Akurat Logo

Bolehkah Menentukan Pernikahan Berdasarkan Kalender Jawa Weton?

Fajar Rizky Ramadhan | 18 Desember 2024, 08:00 WIB
Bolehkah Menentukan Pernikahan Berdasarkan Kalender Jawa Weton?

AKURAT.CO Dalam tradisi masyarakat Jawa, weton sering dijadikan acuan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk menentukan waktu pernikahan.

Weton adalah perhitungan hari kelahiran seseorang berdasarkan kalender Jawa yang menggabungkan sistem hari dalam seminggu (Senin hingga Minggu) dengan pasaran (Legi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon).

Tradisi ini dianggap mampu memprediksi kecocokan, keberuntungan, hingga masa depan pasangan yang akan menikah. Namun, bagaimana pandangan Islam terhadap praktik ini?

Islam, sebagai agama yang membawa petunjuk hidup, mengatur segala sesuatu berdasarkan tauhid (keyakinan kepada Allah) dan menjauhi unsur-unsur syirik.

Dalam hal ini, menetapkan waktu atau keberuntungan berdasarkan perhitungan tertentu seperti weton dapat berpotensi bertentangan dengan ajaran Islam.

Allah berfirman dalam Surah Al-A’raf ayat 33:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ ٱلْفَوَٰحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَٱلْإِثْمَ وَٱلْبَغْيَ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَأَن تُشْرِكُواْ بِٱللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِۦ سُلْطَٰنًۭا وَأَن تَقُولُواْ عَلَى ٱللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya: “Katakanlah: Sesungguhnya Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak maupun yang tersembunyi, perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan keterangan tentang itu, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

Baca Juga: Kalender Jawa Weton 18 Desember 2024 Rabu Wage Disebut Pintar Memberi Nasihat, Bolehkah Meyakini Hal Demikian dalam Islam?

Ayat ini menegaskan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan keyakinan harus didasarkan pada dalil yang jelas dari Allah dan Rasul-Nya.

Mengaitkan keberhasilan pernikahan dengan weton, tanpa dalil dari Al-Qur’an atau hadis, berpotensi masuk dalam kategori syirik kecil (syirik asghar) jika dianggap hanya sebagai tradisi semata, atau bahkan syirik besar (syirik akbar) jika diyakini sepenuhnya menentukan takdir.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga memperingatkan umatnya agar tidak terjebak pada kepercayaan yang mencampuradukkan agama dengan tradisi yang tidak memiliki dasar syar’i. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَيْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلَاةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً

Artinya: “Barang siapa yang mendatangi peramal (atau dukun) lalu bertanya kepadanya tentang sesuatu, maka tidak akan diterima shalatnya selama empat puluh malam.”

Hadis ini menunjukkan bahwa Islam sangat menjaga umatnya dari berbagai bentuk keyakinan yang tidak berlandaskan wahyu.

Meskipun weton mungkin tidak seutuhnya sama dengan praktik perdukunan, mengandalkan perhitungan semacam itu untuk menentukan waktu pernikahan dapat membuka pintu menuju keyakinan yang salah.

Baca Juga: Viral Komunitas Motor CB Makan hingga Tiduran di Minimarket, Apa Respons Islam atas Kejadian Ini?

Namun, Islam tidak melarang tradisi atau adat selama tidak bertentangan dengan syariat. Jika perhitungan weton hanya digunakan sebatas budaya atau tradisi tanpa diyakini sebagai penentu nasib, dan tetap bertumpu pada keyakinan bahwa segala sesuatu berada di tangan Allah, maka hal ini tidak menjadi masalah.

Allah berfirman dalam Surah At-Tawbah ayat 51:

قُل لَّن يُصِيبَنَآ إِلَّا مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَنَا هُوَ مَوْلَىٰنَا ۚ وَعَلَى ٱللَّهِ فَلْيَتَوَكَّلِ ٱلْمُؤْمِنُونَ

Artinya: “Katakanlah: Tidak akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami. Dialah pelindung kami, dan hanya kepada Allah orang-orang yang beriman harus bertawakal.”

Ayat ini mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam kehidupan, termasuk keberhasilan pernikahan, sepenuhnya berada di bawah kehendak Allah.

Seorang Muslim seharusnya bertawakal kepada Allah setelah berusaha dan berdoa, bukan menggantungkan diri pada perhitungan-perhitungan yang tidak memiliki dasar agama.

Sebagai kesimpulan, menentukan waktu pernikahan berdasarkan kalender Jawa weton tidaklah dianjurkan dalam Islam jika disertai keyakinan bahwa weton menentukan nasib atau keberuntungan.

Namun, jika hanya sebatas tradisi tanpa keyakinan khusus, maka hal ini bisa ditoleransi.

Seorang Muslim hendaknya mengutamakan panduan syariat dalam setiap aspek kehidupannya dan selalu berdoa kepada Allah agar diberikan kemudahan serta keberkahan dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.