AKURAT.CO Keraton Yogyakarta, sebuah simbol kebudayaan dan sejarah, memiliki banyak cerita menarik yang mengelilinginya.
Salah satu tradisi yang terkenal adalah "Mubeng Beteng", yang secara harfiah berarti "mengelilingi benteng".
Tradisi ini bukan hanya sekedar berjalan mengelilingi benteng, tetapi juga memiliki makna spiritual dan sejarah yang dalam.
Asal-Usul Mubeng Beteng
Mubeng Beteng dimulai sebagai bagian dari ritual spiritual di Keraton Yogyakarta. Tradisi ini dipercayai membawa berkah dan ketenangan batin bagi mereka yang melakukannya. Masyarakat Jawa pada umumnya percaya bahwa dengan berjalan mengelilingi benteng keraton, seseorang bisa mendapatkan perlindungan dan keberuntungan.
Baca Juga: Apakah Meninggal di Malam 1 Suro Akan Disiksa di Dalam Kubur?
Benteng Keraton Yogyakarta
Benteng Keraton Yogyakarta, atau yang sering disebut dengan Beteng Baluwarti, dibangun pada tahun 1785 oleh Sri Sultan Hamengkubuwono I. Benteng ini memiliki panjang sekitar 5 kilometer yang mengelilingi area keraton, dengan tinggi sekitar 3-4 meter. Benteng ini dirancang tidak hanya sebagai pertahanan fisik, tetapi juga sebagai simbol kekuatan dan kedaulatan Keraton Yogyakarta.
Sejarah Mubeng Beteng
Mubeng Beteng telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Yogyakarta sejak zaman dahulu. Pada masa pemerintahan kolonial Belanda, tradisi ini tetap dijaga meskipun dengan pengawasan ketat. Mubeng Beteng juga menjadi simbol perlawanan spiritual terhadap penjajah, di mana masyarakat menunjukkan kebulatan tekad mereka untuk mempertahankan budaya dan tradisi lokal.
Pada masa kemerdekaan, Mubeng Beteng semakin populer dan sering diadakan dalam rangka memperingati hari-hari besar, seperti ulang tahun Keraton Yogyakarta dan Hari Kemerdekaan Indonesia. Tradisi ini juga sering dilakukan pada malam satu Suro, sebagai bagian dari ritual Tahun Baru Jawa.
Makna dan Filosofi
Mubeng Beteng bukan sekadar berjalan mengelilingi benteng, tetapi juga memiliki makna filosofis yang mendalam. Benteng melambangkan perlindungan dan keamanan, sementara berjalan mengelilinginya melambangkan perjalanan hidup manusia yang penuh liku-liku. Dengan berjalan dalam diam dan refleksi, para peserta diharapkan dapat merenungkan kehidupan mereka, mencari kedamaian batin, dan memperkuat ikatan spiritual dengan Tuhan dan sesama.
Baca Juga: Apakah Benar Orang yang Meninggal di Malam 1 Suro Terkena Nasib Buruk atau Dinamakan Sengkolo?
Pelaksanaan Mubeng Beteng
Mubeng Beteng biasanya dimulai pada malam hari, terutama saat bulan purnama atau pada malam satu Suro. Para peserta berkumpul di alun-alun utara dan mulai berjalan mengelilingi benteng dalam diam. Selama perjalanan, mereka tidak diperbolehkan berbicara atau melakukan aktivitas lain yang mengganggu konsentrasi. Ini adalah saat untuk merenung dan bermeditasi, mencari makna hidup dan memperkuat hubungan dengan Yang Maha Kuasa.
Mubeng Beteng Keraton Yogyakarta adalah tradisi yang kaya akan nilai sejarah dan spiritual. Lebih dari sekadar ritual, Mubeng Beteng mengajarkan kita tentang pentingnya refleksi diri, kesabaran, dan ketekunan dalam menjalani kehidupan. Bagi masyarakat Yogyakarta, tradisi ini adalah warisan budaya yang harus dijaga dan dilestarikan, sebagai bagian dari identitas dan kekayaan sejarah mereka.