Ini Arti Telinga Kiri Berdenging Menurut Islam

AKURAT.CO Fenomena telinga berdenging sering dialami oleh banyak orang dalam keseharian. Sebagian masyarakat mengaitkannya dengan mitos atau pertanda tertentu, misalnya ada orang yang sedang membicarakan kita di tempat lain. Namun, bagaimana pandangan Islam mengenai telinga kiri berdenging?
Dalam tradisi Islam, fenomena seperti telinga berdenging tidak disebutkan secara khusus dalam Al-Qur’an maupun hadis Nabi Muhammad saw. Tidak ada riwayat yang sahih yang menjelaskan bahwa telinga kiri berdenging memiliki makna tertentu, baik sebagai pertanda baik maupun pertanda buruk.
Oleh karena itu, menisbatkan makna khusus pada telinga kiri berdenging sebenarnya tidak memiliki dasar kuat dalam ajaran Islam.
Al-Qur’an mengingatkan bahwa segala sesuatu yang terjadi pada manusia adalah bagian dari ketentuan Allah. Firman Allah dalam surah Al-Hadid ayat 22 menyebutkan:
مَا أَصَابَ مِنْ مُصِيبَةٍ فِي الْأَرْضِ وَلَا فِي أَنْفُسِكُمْ إِلَّا فِي كِتَابٍ مِنْ قَبْلِ أَنْ نَبْرَأَهَا ۚ إِنَّ ذَٰلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرٌ
"Tiada suatu musibah pun yang menimpa di bumi dan pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami mewujudkannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah." (QS. Al-Hadid: 22).
Baca Juga: 5 Peristiwa Demo Besar dalam Sejarah Islam
Ayat ini menegaskan bahwa segala kejadian, termasuk hal kecil seperti telinga berdenging, berada dalam ketentuan Allah. Islam mengajarkan agar umatnya tidak terjebak pada prasangka, mitos, atau keyakinan tanpa dalil. Sebaliknya, setiap peristiwa hendaknya dikembalikan pada hikmah dan takdir Allah.
Sebagian ulama menafsirkan bahwa jika seseorang mengalami hal seperti telinga berdenging, sebaiknya dijadikan pengingat untuk berdzikir kepada Allah. Nabi Muhammad saw. bersabda:
اذْكُرُوا اللهَ ذِكْرًا كَثِيرًا
“Ingatlah Allah dengan zikir yang banyak.” (HR. Ahmad)
Dengan demikian, ketika telinga kiri berdenging, tidak perlu mencari arti mistis atau firasat tertentu. Yang lebih tepat adalah menjadikannya momentum untuk mengingat Allah, membaca doa, atau bahkan bershalawat kepada Nabi. Dengan begitu, peristiwa kecil ini menjadi ladang pahala dan sarana mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.
Dalam pandangan Islam, keyakinan terhadap mitos yang tidak memiliki landasan syar’i justru dapat menjerumuskan pada sikap tathayyur atau mempercayai pertanda-pertanda tanpa dasar. Rasulullah saw. menegaskan dalam sebuah hadis:
لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ
“Tidak ada penyakit menular yang berdiri sendiri dan tidak ada kesialan karena pertanda.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Baca Juga: Cendekiawan Muslim Sesalkan Sikap Pimpinan Ormas Islam Hari Ini: Tak Berani Menyingkap Sumber Derita
Kesimpulannya, Islam tidak memberikan makna khusus bagi telinga kiri berdenging. Umat Muslim dianjurkan untuk meresponsnya dengan dzikir dan doa, bukan dengan keyakinan yang tidak berdasar.
Sikap ini menunjukkan keteguhan iman dan menjaga diri dari kepercayaan yang bisa melenceng dari ajaran tauhid. Wallahu A'lam.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini

Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Kontak Tembak di Papua Barat Daya, Komandan Operasi OPM Dikabarkan Tewas
- 4Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 5Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 6Prediksi Skor Sabah FK vs Slavia Praha 13 Oktober 2026: Siapa yang Diunggulkan?
- 7Zelensky: Jika Trump dan Putin Menginginkan Pemilu di Ukraina, Syaratnya Gencatan Senjata 60 Hari
- 8Harimau Siberia Tewaskan Pengunjung di Inggris, Berakhir Disuntik Mati?
- 9Kata Gibran Terkait Survei Celios: Kritik Harus Dijawab dengan Kerja Lebih Baik
- 10KPK Jadwalkan Ulang Pemeriksaan Nusron Wahid Pekan Ini







