnya tidak ia miliki.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi