Akurat

3 Ayat Al-Quran Yang Dapat Menginspirasi Hidup

| 4 April 2023, 13:27 WIB
3 Ayat Al-Quran Yang Dapat Menginspirasi Hidup

AKURAT.CO Ramadan adalah bulan biasa di mana tidak hanya diturunkannya Al-Quran kepada Nabi Muhammad SAW, tetapi Ramadan juga merupakan waktu terbaik bagi umat Islam untuk kembali memperbaiki diri dan mengembangkan hubungan kita kepada Allah SWT melalui kitab pedoman hidup kita yakni Al-Quran.

Melalui mendengarkannya dalam doa bersama dan tarawih malam, atau bahkan mengatur jadwal harian untuk membaca sendiri bagian-bagian pribadi, ada banyak cara agar kita dapat bertumbuh dalam pemahaman kita dan menjadi lebih dekat dengan Al-Quran.

Sebagai seorang Muslim, sudah pasti bahwa Al-Quran juga merupakan sumber pengobat hati dan refleksi diri yang penting. Setiap kali kita membuka Al-Quran, sesuatu petunjuk pasti muncul dengan sendirinya, baik saat kita lagi bahagia senang atas keseharian kita maupun tidak peduli betapa sulit atau stresnya hari itu. Allah SWT selalu memberikan petunjuk kepada kita melalui ayat-ayat yang tepat yang harus kita pahami dan pelajari. Hal seperti itu tak jarang kita sebagai umat muslim temui di kehidupan kita.

Dilansir dari laman aboutislam.net, Berikut adalah tiga ayat Al-Quran yang dapat mengispirasi hidup:

1- Dunia Lebih Besar dari yang Kita Pikirkan.

اِنَّ الَّذِيْنَ تَوَفّٰىهُمُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ ظَالِمِيْٓ اَنْفُسِهِمْ قَالُوْا فِيْمَ كُنْتُمْ ۗ قَالُوْا كُنَّا مُسْتَضْعَفِيْنَ فِى الْاَرْضِۗ قَالُوْٓا اَلَمْ تَكُنْ اَرْضُ اللّٰهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوْا فِيْهَا ۗ فَاُولٰۤىِٕكَ مَأْوٰىهُمْ جَهَنَّمُ ۗ وَسَاۤءَتْ مَصِيْرًاۙ

Artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang dicabut nyawanya oleh malaikat dalam keadaan menzalimi dirinya, mereka (malaikat) bertanya, “Bagaimana kamu ini?” Mereka menjawab, “Kami adalah orang-orang yang tertindas di bumi (Makkah).” Mereka (malaikat) bertanya, “Bukankah bumi Allah itu luas sehingga kamu dapat berhijrah di sana?” Maka, tempat mereka itu (neraka) Jahanam dan itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. An-Nisaa: 97).

Ayat ini sepertinya selalu mengemuka saat kita merasa hidup kita sedang menuju jalan buntu. Kita baru saja kehilangan pekerjaan atau gagal dalam ujian, sedang menghadapi masalah keluarga atau kita baru menyadari bahwa impian yang kita kerjakan selama berbulan-bulan baru saja runtuh. Inilah saat-saat di mana kita semua berada pada titik terendah dan membutuhkan inspirasi.

Tidak sedikit para muslim pasti selalu gelisah saat ingin keluar dari pekerjaan yang sudah dijalanin bertahun-tahun tapi takut ketika sudah keluar dia tidak mendapatkan pekerjaan lain yang menerimanya. Di sinilah ayat di atas menunjukkan kepada kita bahwa ada dunia yang lebih luas dari yang kita tahu. Ada berbagai negara, masyarakat, dan budaya untuk dijelajahi. Demikian juga, ada bidang pekerjaan lain dan selalu ada peluang baru yang menunggu di tikungan.

Ingatlah bahwa ciptaan Tuhan cukup luas untuk kita semu dan meskipun kita mungkin merasa tidak pada tempatnya atau berada dalam momen yang buruk saat ini, kita harus tetap melihat ke depan dan biarkan Tuhan menunjukkan jalan menuju keadaan yang lebih baik.

2- Menjadi Pribadi yang Terbiasa Meminta Maaf dan Memaafkan.

وَسَارِعُوْٓا اِلٰى مَغْفِرَةٍ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمٰوٰتُ وَالْاَرْضُۙ اُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِيْنَۙالَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ فِى السَّرَّۤاءِ وَالضَّرَّۤاءِ وَالْكٰظِمِيْنَ الْغَيْظَ وَالْعَافِيْنَ عَنِ النَّاسِۗ وَاللّٰهُ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَۚ

Artinya: “Bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga (yang) luasnya (seperti) langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang selalu berinfak, baik di waktu lapang maupun sempit, orang-orang yang mengendalikan kemurkaannya, dan orang-orang yang memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Ali-Imran: 133-134).

Berurusan dengan semua jenis orang kita pasti pernah mengalami yang namanya ketidaksepakatan dalam suatu hal. Ketidaksepakatan itu terkadang merupakan sesuatu yang sederhana, dan di lain waktu bisa berkembang menjadi konflik yang mendalam dengan efek jangka panjang pada kehidupan orang yang terlibat. Kita akan terluka dan, tidak diragukan lagi, kita akan berakhir dengan menyakiti orang lain.

Adanya ayat ini mengajarkan dan menyuruhku kita agar mengendalikan amarah kita, bersabar dan memikirkan secara kepala dingin bahwa Allah lebih menyukai sikap kita yang baik kepada sesame, menyegerakan untuk meminta maaf merupakan bukti hamba yang dicintai oleh Allah.

Kunci dari kedua ayat ini yang dapat kita pegang sebagai inspirasi adalah bahwa mendahului dalam meminta maaf ataupun memaafkan merupakan hal terpuji yang paling dicintai oleh Allah SWt. Mereka yang benar adalah mereka yang “mengampuni semua orang”, bukan mereka yang menunggu pihak lain untuk mengampuni.

Bahkan ketika berurusan dengan Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang, kita tetap harus memulai dengan meminta pengampunan. Hanya dengan begitu, kita telah membuktikan bahwa kita menunaikan perintah Allah lewat ayat di atas dengan bersegera menuju pengampunan dari Allah, memperbaiki diri, meminta maaf terlebih dahulu,  memaafkan orang lain , dan menahan amarah kita, maka dengan itu  kita akan dicintai oleh Allah dan di bawa ke dalam surgaNya.

3- Mengingat Tujuan Kita Hidup.

فَاَيْنَ تَذْهَبُوْنَۗاِنْ هُوَ اِلَّا ذِكْرٌ لِّلْعٰلَمِيْنَۙلِمَنْ شَاۤءَ مِنْكُمْ اَنْ يَّسْتَقِيْمَۗوَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ

Jadi kemana kamu pergi? Sesungguhnya (Al-Qur’an) itu tidak lain, kecuali peringatan bagi semesta alam, (yaitu) bagi siapa di antaramu yang hendak menempuh jalan yang lurus. Kamu tidak dapat berkehendak, kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam. (QS. At-Takwi: 26-29).

Ayat-ayat ini dan terutama yang pertama “kemana kamu pergi” selaras dengan gambaran betapa sibuknya dunia di sekitar kita. Dalam hidup kita hari ini , kita terus-menerus mengejar uang, kesempatan yang lebih baik, dan melupakan tujuan kita yang sebenarnya yakni untuk beribadah kepada Allah SWT dengan benar-benar memperbaiki diri kita sendiri serta bermanfaat bagi dunia di sekitar kita.

Kita lupa bahwa, seperti yang dikatakan Al-Quran dalam ayat penting lainnya, ini semua hanyalah dekorasi:

اَلْمَالُ وَالْبَنُوْنَ زِيْنَةُ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۚ وَالْبٰقِيٰتُ الصّٰلِحٰتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَّخَيْرٌ اَمَلًا

Artinya: “Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sedangkan amal kebajikan yang abadi (pahalanya)448) adalah lebih baik balasannya di sisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan.” (QS. Al-Kahfi: 46).

Ketika keadaan menjadi sulit dalam hidup, kita sering melihat barang-barang materi ini sebagai sumber utama kebahagiaan dan apa yang kita perjuangkan. Maka dari itu Allah mengingatkan dengan mengatakan Kemana kamu pergi? Apakah hal-hal ini penting? Mengapa kita begitu peduli dengan hal-hal yang dapat hilang dengan begitu mudahnya, sementara terus menerus mengabaikan kehadiran Tuhan?

Terakhir, saat kita mencoba lari dari masalah kita; ketika kita mengabaikan takdir kita, dan mengingkari kebenaran bahwa segala sesuatu ada di tangan Tuhan, kita meletakkan kembali materi di depan pikiran kita dan sekali lagi melupakan arti dari ayat-ayat di atas.

Tidak ada yang luput dari otoritas, kemampuan, atau kuasa Tuhan.

Bukan berarti kita terjebak dan tidak punya kendali atas hidup kita sendiri, tapi justru mengingatkan bahwa; kapan pun kita merasa bahwa kita atau peristiwa-peristiwa dalam hidup kita sedang tersesat, Allah SWT tetap ada bersama kita.

Melalui ini dan ayat-ayat lain yang disebutkan di atas, Al-Quran yang telah ada dan diturunkan berabad-abad lalu terus menginspirasi dan membimbing umat Islam di seluruh dunia. []

 

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.