Hukum Meyakini Kalender Jawa Weton untuk Menentukan Masa Depan

AKURAT.CO Dalam tradisi masyarakat Jawa, kalender weton sering digunakan sebagai pedoman untuk menentukan keberuntungan, jodoh, atau masa depan seseorang.
Weton, yang menggabungkan hari dalam kalender Jawa dan pasaran (Pon, Wage, Kliwon, Legi, Pahing), dianggap memiliki pengaruh terhadap karakter seseorang dan peristiwa di masa depannya.
Namun, bagaimana pandangan Islam terhadap keyakinan semacam ini?
Islam memandang bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan nasib dan masa depan manusia sepenuhnya berada di tangan Allah. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
وَعِنْدَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ
"Dan pada sisi-Nya lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri." (QS. Al-An’am: 59)
Ayat ini menegaskan bahwa pengetahuan tentang hal-hal ghaib, termasuk takdir dan masa depan, adalah hak prerogatif Allah semata. Tidak ada manusia atau metode tertentu yang dapat memastikan apa yang akan terjadi di masa depan.
Selain itu, dalam sebuah hadits shahih, Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ أَتَى عَرَّافًا أَوْ كَاهِنًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
"Barang siapa mendatangi peramal atau dukun, lalu membenarkan apa yang dikatakannya, maka sungguh ia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad." (HR. Ahmad dan Abu Dawud)
Hadits ini menjadi peringatan keras bagi umat Islam untuk menjauhi segala bentuk ramalan atau metode yang mengklaim bisa mengetahui masa depan. Ini termasuk keyakinan terhadap kalender weton jika digunakan untuk menentukan takdir seseorang.
Islam mengajarkan bahwa manusia hanya dapat berusaha dan berdoa, sementara hasilnya diserahkan kepada Allah. Dalam sebuah ayat lain, Allah berfirman:
وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ
"Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam." (QS. At-Takwir: 29)
Keyakinan kepada Allah sebagai satu-satunya penentu masa depan adalah inti dari tauhid. Meyakini bahwa kalender weton memiliki kekuatan untuk menentukan nasib bertentangan dengan prinsip ini dan dapat membawa seseorang kepada kesyirikan.
Di sisi lain, Islam tidak melarang tradisi selama tidak bertentangan dengan akidah. Jika kalender weton digunakan sekadar sebagai budaya atau hiburan tanpa meyakini bahwa ia benar-benar memengaruhi takdir, maka hal itu masih diperbolehkan. Namun, kehati-hatian tetap diperlukan agar tidak terjerumus pada keyakinan yang salah.
Kesimpulannya, meyakini bahwa kalender Jawa weton dapat menentukan masa depan adalah perbuatan yang tidak sesuai dengan ajaran Islam.
Umat Islam harus kembali kepada prinsip tauhid dan meninggalkan segala bentuk keyakinan yang menyimpang. Sebaliknya, kita diajarkan untuk selalu bertawakal kepada Allah dan memohon petunjuk-Nya dalam setiap langkah kehidupan.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Berita Terkait
Berita Terkini
Terpopuler
- 1Denmark Terbuka: Kena Kartu Merah di Semifinal, Fajar/Fikri Minta Peraturan Baru Time Clock Ditinjau Ulang
- 2Dorongan Hak Angket Ijazah Gibran Menguat, Jokowi Mulai Panik?
- 3Tumbang Lawan Lazio, Juventus Mulai Pertimbangkan Depak Luciano Spalletti dan Bidik Antonio Conte
- 4Prediksi Skor Roma vs Genoa 18 Oktober 2026: Giallorossi Diunggulkan
- 5Korlantas Polri Gelar Bakti Sosial Jumat Sedekah di TPS Rawajati Jakarta Selatan, ke Depannya Akan Dilaksanakan Rutin
- 6Kalender Jawa 17 Oktober 2026: Weton Sabtu Pahing Memiliki Semangat Hidup yang Tinggi
- 7BCA dan BI Gelar Kompetisi QRIS di Royal Plaza Surabaya, Libatkan 475 Tenant
- 8Adira Finance Perkuat Ekspansi Daerah Usai Merger Mandala, Bidik Pasar Indonesia Timur
- 9MAKI Desak KPK Cegah Nusron Wahid ke Luar Negeri
- 10Presiden Prabowo Terima Kunjungan Sekjen PBB António Guterres di Hambalang







