Viral Tren Mama Muda di TikTok, Ini Respons Islam!

AKURAT.CO Fenomena media sosial terus melahirkan tren baru, dan salah satu yang kini sedang ramai di TikTok adalah tren “Mama Muda”.
Dalam konten-konten yang viral, perempuan muda—seringkali mengenakan daster, sapu di tangan, dan serbet di pundak—menari dengan gaya centil dan riasan mencolok.
Mereka memerankan sosok ibu rumah tangga yang tidak lagi identik dengan kesan lelah dan kusut, melainkan tampil muda, stylish, bahkan menggoda.
Konten-konten ini menuai jutaan tayangan dan komentar. Beberapa warganet menyambutnya sebagai bentuk ekspresi yang lucu dan menyegarkan.
Namun tidak sedikit juga yang mengkritik karena menampilkan citra ibu rumah tangga secara berlebihan dan mengarah pada eksploitasi tubuh serta sensualitas.
Para konten kreator yang mengusung tren ini, seperti Nisa, Aesh, dan Chez, pun makin populer karena konsisten memainkan karakter “Mama Muda” yang dianggap “ngakakable” tapi juga “menantang batas norma”.
Di balik viralitas ini, muncul pertanyaan yang layak direnungkan: bagaimana pandangan Islam terhadap tren semacam ini?
Islam sebagai agama yang menyentuh seluruh aspek kehidupan, termasuk gaya hidup dan ekspresi di ruang publik, tidak tinggal diam melihat perubahan budaya. Dalam Islam, seorang perempuan—terutama yang telah menjadi istri atau ibu—memiliki kehormatan dan peran mulia.
Perannya bukan hanya domestik, tetapi juga sosial dan spiritual. Karena itu, penampilannya di ruang publik harus dijaga agar tidak menimbulkan fitnah atau membuka pintu syahwat bagi yang melihatnya.
Dalam Al-Qur’an, Allah mengingatkan:
“Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya...’” (An-Nur: 31)
Ayat ini bukan semata melarang berhias atau tampil menarik, tetapi menegaskan bahwa ada batas-batas etika yang harus dijaga saat seseorang menampilkan dirinya di hadapan publik, apalagi di dunia maya yang audiensnya luas, tidak terkontrol, dan rentan disalahgunakan.
Sementara dalam hadis, Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa di akhir zaman akan ada perempuan yang berpakaian tapi telanjang, yakni menutupi tubuhnya tapi dengan maksud menggoda atau menampilkan daya tarik seksual. Mereka adalah wanita yang berpakaian tidak sesuai dengan tuntunan syar'i, yang berjalan meliuk-liuk untuk menarik perhatian.
Fenomena “Mama Muda” bisa jatuh ke dalam kategori ini jika tujuan dan ekspresinya diarahkan pada pencarian atensi yang mengandung unsur syahwat. Terlebih, konten tersebut terkadang menyasar audiens pria, menggunakan nada suara genit, dan gerakan tubuh yang menggoda, meskipun dibalut humor.
Namun, bukan berarti Islam melarang perempuan berekspresi atau kreatif di media sosial. Islam justru mengajarkan untuk memanfaatkan media untuk dakwah, pendidikan, dan penyebaran nilai-nilai positif.
Banyak konten kreator Muslimah yang mampu tampil atraktif namun tetap menjaga adab dan akhlak. Kuncinya bukan pada dandanannya atau pakaiannya semata, tetapi pada niat dan cara menyajikannya.
Sayangnya, di era “digital dopamine” seperti sekarang, banyak yang lebih mementingkan viralitas daripada nilai. Tren “Mama Muda” menunjukkan bagaimana algoritma mendorong seseorang untuk mengejar perhatian, walau dengan cara yang bisa menabrak norma agama dan budaya.
Inilah saatnya umat Islam bersikap lebih kritis terhadap tren-tren daring. Tidak semua yang viral harus ditiru, dan tidak semua yang menghibur itu benar.
Baca Juga: Ramai Kasus Selingkuh dengan Teman Sekantor, Hati-Hati Dosa Besar!
Perlu diingat, menjadi ibu rumah tangga itu mulia. Menjadi perempuan yang mandiri dan bahagia itu juga bagian dari kebajikan. Tapi jika “ke-mama-muda-an” direduksi hanya pada dandanan menor dan gaya menggoda demi like dan followers, maka maknanya menjadi dangkal dan menyesatkan.
Islam mengajarkan kesetaraan, bukan eksploitasi; mengajarkan kecantikan, tapi dengan etika. Tren “Mama Muda” seharusnya dijadikan momen untuk refleksi, bukan sekadar hiburan kosong. Kita perlu membangun budaya digital yang sehat, beretika, dan tetap menjunjung marwah perempuan sebagai tiang peradaban.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.









