Akurat

Hukum Meminta Maaf kepada Orang Terdekat sebelum Bulan Puasa Ramadhan

Lufaefi | 16 Februari 2026, 13:08 WIB
Hukum Meminta Maaf kepada Orang Terdekat sebelum Bulan Puasa Ramadhan

AKURAT.CO Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan, umat Islam di berbagai daerah memiliki tradisi saling bermaafan dengan keluarga, sahabat, dan orang-orang terdekat. Tradisi ini sering dilakukan dalam rangka menyucikan hati sebelum memasuki bulan ibadah. Lalu, bagaimana sebenarnya hukum meminta maaf sebelum Ramadhan? Apakah ia wajib, sunnah, atau sekadar tradisi sosial?

Secara prinsip, Islam sangat menekankan pentingnya menjaga hubungan antarsesama (ḥabl min an-nās) dan membersihkan diri dari dosa, baik kepada Allah maupun kepada manusia. Ramadhan sebagai bulan penuh ampunan tentu menjadi momentum terbaik untuk memperbaiki relasi yang rusak dan melunasi kesalahan yang pernah terjadi.

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَصُوحًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang sebenar-benarnya.” (QS. At-Tahrim: 8)

Ayat ini menegaskan bahwa taubat merupakan kewajiban setiap Muslim. Namun, dalam konteks kesalahan terhadap sesama manusia, taubat tidak cukup hanya dengan istighfar. Diperlukan penyelesaian langsung kepada pihak yang dirugikan.

Baca Juga: Ramadhan 2026 Jatuh 18 atau 19 Februari? Ini Penjelasan Versi Muhammadiyah, NU, dan Pemerintah

Dalam sebuah hadis sahih, Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ كَانَتْ لَهُ مَظْلِمَةٌ لِأَخِيهِ مِنْ عِرْضِهِ أَوْ شَيْءٍ فَلْيَتَحَلَّلْهُ مِنْهُ الْيَوْمَ قَبْلَ أَنْ لَا يَكُونَ دِينَارٌ وَلَا دِرْهَمٌ

“Barang siapa memiliki kezaliman terhadap saudaranya, baik menyangkut kehormatan atau sesuatu yang lain, hendaklah ia meminta halal darinya hari ini, sebelum datang hari yang tidak ada lagi dinar dan dirham.” (HR. Muhammad al-Bukhari)

Hadis ini menunjukkan bahwa meminta maaf dan menyelesaikan hak sesama manusia adalah kewajiban jika memang ada kesalahan yang dilakukan. Artinya, bila seseorang pernah menyakiti, memfitnah, mengambil hak, atau berlaku zalim kepada orang lain, maka ia wajib meminta maaf dan mengembalikan hak tersebut, tanpa harus menunggu Ramadhan.

Adapun jika tidak ada kesalahan khusus, maka meminta maaf sebelum Ramadhan hukumnya sunnah dan termasuk perbuatan baik yang dianjurkan. Ia menjadi bentuk ihtiyāṭ (kehati-hatian) dan upaya membersihkan hati agar ibadah puasa dijalani dengan jiwa yang lapang.

Dalam hadis lain, Rasulullah SAW bersabda:

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ، فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لَا يُشْرِكُ بِاللَّهِ شَيْئًا، إِلَّا رَجُلًا كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ

“Pintu-pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka diampuni setiap hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun, kecuali seorang yang antara dirinya dan saudaranya terdapat permusuhan.” (HR. Muslim ibn al-Hajjaj)

Hadis ini memperlihatkan bahwa permusuhan dan kebencian dapat menghalangi turunnya ampunan Allah. Maka, menjelang Ramadhan—bulan penuh rahmat dan maghfirah—membersihkan hati dari dendam dan konflik menjadi sangat relevan.

Dengan demikian, hukum meminta maaf kepada orang terdekat sebelum Ramadhan dapat dirinci sebagai berikut: jika ada kesalahan nyata yang merugikan orang lain, maka hukumnya wajib untuk meminta maaf dan menyelesaikan hak tersebut. Jika tidak ada kesalahan khusus, maka hukumnya sunnah dan sangat dianjurkan sebagai bagian dari persiapan spiritual menyambut bulan suci.

Baca Juga: Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa Ramadan 2026, Ini Tanggal 1 Ramadan dan Idul Fitri 1447 H

Tradisi saling bermaafan menjelang Ramadhan bukan sekadar budaya, tetapi memiliki landasan kuat dalam ajaran Islam tentang taubat, ukhuwah, dan penyucian hati. Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperbaiki hubungan dengan Allah dan sesama manusia.

Maka, sebelum memasuki bulan yang mulia, tidak ada salahnya kita membuka pintu maaf, menundukkan ego, dan mempererat kembali tali silaturahmi. Sebab hati yang bersih akan membuat ibadah lebih khusyuk, dan Ramadhan lebih bermakna.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Lufaefi
Reporter
Lufaefi
Lufaefi
Editor
Lufaefi