Akurat

Naskah Khutbah Jum’at: Cara Islami Memuliakan Bulan Rajab

Fajar Rizky Ramadhan | 9 Januari 2026, 07:07 WIB
Naskah Khutbah Jum’at: Cara Islami Memuliakan Bulan Rajab

AKURAT.CO Berikut adalah naskah khutbah Jum'at dengan judul Cara Islam Memuliakan Bulan Rajab.

Khutbah Pertama

Alhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn. Nahmaduhū wa nasta‘īnuhū wa nastaghfiruhū, wa na‘ūdzu billāhi min syurūri anfusinā wa min sayyiāti a‘mālinā. Man yahdihillāhu falā mudhilla lah, wa man yudhlil falā hādiya lah.

Asyhadu allā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhū wa rasūluh. Allāhumma shalli wa sallim wa bārik ‘alā sayyidinā Muhammad, wa ‘alā ālihi wa ashābih, wa man tabi‘ahum bi ihsān ilā yaumiddīn.

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,

Aku wasiatkan kepada diri khatib pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan menjalankan seluruh perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Ketakwaan itulah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan dunia dan penentu keselamatan di akhirat kelak.

Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,

Kita saat ini berada di bulan Rajab, salah satu bulan yang memiliki kedudukan istimewa dalam Islam. Rajab bukan sekadar nama bulan dalam kalender hijriah, melainkan bagian dari empat bulan haram yang dimuliakan Allah Swt. sejak penciptaan langit dan bumi.

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ

Artinya:
“Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah ada dua belas bulan dalam ketetapan Allah sejak Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Maka janganlah kalian menzalimi diri kalian pada bulan-bulan itu.” (QS. At-Taubah: 36)

Dalam hadis sahih, Rasulullah Saw. menjelaskan bahwa empat bulan haram tersebut adalah Dzulqa’dah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Artinya, kemuliaan Rajab bukan hasil tradisi manusia, tetapi ketetapan langsung dari Allah Swt.

Lalu bagaimana cara Islami memuliakan bulan Rajab?

Jamaah sekalian,

Cara pertama memuliakan Rajab adalah dengan meningkatkan kehati-hatian dari dosa dan maksiat. Pada bulan-bulan haram, larangan berbuat zalim dan dosa memiliki penekanan yang lebih kuat. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa dosa di bulan haram lebih berat bobotnya, sebagaimana pahala ketaatan juga dilipatgandakan nilainya.

Baca Juga: Khutbah Jumat 25 Juli 2025: Menjadi Pribadi Terbaik Pasca Muharram

Memuliakan Rajab bukan dengan euforia ritual semata, tetapi dengan menahan lisan dari ghibah, menahan tangan dari kezaliman, menjaga mata dari yang haram, dan membersihkan hati dari dengki serta kebencian.

Cara kedua adalah memperbanyak amal saleh yang bersifat umum. Tidak ada ibadah khusus yang diwajibkan Rasulullah Saw. secara spesifik di bulan Rajab. Namun, seluruh amal kebaikan yang dianjurkan sepanjang tahun memiliki nilai lebih ketika dilakukan di bulan ini, seperti shalat sunnah, sedekah, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak dzikir.

Rasulullah Saw. bersabda:

اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا

Artinya:
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, dan iringilah keburukan dengan kebaikan, niscaya kebaikan itu akan menghapusnya.” (HR. Tirmidzi)

Rajab menjadi momentum yang tepat untuk memperbaiki kualitas ibadah dan akhlak, sebelum kita memasuki bulan Sya’ban dan Ramadhan.

Cara ketiga adalah menjadikan Rajab sebagai bulan refleksi dan persiapan spiritual. Rajab sering disebut oleh para ulama sebagai pintu masuk menuju Ramadhan. Jika Rajab diisi dengan kelalaian, maka Ramadhan pun akan dijalani dengan setengah kesiapan. Namun jika Rajab diisi dengan taubat dan perbaikan diri, maka Ramadhan akan terasa lebih bermakna.

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,

Inilah cara Rasulullah Saw. dan para ulama memuliakan bulan Rajab: dengan menjaga diri dari dosa, memperbanyak amal saleh yang sahih, dan menata ulang orientasi hidup agar lebih dekat kepada Allah Swt.

أقول قولي هذا وأستغفر الله العظيم لي ولكم، فاستغفروه إنه هو الغفور الرحيم.

Khutbah Kedua

Alhamdulillāhi hamdan katsīran thayyiban mubārakan fīh, kamā yuhibbu rabbunā wa yardhāh.
Asyhadu allā ilāha illallāh wahdahū lā syarīka lah, wa asyhadu anna Muhammadan ‘abduhū wa rasūluh. Allāhumma shalli wa sallim ‘alā nabiyyinā Muhammad, wa ‘alā ālihi wa ashābih ajma‘īn.

Ma‘āsyiral muslimīn rahimakumullāh,

Sekali lagi khatib berwasiat kepada diri sendiri dan kepada jamaah sekalian, marilah kita meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. dengan sebenar-benarnya takwa. Ketakwaan bukan hanya tampak dalam ibadah ritual, tetapi juga dalam kejujuran, tanggung jawab, dan kepedulian sosial.

Baca Juga: Bolehkah Menjadikan Istri sebagai IRT? Ini Batasannya dalam Islam

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,

Memuliakan bulan Rajab juga berarti menjaga keseimbangan antara semangat ibadah dan ketepatan tuntunan. Rasulullah Saw. telah mengingatkan umatnya agar tidak mengada-adakan amalan yang tidak memiliki dasar dalam syariat.

Rasulullah Saw. bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

Artinya:
“Barang siapa mengada-adakan dalam urusan agama ini sesuatu yang bukan darinya, maka amalan itu tertolak.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini tidak memadamkan semangat beribadah, tetapi meluruskannya. Islam mengajarkan bahwa ibadah yang sedikit namun sesuai tuntunan lebih dicintai Allah daripada ibadah yang banyak tetapi menyimpang dari sunnah.

Rajab mengajarkan kita untuk memperlambat langkah, merenungi arah hidup, dan menyiapkan diri menghadapi bulan Ramadhan. Ia bukan bulan pesta ritual, tetapi bulan penyadaran spiritual.

Sebelum kita menutup khutbah ini, marilah kita berdoa kepada Allah Swt., semoga Dia memberkahi kita di bulan Rajab, memperbaiki amal-amal kita, dan menyampaikan kita ke bulan Ramadhan dalam keadaan iman dan kesehatan.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ.
اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانَ، وَبَلِّغْنَا رَمَضَانَ، وَأَعِنَّا عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ.

Artinya:
“Ya Allah, ampunilah kaum Muslimin dan Muslimat, Mukminin dan Mukminat, yang hidup maupun yang telah wafat. Ya Allah, berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya’ban, sampaikan kami ke bulan Ramadhan, dan tolonglah kami untuk senantiasa mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan sebaik-baiknya.”

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya:
“Sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil, berbuat kebajikan, dan memberi kepada kerabat, serta melarang perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan.” (QS. An-Nahl: 90)

فاذكروا الله العظيم يذكركم، واشكروه على نعمه يزدكم، ولذكر الله أكبر، والله يعلم ما تصنعون.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.