Berat! Ini 5 Syarat yang Harus Dipenuhi jika Indonesia Ingin Jadi Pusat Budaya Islam Dunia

AKURAT.CO Wacana menjadikan Indonesia sebagai pusat budaya Islam dunia bukan hal main-main.
Dalam pidatonya di Kongres Diaspora Indonesia ke-8 di Ibu Kota Nusantara (IKN), Wakil Menteri Luar Negeri Muhammad Anis Matta menyampaikan harapan besar: Indonesia menjadi episentrum budaya Islam global, dimulai dari diplomasi festival film negara-negara Islam yang akan digelar tahun ini. Tapi apakah cukup dengan festival? Apakah Indonesia memang sudah siap?
Jawabannya: belum. Jalan masih panjang dan syaratnya tidak ringan. Indonesia memang punya modal: populasi Muslim terbesar di dunia, kekayaan budaya Islam lokal yang hidup, serta sejarah Islam yang dinamis.
Tapi untuk naik kelas ke panggung global sebagai pusat budaya Islam, ada lima syarat berat yang mesti dipenuhi. Tanpa ini, wacana tersebut akan jadi sekadar euforia diplomatik tanpa fondasi.
1. Harus Ada Definisi yang Tegas soal "Budaya Islam Indonesia"
Pertama-tama, Indonesia perlu mendefinisikan secara jernih: apa yang dimaksud dengan budaya Islam Indonesia? Apakah itu identik dengan budaya Arab? Atau justru ekspresi lokal seperti gamelan pesantren, hadrah, batik dengan motif kaligrafi, atau sistem pendidikan pondok pesantren?
Saat ini, belum ada konsensus atau kerangka kerja nasional yang mengkurasi dan mengekspor kekayaan budaya Islam Indonesia ke panggung dunia secara strategis. Kita butuh narasi tunggal yang inklusif, bukan malah membiarkan wacana budaya Islam terbagi dalam berbagai tafsir sektarian yang saling menegasikan.
Tanpa kejelasan ini, kita hanya akan menjual citra Islam Indonesia sebagai kemasan tanpa isi yang otentik.
Baca Juga: Kang Dedi Dikritik karena Ubah Nama Rumah Sakit Jadi Welas Asih, Ini Kesalahannya Menurut Islam
2. Butuh Infrastruktur Diplomasi Budaya yang Serius, Bukan Sekadar Event
Festival film negara Islam memang bisa jadi langkah awal. Tapi pusat budaya tak dibangun dari satu-dua kegiatan simbolik. Indonesia harus memiliki lembaga permanen dan strategi diplomasi budaya jangka panjang, seperti Goethe-Institut milik Jerman atau Institut Français milik Prancis.
Lembaga ini bisa menjadi pusat promosi seni Islam Indonesia, pusat pelatihan budaya, bahkan inkubator karya kreatif bernafaskan nilai-nilai Islam Nusantara. Diplomasi budaya bukan urusan seremonial—ia butuh kurator, manajer, pengarsip, penerjemah, hingga seniman dan akademisi yang punya komitmen jangka panjang.
Ketiadaan infrastruktur ini adalah titik lemah Indonesia selama ini. Gagasan besar kerap tidak menemukan kaki untuk berjalan.
3. Perlu Generasi Muda Muslim yang Kreatif dan Melek Budaya
Jangan harap bisa jadi pusat budaya Islam dunia jika generasi mudanya asing dengan budaya Islam sendiri. Realitasnya, saat ini lebih banyak anak muda yang tahu soal anime, K-pop, atau Marvel ketimbang mengenal seni Islam lokal, sejarah Wali Songo, atau makna simbolik wayang dalam dakwah.
Untuk itu, revitalisasi pendidikan budaya Islam perlu dimasukkan dalam kurikulum nasional dan ruang-ruang digital. Bukan hanya lewat buku teks yang kaku, tapi melalui konten yang kreatif: podcast, film pendek, animasi, bahkan game edukatif berbasis sejarah dan estetika Islam.
Kita tak bisa berharap dunia menghargai budaya Islam Indonesia jika kita sendiri gagal memperkenalkannya ke generasi kita.
4. Harus Ada Konsistensi Nilai: Moderasi, Inklusivitas, dan Toleransi
Kalau ingin dipercaya dunia, Indonesia harus menunjukkan bahwa Islam yang dianut dan dikembangkan di sini benar-benar mencerminkan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin. Tidak cukup hanya deklarasi moderasi beragama di atas kertas, tapi harus nyata dalam kehidupan sosial: bebas dari kekerasan simbolik, diskriminasi sektarian, dan eksklusivisme ideologis.
Kasus-kasus intoleransi antarmazhab, pengusiran rumah ibadah, hingga pembubaran diskusi keagamaan di tanah air adalah cacat besar jika Indonesia ingin menjual Islam sebagai kekuatan budaya global. Dunia akan melihat, bukan hanya mendengar.
Kredibilitas budaya dibangun dari konsistensi praktik, bukan retorika.
Baca Juga: Panduan Lengkap Tata Cara Wudhu: Niat, Doa dan Sunahnya agar Salat Diterima
5. Perlu Dukungan dan Kolaborasi Lintas Sektor: Ulama, Seniman, Akademisi, dan Negara
Negara tidak bisa jalan sendiri. Untuk jadi pusat budaya Islam dunia, dibutuhkan orkestrasi kolaboratif antara ulama, seniman, akademisi, pelaku industri kreatif, dan tentu saja diaspora Indonesia di luar negeri.
Ulama bisa menjadi penjaga otentisitas nilai Islam, seniman bertugas menerjemahkan nilai itu ke dalam bentuk yang indah dan bisa dikonsumsi lintas budaya, akademisi menyiapkan wacana dan kerangka pemikiran, sementara negara menjadi fasilitator, bukan dominator.
Ini bukan soal siapa paling berkuasa, tapi siapa bisa bekerja sama. Gagasan Indonesia sebagai pusat budaya Islam dunia memang menarik. Tapi menarik saja tidak cukup.
Tanpa kerja nyata, visi itu hanya akan jadi mimpi diplomasi yang menguap di udara. Indonesia perlu merombak banyak hal, dari dalam hingga keluar, dari akar hingga struktur.
Kalau syarat-syarat ini tidak dipenuhi, jangan heran kalau ide besar itu cuma jadi headline sesaat. Karena pusat budaya bukan sekadar status—ia adalah tanggung jawab peradaban. Dan tanggung jawab itu, berat.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Eks Ketua KY Soroti Putusan MK soal Ijazah Gibran: Tidak Menemukan Bukti Bukan Berarti Terbukti
- 2Kalender Jawa 12 Oktober 2026: Watak Weton Senin Pahing Dikenal Tegas dan Punya Cita-Cita Tinggi
- 3Belajar dari Jepang, Erick Thohir Ingin Timnas Indonesia Punya Dua Skuad Berkualitas
- 4Kalender Jawa 14 Oktober 2026: Rabu Wage Dikenal Punya Watak Teguh dan Penuh Pertimbangan
- 5Aprilia Buang Peluang Emas Meski Kuasai 4 Besar di Mandalika, Marc Marquez Pemenang Sesungguhnya!
- 6Kalender Jawa 15 Oktober 2026: Watak Weton Kamis Kliwon Dikenal Ramah dan Mudah Bergaul
- 7Prediksi Lens vs Sporting CP 13 Oktober 2026: Skor, H2H, dan Susunan Pemain
- 8Kalender Jawa 13 Oktober 2026: Watak Weton Selasa Pon, Setia tetapi Mudah Cemburu
- 9BGN Resmikan 980 Dapur MBG untuk Wilayah 3T
- 10KPK Tetapkan Lima Tersangka OTT BNPB, Adik hingga Orang Kepercayaan Suharyanto Terjerat







