Menjelang Hari Raya Iduladha, Ini Etika dan Syarat Menjadi Juru Sembelih Hewan Kurban

AKURAT.CO Menjelang Hari Raya Iduladha, aktivitas penyembelihan hewan kurban menjadi pemandangan yang umum ditemukan di berbagai masjid, musala, dan lingkungan masyarakat.
Di balik proses tersebut, terdapat peran penting seorang juru sembelih atau penyembelih hewan kurban yang menentukan sah atau tidaknya proses penyembelihan menurut syariat Islam.
Karena itu, Islam tidak memandang penyembelihan sekadar aktivitas teknis memotong hewan, melainkan bagian dari ibadah yang memiliki aturan, etika, dan tanggung jawab moral. Seorang juru sembelih dituntut memahami tata cara syariat sekaligus menjaga perlakuan baik terhadap hewan.
Allah Swt. berfirman:
فَكُلُوا مِمَّا ذُكِرَ اسْمُ اللَّهِ عَلَيْهِ
Artinya: “Makanlah dari apa yang disebut nama Allah ketika menyembelihnya.” (QS. Al-An’am: 118).
Ayat tersebut menunjukkan pentingnya penyembelihan yang dilakukan sesuai ketentuan agama, termasuk menyebut nama Allah saat proses penyembelihan berlangsung.
Baca Juga: Catat! 10 Cacat Pada Hewan Ini Bisa Bikin Kurban Tidak Sah
Dalam Islam, terdapat beberapa syarat utama bagi seorang juru sembelih hewan kurban. Pertama, beragama Islam atau ahli kitab menurut sebagian pendapat ulama. Mayoritas ulama menegaskan bahwa penyembelihan oleh seorang Muslim lebih utama dan lebih menjamin terpenuhinya syariat.
Kedua, berakal dan memahami tata cara penyembelihan. Penyembelih harus mengetahui bagian yang wajib dipotong, tata cara membaca basmalah, serta memahami etika memperlakukan hewan.
Ketiga, mampu melakukan penyembelihan dengan baik. Dalam hal ini, penyembelih harus memiliki keterampilan menggunakan alat sembelih agar hewan tidak tersiksa dan proses kematiannya berlangsung cepat.
Rasulullah Saw. bersabda:
إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ الْإِحْسَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ فَإِذَا ذَبَحْتُمْ فَأَحْسِنُوا الذِّبْحَ وَلْيُحِدَّ أَحَدُكُمْ شَفْرَتَهُ وَلْيُرِحْ ذَبِيحَتَهُ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mewajibkan berbuat ihsan dalam segala hal. Jika kalian menyembelih, maka sembelihlah dengan cara yang baik. Hendaklah salah seorang dari kalian menajamkan pisaunya dan membuat hewan sembelihannya nyaman.” (HR. Muslim).
Hadis tersebut menjadi dasar penting mengenai etika penyembelihan dalam Islam. Seorang juru sembelih tidak boleh kasar, terburu-buru, atau memperlakukan hewan secara semena-mena.
Di antara etika penting dalam penyembelihan adalah menggunakan pisau yang tajam agar hewan tidak merasakan sakit berkepanjangan. Islam juga melarang menajamkan pisau di depan hewan karena dapat membuat hewan stres dan ketakutan.
Selain itu, hewan sebaiknya diperlakukan dengan tenang dan tidak diseret secara kasar menuju tempat penyembelihan. Dalam banyak kasus, para ulama menganjurkan agar hewan diberi minum terlebih dahulu dan dibaringkan dengan baik sebelum disembelih.
Saat proses penyembelihan berlangsung, juru sembelih dianjurkan membaca:
بِسْمِ اللَّهِ وَاللَّهُ أَكْبَرُ
Artinya: “Dengan nama Allah, Allah Maha Besar.”
Ucapan tersebut menjadi bagian penting dalam penyembelihan syar’i sebagai bentuk penghambaan kepada Allah Swt.
Dalam praktik fikih, bagian yang wajib dipotong saat penyembelihan ialah saluran pernapasan, saluran makanan, dan dua urat leher utama agar hewan cepat mati secara sempurna. Karena itu, keterampilan teknis seorang juru sembelih sangat dibutuhkan agar proses berjalan benar dan hewan tidak tersiksa.
Di era modern, profesi juru sembelih halal bahkan mulai mendapatkan perhatian khusus. Banyak lembaga dan pemerintah daerah mengadakan pelatihan sertifikasi juru sembelih halal untuk memastikan proses penyembelihan sesuai standar syariat dan kesehatan.
Dari sisi kesehatan masyarakat, juru sembelih juga perlu memahami kebersihan alat, sanitasi lokasi penyembelihan, serta penanganan daging agar tetap higienis dan aman dikonsumsi. Hal ini penting terutama pada penyembelihan massal saat Iduladha.
Baca Juga: Apakah Hewan Kurban Harus Jantan? Begini Penjelasan Islam dan Ilmu Kesehatan
Islam mengajarkan bahwa kasih sayang tidak hanya ditujukan kepada manusia, tetapi juga kepada hewan. Rasulullah Saw. bahkan memperingatkan umatnya agar tidak menyiksa hewan dalam kondisi apa pun.
Karena itu, menjadi juru sembelih hewan kurban bukan sekadar pekerjaan musiman, melainkan amanah ibadah yang membutuhkan ilmu, keterampilan, dan akhlak yang baik.
Dengan memahami syarat dan etika penyembelihan sesuai syariat, pelaksanaan kurban tidak hanya sah secara agama, tetapi juga mencerminkan nilai kemanusiaan dan kasih sayang yang diajarkan Islam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Dulu Minta Gibran Diganti, Kini Syahganda Bilang Sikapnya Berubah: Sekarang Saya di Pemerintahan
- 2Pengurus PCNU Serahkan Bukti dan Kembalikan Uang Risywah Muktamar ke KPK
- 3Jokowi Muncul di Kertanegara, Prabowo Pergi Tak Lama Setelah Pertemuan
- 4Daftar 26 Produk Indonesia yang Disebut Diboikot di Malaysia Usai FIFA ASEAN Cup 2026
- 5Digempur Bertubi-tubi oleh Iran dan Kehabisan Amunisi, Tentara AS Tinggalkan Camp Buehring di Kuwait
- 6Setelah Timnas Indonesia yang Semakin 'Belanda' Juara, Masih Pantaskah Mempersoalkan Naturalisasi?
- 7Jadwal Persib Hari Ini vs Port FC, Cek Jam Tayang dan Live Streaming
- 8Di Balik Sukses Emil Audero di Final, Ada Rasa Cemas yang Dirasakan Sang Ayah
- 9Prabowo Instruksikan Percepatan Pembangunan 100 Kampung Nelayan, Target Beroperasi Akhir Tahun
- 10Amankan Investasi di Indonesia, Prabowo Anggap Semua Investor Saudara









