Akurat Logo

Lafadz Takbiran Idul Fitri Muhammadiyah dan NU, Sama atau Beda?

Lufaefi | 20 Maret 2026, 08:23 WIB
Lafadz Takbiran Idul Fitri Muhammadiyah dan NU, Sama atau Beda?
Idul Fitri (istimewa)

AKURAT.CO Menjelang Idul Fitri, umat Islam di Indonesia kembali mengumandangkan takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.

Di tengah masyarakat, kerap muncul pertanyaan mengenai perbedaan lafadz takbiran antara Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Apakah keduanya berbeda secara substansi, atau pada dasarnya sama?

Secara umum, baik Muhammadiyah maupun NU merujuk pada dalil yang sama, yakni firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

وَلِتُكۡمِلُواْ ٱلۡعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُواْ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمۡ وَلَعَلَّكُمۡ تَشۡكُرُونَ

Artinya, “Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur.” (QS. Al-Baqarah [2]: 185).

Lafadz Takbir yang Disepakati

Lafadz takbir yang paling pokok dan disepakati para ulama adalah:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ

Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar.

Artinya, “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar.”

Lafadz ini menjadi inti takbir yang dibaca oleh seluruh umat Islam, termasuk warga Muhammadiyah dan NU.

Baca Juga: Bacaan Takbiran Idul Fitri dalam Bahasa Arab, Latin, dan Artinya

Praktik yang Umum di Muhammadiyah

Di lingkungan Muhammadiyah, bacaan takbir biasanya dibaca secara sederhana dan merujuk pada riwayat yang sahih, seperti:

اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ اللهُ أَكْبَرُ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اللهُ أَكْبَرُ وَلِلّٰهِ الْحَمْدُ

Allāhu akbar, Allāhu akbar, Allāhu akbar. Lā ilāha illallāhu wallāhu akbar. Allāhu akbar wa lillāhil hamdu.

Artinya, “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Allah Maha Besar. Tiada tuhan selain Allah. Allah Maha Besar. Segala puji bagi-Nya.”

Praktik yang Umum di NU

Sementara itu, di kalangan NU, selain membaca lafadz pokok di atas, sering ditambahkan dzikir yang lebih panjang sebagaimana riwayat dari Imam Muslim tentang dzikir Rasulullah SAW:

اللهُ أَكْبَرُ كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ الِلّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلًا لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَلَا نَعْبُدُ إِلَّا إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْ كَرِهَ الكَافِرُوْنَ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الاَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلٰهَ إِلَّا اللهُ وَاللهُ اَكْبَرُ

Artinya, “Allah Maha Besar dengan sebesar-besarnya. Segala puji yang banyak bagi Allah. Maha suci Allah pagi dan sore. Tiada tuhan selain Allah. Kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya dengan memurnikan agama bagi-Nya meskipun orang kafir membencinya. Tiada tuhan selain Allah Yang Maha Esa, yang menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, dan menghancurkan pasukan musuh sendirian. Tiada tuhan selain Allah. Allah Maha Besar.”

Sama dalam Substansi, Berbeda dalam Kebiasaan

Secara substansi, tidak terdapat perbedaan mendasar antara takbiran Muhammadiyah dan NU. Keduanya sama-sama membaca lafadz takbir yang bersumber dari hadis dan praktik para ulama. Perbedaan yang tampak lebih pada panjang-pendeknya bacaan atau tambahan dzikir yang dilafalkan.

Baca Juga: Sholat Idul Fitri Terlambat Datang? Begini Cara Menambah Rakaat yang Sesuai Syariat Islam

Dengan demikian, perbedaan tersebut bersifat furu’iyah (cabang), bukan pada pokok ajaran. Umat Islam diharapkan tetap menjaga ukhuwah dan tidak memperdebatkan perbedaan yang sifatnya teknis, karena tujuan utama takbiran adalah mengagungkan Allah SWT dan mensyukuri nikmat Idul Fitri.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi