AKURAT.CO Dalam tradisi masyarakat Jawa, weton sering kali dijadikan acuan dalam berbagai aspek kehidupan, seperti menentukan hari baik untuk pernikahan, usaha, atau bahkan langkah-langkah penting lainnya.
Weton didasarkan pada kombinasi kalender Jawa yang memadukan sistem penanggalan berdasarkan siklus bulan dan pasaran lima harian Jawa (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon).
Tradisi ini memiliki akar yang kuat dalam kebudayaan Jawa dan diwariskan secara turun-temurun.
Namun, bagi seorang Muslim, muncul pertanyaan mendasar: bolehkah seorang Muslim menggantungkan takdir hidupnya pada perhitungan weton?
Pertanyaan ini perlu dijawab dengan menelaah ajaran Islam melalui Al-Qur'an dan hadis, serta memadukannya dengan kajian budaya.
Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu di alam semesta ini berada di bawah kekuasaan Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dalam surah Al-A'raf ayat 188, Allah berfirman melalui lisan Nabi Muhammad:
قُل لَّا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَّلَا ضَرًّا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ
"Katakanlah (Muhammad): Aku tidak kuasa mendatangkan manfaat maupun menolak mudarat untuk diriku sendiri kecuali apa yang dikehendaki Allah."
Baca Juga: Nonton Squid Game 2 Netflix, Bagaimana yang Sesuai dengan Nilai-Nilai Islam?
Ayat ini menegaskan bahwa manusia tidak memiliki kemampuan untuk mengetahui atau mengatur takdirnya sendiri tanpa kehendak Allah. Segala sesuatu, termasuk keberuntungan dan kesialan, sepenuhnya berada dalam kekuasaan Allah.
Lebih lanjut, Rasulullah ﷺ bersabda dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:
مَنْ أَتَى كَاهِنًا أَوْ عَرَّافًا فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
"Barang siapa mendatangi dukun atau peramal, lalu mempercayai apa yang dikatakannya, maka ia telah kufur terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad."
Hadis ini memberikan peringatan keras kepada umat Islam agar tidak mempercayai ramalan atau prediksi yang tidak berdasar pada wahyu.
Meskipun weton bukanlah praktik perdukunan secara eksplisit, jika seseorang meyakini bahwa weton secara mutlak menentukan nasib baik atau buruk, maka hal tersebut dapat mengarah pada syirik kecil (syirik khafi), yaitu mengaitkan sesuatu selain Allah dengan kekuasaan-Nya.
Islam memandang tradisi seperti weton sebagai bagian dari budaya yang tidak sepenuhnya harus ditolak, selama tidak bertentangan dengan prinsip tauhid. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
"Sesungguhnya amal perbuatan itu tergantung pada niatnya."
Jika seseorang memanfaatkan weton hanya sebagai bagian dari tradisi budaya tanpa meyakini bahwa ia menentukan takdir, maka hal ini dapat dianggap sebagai bentuk kearifan lokal. Namun, jika kepercayaan tersebut menyalahi akidah Islam, maka wajib ditinggalkan.
Sebagai kesimpulan, seorang Muslim tidak boleh menggantungkan takdir hidupnya pada perhitungan weton Jawa.
Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu berada di bawah kekuasaan Allah, dan manusia hanya dituntut untuk berikhtiar serta tawakal kepada-Nya.
Tradisi seperti weton dapat dilestarikan sebagai bagian dari budaya, tetapi harus dipastikan bahwa kepercayaan tersebut tidak bertentangan dengan prinsip tauhid.
Dengan demikian, umat Islam dapat memadukan kearifan lokal dengan ajaran agama tanpa melanggar syariat.









