Akurat Logo

Puasa Adalah? Siapa yang Pertama Kali Melakukan Ibadah Puasa?

Fajar Rizky Ramadhan | 1 Maret 2025, 10:30 WIB
Puasa Adalah? Siapa yang Pertama Kali Melakukan Ibadah Puasa?

AKURAT.CO Puasa adalah salah satu bentuk ibadah yang memiliki makna spiritual dan sosial yang mendalam.

Dalam Islam, puasa (shaum) didefinisikan sebagai menahan diri dari segala hal yang membatalkan — seperti makan, minum, dan hubungan suami istri — sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, disertai niat karena Allah SWT.

Namun, esensi puasa tidak hanya sebatas menahan lapar dan dahaga, melainkan juga pengendalian hawa nafsu, penyucian jiwa, dan penguatan ketakwaan. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Ayat ini menunjukkan bahwa puasa bukan hanya menjadi kewajiban umat Islam, tetapi juga telah menjadi praktik ibadah yang dilakukan oleh umat-umat terdahulu. Ini menimbulkan pertanyaan: siapa yang pertama kali melakukan ibadah puasa?

Baca Juga: Jadwal Imsakiyah Buka Puasa 1446 H, Full 1 Bulan

Asal-usul Ibadah Puasa dalam Sejarah

Secara historis dan ilmiah, ibadah puasa tidak hanya dikenal dalam tradisi Islam, tetapi juga dalam berbagai peradaban dan agama kuno.

Puasa telah menjadi bagian dari ritual spiritual di kalangan umat Yahudi, Nasrani, dan bahkan dalam kepercayaan-kepercayaan kuno di Mesir, India, serta Yunani.

Puasa dalam tradisi ini sering kali dilakukan sebagai bentuk penyucian jiwa, penebusan dosa, atau persiapan spiritual sebelum menjalankan tugas-tugas keagamaan.

Dalam tradisi Islam, ulama tafsir mengungkapkan bahwa puasa telah dilakukan oleh para nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. Nabi Adam AS, misalnya, diyakini melakukan puasa sebagai bentuk taubat setelah diturunkan ke bumi.

Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim menyebutkan bahwa Nabi Adam AS berpuasa selama tiga hari setiap bulan, yang kemudian dikenal sebagai Ayyamul Bidh (puasa pada tanggal 13, 14, dan 15 setiap bulan Hijriah).

Nabi Nuh AS juga disebutkan melakukan puasa dalam perjalanannya di atas bahtera sebagai bentuk penghambaan dan doa agar diselamatkan dari bencana banjir besar.

Sementara itu, Nabi Musa AS menjalankan puasa selama empat puluh hari sebelum menerima wahyu berupa Taurat di Gunung Sinai. Dalil mengenai puasa Nabi Musa AS ini disebutkan dalam Al-Qur’an:

وَوَاعَدْنَا مُوسَىٰ ثَلَاثِينَ لَيْلَةً وَأَتْمَمْنَاهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيقَاتُ رَبِّهِ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Artinya: “Dan telah Kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) setelah berlalu tiga puluh malam, dan Kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh malam, maka sempurnalah waktu yang telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam...” (QS. Al-A’raf: 142)

Nabi Isa AS juga dikenal menjalankan puasa, yang dalam tradisi Kristen kemudian berkembang menjadi praktik Lent (masa puasa selama 40 hari) sebagai bentuk refleksi dan persiapan spiritual.

Puasa dalam Konteks Ilmiah dan Sosial

Dari sudut pandang ilmiah, puasa memiliki banyak manfaat bagi kesehatan fisik dan mental.

Penelitian modern menunjukkan bahwa puasa dapat membantu meningkatkan metabolisme, memperbaiki fungsi sel, dan memperpanjang usia. Dalam bidang psikologi, puasa juga terbukti membantu pengendalian emosi, meningkatkan fokus, dan memperkuat ketahanan diri.

Baca Juga: Niat Sholat Tarawih Sendiri 11 Rakaat dan Tata Caranya Lengkap

Secara sosial, puasa mengajarkan nilai solidaritas dan empati. Dengan merasakan lapar dan haus, seseorang diingatkan pada penderitaan mereka yang kurang beruntung, sehingga menumbuhkan semangat berbagi dan kepedulian terhadap sesama.

Kesimpulannya, puasa adalah ibadah universal yang telah dilakukan oleh para nabi dan umat terdahulu sebagai bentuk pengabdian kepada Allah SWT. Dalam Islam, puasa menjadi sarana penyucian jiwa dan peningkatan ketakwaan.

Dengan memahami sejarah dan makna puasa, kita diingatkan bahwa ibadah ini bukan hanya tentang menahan diri dari makan dan minum, tetapi juga tentang pembentukan karakter, pengendalian nafsu, dan penguatan hubungan spiritual dengan Sang Pencipta.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.