Akurat Logo

Sejumlah Timwas Haji Usul Evaluasi Menyeluruh hingga Pembentukan Pansus Haji 2025

Fajar Rizky Ramadhan | 11 Juni 2025, 09:00 WIB
Sejumlah Timwas Haji Usul Evaluasi Menyeluruh hingga Pembentukan Pansus Haji 2025

AKURAT.CO Tim Pengawas (Timwas) Haji DPR RI menyoroti banyaknya keluhan jemaah haji Indonesia selama puncak pelaksanaan ibadah haji 2025 di Makkah, Arab Saudi. Sejumlah anggota Timwas mendorong evaluasi menyeluruh hingga pembentukan Panitia Khusus (Pansus) Haji 2025.

Fikri Faqih, anggota Timwas, menyampaikan bahwa keterlambatan transportasi menjadi keluhan utama yang memicu kelelahan dan tekanan psikologis pada jemaah.

“Mereka sudah siap dari hari Rabu pagi, tapi sore belum diangkut, malam belum diangkut, Kamis pagi yang mestinya sudah di Arafah pun belum diangkut juga,” ujarnya.

Situasi ini bahkan berlanjut saat pergerakan dari Muzdalifah ke Mina. Karena bus tak kunjung datang, sejumlah jemaah akhirnya memilih berjalan kaki sejauh 6 hingga 7 kilometer.

“Itu mereka tetap bekerja keras. Bahkan setelah dari Muzdalifah ke Mina, enggak juga dijemput, akhirnya jalan kaki itu 6-7 kilometer. Luar biasa, jalan kaki bersama. Pengorbanan seperti ini mudah-mudahan dinilai oleh Allah SWT sebagai pahala yang luar biasa,” katanya.

Fikri menilai bahwa kesepakatan antara pemerintah Indonesia dan penyedia layanan di Arab Saudi, terutama terkait transportasi, tidak dijalankan dengan baik, sehingga memicu kekacauan di lapangan.

Baca Juga: Kuota Haji 2026 Terancam Dipangkas 50 Persen, BP Haji Lakukan Negosiasi ke Saudi

Senada dengan itu, anggota Timwas lainnya, Muslim Ayub, mengusulkan pembentukan Pansus Haji 2025 untuk menyelidiki berbagai persoalan selama operasional haji, mulai dari katering, akomodasi, hingga transportasi.

“Kami di DPR sebagai pengawas, bertanggung jawab melakukan evaluasi menyeluruh. Rencananya, kami akan mengusulkan pembentukan Pansus Haji di DPR RI,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa banyaknya keluhan dari jemaah Indonesia tak bisa dianggap remeh. “Kalau kita runut dari perjalanan Mekah ke Arafah, Arafah ke Muzdalifah, Muzdalifah ke Mina, banyak kekecewaan dari jemaah yang kami dapatkan,” kata Muslim. Bahkan, beberapa jemaah disebut sempat terlantar dalam kendaraan seharian tanpa kepastian.

Sementara itu, anggota Timwas lainnya, Selly Andriany Gantina, menyoroti kualitas petugas haji yang menurutnya masih belum optimal. Ia mengusulkan agar Badan Penyelenggara (BP) Haji mendirikan lembaga pelatihan khusus bagi petugas haji sebagai bagian dari reformasi menyeluruh menuju 2026.

“Ini catatan yang sangat fatal, apalagi nanti di tahun 2026, penyelenggara haji akan dialihkan ke Badan Penyelenggara Haji. Maka ke depan, harus ada standar pelayanan minimum yang lebih ketat dan profesional,” ujarnya.

Selly mengungkap bahwa sejumlah petugas terlihat hanya menjalankan tugas sebagai ‘aji mumpung’, lebih fokus berhaji daripada melayani jemaah.

“Terlihat di lapangan, banyak petugas yang menjalankan tugas hanya sebagai aji mumpung. Mereka ke Saudi untuk berhaji, bukan fokus melayani jemaah. Padahal, tugas mereka sangat penting,” ucapnya.

Baca Juga: Dugaan Pungli di Safari Wukuf dan Badal Haji, Dahnil Anzar: Kok Tega-teganya Perdaya Orang Tua Kita

Ia menambahkan bahwa sebagian besar petugas hanya mengikuti pelatihan singkat selama tiga hingga lima hari dan bahkan ada yang tiba di Arab Saudi setelah jemaah.

Menurutnya, kelemahan teknis dan disiplin, termasuk keterbatasan kemampuan bahasa Arab dan pemahaman tugas, turut memperburuk pelayanan. Ia juga mendorong penggunaan teknologi seperti geo-tagging dan pelaporan real-time untuk memastikan akuntabilitas petugas di lapangan.

“Kualitas petugas haji akan berdampak langsung terhadap keselamatan dan kenyamanan jamaah,” tegas Selly.

Bagikan:
  • Share to WhatsApp
  • Share to X (Twitter)
  • Share to Facebook

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.