Akurat Logo

Kalender Jawa Rabu Pahing 19 Februari 2025, Apa Perspektif Islam?

Fajar Rizky Ramadhan | 19 Februari 2025, 12:00 WIB
Kalender Jawa Rabu Pahing 19 Februari 2025, Apa Perspektif Islam?

AKURAT.CO Kalender Jawa Rabu Pahing 19 Februari 2025 menjadi fokus sebagian orang. Dalam sistem penanggalan Jawa, setiap hari memiliki makna filosofis yang terkait dengan primbon, yaitu kitab warisan leluhur yang digunakan untuk menentukan hari baik, peruntungan, dan karakter seseorang berdasarkan weton kelahirannya.

Salah satu kombinasi yang sering diperhatikan adalah Rabu Pahing. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, Rabu Pahing memiliki makna tertentu yang berkaitan dengan sifat kepemimpinan, kebijaksanaan, dan spiritualitas. Namun, bagaimana Islam memandang sistem penanggalan semacam ini?

Islam sebagai agama yang sempurna memiliki pandangan yang jelas mengenai sistem perhitungan waktu dan penentuan keberkahan suatu hari. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:

اللَّهُ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ مَا خَلَقَ اللَّهُ ذَٰلِكَ إِلَّا بِالْحَقِّ ۚ يُفَصِّلُ الْآيَاتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Artinya: “Allah-lah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia menetapkan tempat-tempat orbitnya agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). Allah tidak menciptakan yang demikian itu melainkan dengan hak (kebenaran). Dia menjelaskan tanda-tanda (kebesaran-Nya) bagi kaum yang mengetahui.” (QS. Yunus: 5)

Baca Juga: Kabur Aja Dulu ke Luar Negeri di Saat Susah Cari Kerja di Negara Sendiri, Apa Hukumnya Menurut Islam?

Ayat ini menegaskan bahwa Allah-lah yang menetapkan sistem perhitungan waktu berdasarkan matahari dan bulan.

Islam mengenal kalender hijriyah yang berbasis peredaran bulan, sementara kalender Jawa adalah perpaduan antara sistem kalender Islam dan budaya Hindu-Budha yang sudah ada sebelumnya.

Dari perspektif Islam, tidak ada hari yang secara intrinsik membawa keberuntungan atau kesialan. Dalam sebuah hadis, Rasulullah ﷺ bersabda:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ وَلَا هَامَةَ وَلَا صَفَرَ

Artinya: “Tidak ada penyakit menular (tanpa izin Allah), tidak ada kesialan karena burung (tiyarah), tidak ada kesialan karena burung hantu, dan tidak ada kesialan di bulan Shafar.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menegaskan bahwa Islam menolak kepercayaan terhadap mitos atau anggapan bahwa suatu hari memiliki sifat membawa sial atau keberuntungan.

Segala sesuatu terjadi atas ketetapan Allah, dan manusia diminta untuk bertawakal serta berusaha dengan sebaik-baiknya.

Namun, dalam Islam dikenal adanya hari-hari yang memiliki keutamaan khusus, seperti hari Jumat yang disebut sebagai sayyidul ayyam (penghulu segala hari), dan malam Lailatul Qadar yang lebih baik dari seribu bulan.

Hal ini bukan berarti hari lain buruk, tetapi ada keistimewaan yang Allah tetapkan dalam rangka meningkatkan ibadah dan ketakwaan manusia.

Oleh karena itu, jika seseorang menggunakan penanggalan Jawa seperti Rabu Pahing hanya sebagai bagian dari budaya tanpa meyakininya memiliki kekuatan gaib atau pengaruh metafisik tertentu, maka hal itu tidak menjadi masalah.

Namun, jika seseorang mempercayai bahwa hari tertentu bisa membawa keberuntungan atau kesialan, maka itu bertentangan dengan tauhid yang murni.

Dalam Al-Qur’an, Allah juga mengingatkan:

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الْأَرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ ۚ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلَّا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلَّا يَخْرُصُونَ

Artinya: “Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah).” (QS. Al-An’am: 116)

Baca Juga: 15 Ucapan pada Poster untuk Menyambut Bulan Ramadhan 2025, Penuh Hikmat dan Semangat Ibadah!

Ayat ini memberikan peringatan agar kita tidak mengikuti kepercayaan yang tidak memiliki dasar yang jelas dalam agama, hanya karena banyak orang melakukannya.

Oleh karena itu, seorang Muslim seharusnya mengutamakan ajaran Islam dalam menilai suatu tradisi, termasuk dalam memahami makna hari dalam kalender Jawa.

Sebagai kesimpulan, Islam tidak melarang penggunaan kalender Jawa selama tidak ada unsur keyakinan mistis yang bertentangan dengan tauhid.

Yang lebih penting adalah bagaimana kita mengisi setiap hari dengan amal saleh, ibadah, dan kebaikan, karena keberkahan suatu hari tidak ditentukan oleh weton, melainkan oleh ketakwaan kita kepada Allah.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.